Jum. Agu 7th, 2026

    Oleh Bung Syarif**

    Sahabat yang super, kali ini Carlie Papa Romeo (CPR) mengupas tentang “Al `Afuw”. Secara bahasa Al `Afuw berati Allah Yang Maha Pemaaf, yaitu Allah yang menghapus dosa dan kesalahan hamba-Nya hingga seolah-oleh dosa tersebut tidak pernah ada.

    Makna Al `Afuw mencakup:

    • Allah memaafkan dosa orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh
    • Allah tidak hanya mengampuni, tetapi juga menghapus bekas dosa tersbut.
    • Sifat ini menunjukkan kasih sayang dan rahmat Allah yang sangat luas.

    Salah satu doa yang terkenal yang mengandung nama ini adalah:

    Allahumma innaka `afuwwum tuhibbul `afwa fa`fu `anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai sifat pemaaf, maka maafkanlah aku).

    Doa ini dianjurkan untuk dibaca terutama pada malam-mala terakhir bulan Ramadhan, khususnya  ketika mencari lailatul qadar. Singkatnya Al `Afuw berarti Allah yang maha pemaaf, menghapus dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya.

    Ada tiga nama asmaul husna yang beririsan dengan pengampunan yaitu; Al Ghaffar, Al Ghafur dan Al `Afuw. Ketiga Asmaul Husan tersebut bermakna Allah zat yang maha pengampun, Allah Maha Pemaaf.

    Para ulama memberikan penjelasan yang sungguh luar biasa yang saling bersinergi terkait maha pemaaf dan maha kesempurnaan pengampunan.

    Al Ghaffar, Al Ghafur dan Maghfirah menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa, namun dosa itu masih ada. Mengapa? Karena dosa tersebut hanya ditutupi oleh Allah sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahan-Nya, Allah juga tidak menyiksa seseorang karena dosanya tersebut, tapi dosa itu masih ada. Dosa itu akan dimaafkan, diampuni dan dihapus diperuntukkan bagi Allah al `afuw. Karena dosa sudah dihapus, maka dosa yang sudah dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah ia tida pernah melakukan kesalahan. Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapus sehingga bekasnya juga tidak kelihatan lagi. Dengan demikian mengampuni dengan melebur dosanya lebih istimewa ketimbang memafkan denban sekedar menutupi dosa saja.

    Dalam kontek Al Ghaffar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengampuni segala dosa dari segi kuantitasnya, sedangkan Al Ghafur adalah mengampuni dosa dari segi kualitasnya. Oleh karenanya bagi sesiapa yang sering melalukan kesalahan diharapkan sering-sering menyebut Al Ghaffar agar Allah memaafkan dosanya, sedangkan yang melakukan kesalahan berat atau dosa berat diharapkan segera banyak-banyak menyebut Al Ghafur agar mendapat pengampunan-Nya.

    Namun demikian ada juga ulama yang berpendapat al ghaffar berorientasi preventif pada kepengampunan dosa masa kini dan datang. Sedangkan al ghafur lebih lengkap yaitu Allah mengampuni dosa dari masa lalu, kini hingga masa depan. Sebagaimana firmannya: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutulah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampun dosa-dosamu, Allah maha pengampun lagi maha penyanyang (QS. Ali Imran: 31).

    Di ayat lain Allah mengegaskan bahwa taubat menjadi pintu pengampunan-Nya bagi pada pendosa kafir sekalipun.  Kecuali orang-orang yang taubat, sesuadah (kafir) mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyanyang (QS. Ali Imran: 89).

    Kepunyaan Allah apa yang ada dilangit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki; Dia menyiksa saiapa yang Dia kehendaki, dan Allah maha pengampun lagi maha penyanyang (QS. Ali Imran: 129)

    .Sesungguhnya Allah benar-benar maha pemaaf lagi maha pengampun (QS. Al Hajj: 60)

    Dengan demikian Al `Afuw lebih sempurna kepengampunan Allah dari pada Al Ghafur dan Al Ghaffar. Oleh karenanya saat lailatu qadar, kita dituntun berdoa “ innaka `afuwwun tuhibbul `afwa wa`fu `anny; Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf suka memaafkan hamba-Mu, maka maafkanlah aku”.

    Syahdan, sebagai seorang beriman sudah selayaknya kita mengembangkan akhlak mensyukuri Al `Afuw  dengan hati, lisan dan perbuatan. Oleh karena itu cara terbaik dalam merefleksikan Al `Afuw adalah sebagai berikut;

    Pertama, mensyukuri Al `Afuw dihati dengan menyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah zat maha mengampuni dosa hamba-Nya apalagi bagi hamba-hamba-Nya yang bersegera taubat nasuha. Sebesar apapun dosa dan kesalahan yang  dilakukan hamba-hamba-Nya tetap dirindu-nantikan agar segera bertaubat nasuha kepada-Nya.

    Kedua, mensyukuri Al `Afuw dengan memuji-Nya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil `alamin. Segala dosa kita, baik yang sudah terjadi maupun dosa sekarang dan dosa yang akan datang diampuni oleh Allah, sehingga tetap mulia dan dimuliakan di mata manusia dan mendapat curahan kasih sayang Allah.

    Ketiga, mensyukuri Al `Afuw dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya menjadi pribadi yang suka memberi maaf, baik tidak diminta maupun diminta. Kita tidak mengingat lagi kesalahan orang lain. Disamping itu harus menutupi aib orang lain. Seandainya kita mengetahuinya hanya untuk konsumsi pribadi saja tidak elok diberitahukan kepada publik. Jika kita menutup aib orang lain maka aib kita Insya Allah ditutupi Allah.

    *****Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Direktur Aceh Research Institute, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Wali Santri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef , ICMI Kota Banda Aceh, KAHMI Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, DPP ISAD Aceh  

    By fmla

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *