Oleh Bung Syarif**
Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh bukan sekadar momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Ia telah tumbuh menjadi tradisi keagamaan, sosial, budaya, sekaligus ruang memperkuat kebersamaan masyarakat. Dalam tradisi Aceh, Maulid atau Maulod bahkan berlangsung secara berkesinambungan selama Rabiul Awal, Rabiul Akhir hingga Jumadil Awal.
Di balik semarak zikir, salawat, ceramah dan kenduri, terdapat potensi ekonomi yang sangat besar. Dapur-dapur masyarakat kembali aktif, pedagang bahan pangan meningkat aktivitasnya, peternak dan nelayan mendapatkan pasar, sementara pelaku UMKM kuliner memperoleh kesempatan meningkatkan pendapatannya. Intinya Maulid inheren dengan kebangkitan ekonomi umat di Aceh, peuna rencana bantah? telor, ayam, daging, ikan, cabe, kerupuk, beras hingga daun pisang laris manis.
Maulid sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat
Setiap pelaksanaan kenduri Maulid membutuhkan berbagai kebutuhan, mulai dari beras, daging, ayam, ikan, telur, rempah-rempah, sayuran, buah-buahan hingga daun pisang dan perlengkapan kenduri. Besarnya kebutuhan tersebut menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan banyak pelaku usaha.
Pemerintah Kota Banda Aceh sebelumnya juga pernah menyoroti dampak ekonomi Maulid. Permintaan terhadap berbagai kebutuhan kenduri, termasuk daun pisang, telur, ayam dan daging, dapat meningkat ketika banyak masyarakat menggelar perayaan Maulid.
Artinya, Maulid memiliki multiplier effect. Uang yang dibelanjakan masyarakat tidak berhenti pada satu pedagang, tetapi bergerak dari konsumen kepada pedagang, dari pedagang kepada pemasok, kemudian kepada petani, peternak, nelayan, pengusaha transportasi, hingga pelaku UMKM.
Menghidupkan UMKM dan Produk Lokal
Momentum Maulid seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi berbasis masyarakat. Produk kuliner khas Aceh seperti bu kulah, kuah beulangong, bulukat, berbagai kue tradisional dan makanan khas lainnya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk unggulan.
Bukan hanya makanan. Perajin dalong, usaha katering, penyedia perlengkapan kenduri, jasa dekorasi, percetakan undangan, dokumentasi, transportasi dan berbagai usaha pendukung juga dapat memperoleh manfaat ekonomi.
Karena itu, Maulid dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat “belanja produk Aceh, gunakan jasa orang Aceh, dan kembangkan usaha masyarakat Aceh.”
Dari Kenduri Menuju Ekonomi Kreatif
Potensi Maulid tidak berhenti pada transaksi kebutuhan kenduri. Tradisi ini juga memiliki daya tarik budaya dan wisata. Majelis Adat Aceh menyebut tradisi Maulid Aceh memiliki kekayaan sosial dan kuliner yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Ke depan, pemerintah bersama masyarakat dapat mengembangkan “Festival Maulid Aceh” yang menggabungkan syiar Islam, budaya, kuliner, ekonomi kreatif dan promosi UMKM.
Misalnya dengan menghadirkan bazar produk halal, pameran kuliner tradisional Aceh, lomba hidangan Maulid, festival seni Islami, pameran kerajinan, serta promosi produk UMKM digital.
Dengan demikian, tamu yang datang ke Aceh tidak hanya menghadiri acara keagamaan, tetapi juga mengenal kekayaan budaya dan membeli produk masyarakat lokal yang pada akhirnya hotel-hotel di Banda Aceh bakal penuh yang berefek pada kenaikan pendapat asli daerah.
Ekonomi yang Berlandaskan Keteladanan Rasulullah
Kebangkitan ekonomi melalui Maulid tentu tidak boleh menjadikan perayaan kehilangan nilai spiritualnya. Justru semangat ekonomi harus mengambil inspirasi dari keteladanan Rasulullah SAW dalam berdagang: kejujuran, amanah, keadilan dan tidak merugikan orang lain.
Kementerian Agama Aceh juga pernah mengangkat pentingnya mempelajari sisi kewirausahaan Rasulullah SAW dalam momentum Maulid, sehingga peringatan Maulid tidak hanya berbicara tentang sejarah kelahiran Nabi, tetapi juga mengambil pelajaran dari kiprah beliau sebagai pedagang.
Maka, kebangkitan ekonomi Aceh harus dibangun dengan akhlak. Keuntungan penting, tetapi kejujuran lebih penting. Pertumbuhan usaha diperlukan, tetapi keberkahan harus menjadi tujuan.
Maulid untuk Mengurangi Kemiskinan
Nilai sosial Maulid juga sangat kuat. Tradisi kenduri di Aceh selama ini tidak terlepas dari perhatian kepada anak yatim, fakir miskin dan kaum dhuafa.
Semangat berbagi tersebut dapat diperluas menjadi gerakan ekonomi produktif. Sebagian dana kegiatan Maulid, misalnya, dapat diarahkan untuk membeli produk UMKM lokal, membantu usaha kecil, menyediakan paket pangan bagi keluarga miskin, atau mendukung modal usaha mikro.
Dengan demikian, Maulid tidak hanya menciptakan konsumsi sesaat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menjaga Kestabilan Harga
Besarnya aktivitas ekonomi selama musim Maulid juga harus diikuti dengan belanja yang bijak. Bank Indonesia Perwakilan Aceh pada Agustus 2026 mengingatkan masyarakat agar cermat berbelanja kebutuhan pokok selama rangkaian Maulid untuk membantu menjaga kestabilan harga.
Karena itu, kebangkitan ekonomi tidak berarti konsumsi berlebihan. Maulid harus menjadi momentum memperkuat ekonomi secara sehat, efisien dan berkelanjutan.
Khatimah
Maulid Nabi Muhammad SAW adalah kekayaan spiritual dan budaya Aceh. Jika dikelola secara kreatif dan bijaksana, Maulid juga dapat menjadi salah satu lokomotif kebangkitan ekonomi masyarakat.
Dari dapur kenduri, lahir permintaan bagi petani dan peternak. Dari pasar, tumbuh UMKM. Dari kuliner, berkembang ekonomi kreatif. Dari tradisi, lahir pariwisata. Dan dari semuanya, diharapkan tumbuh kesejahteraan.
Maulid bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga tentang menghadirkan kembali nilai-nilai Rasulullah dalam kehidupan: jujur dalam berdagang, peduli kepada sesama, kuat dalam bekerja, dan membangun ekonomi yang membawa keberkahan bagi masyarakat. Jika spirit Maulid Nabi belum terkristal dalam sanubari hati manusia, maka gerakan “Ijtihad Maulid Nabi” perlu dipupuk lagi.
***Penulis adalah Magister Hukum Tata Negara USK, Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Wakil Ketua DPD BKPRMI Banda Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh
