Rab. Sep 9th, 2026

Oleh Bung Syarif**

Kongres Nasional Syarikat Islam (SI)/Majelis Tahkim merupakan salah satu tonggak sejarah terpenting dalam pergerakan nasional Indonesia. Berawal dari Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh K.H. Samanhudi 16 Oktober 1905 di Solo, Jawa Tengah, organisasi ini bertransformasi menjadi kekuatan massa pertama di Hindia Belanda di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto.

Melalui serangkaian kongres nasional, Syarikat Islam tidak hanya memperjuangkan hak-hak ekonomi pedagang pribumi, tetapi juga menyuarakan ide perjuangan politik, kesetaraan sosial, dan kemerdekaan.

Perjalanan Penting Kongres Nasional Syarikat Islam

Perkembangan pemikiran dan arah perjuangan SI dapat dilihat dari beberapa pelaksanaan kongres utamanya:

  • Kongres Pertama (Surakarta, 1913) Kongres ini menegaskan identitas SI sebagai organisasi yang berfokus pada penguatan ekonomi rakyat, pendidikan, dan persatuan umat Islam tanpa bertujuan melawan pemerintah kolonial secara terbuka pada tahap awal. Panda kongres ini Tjokro aminoto pertama kali menlontarkan gagasan zelftbestuur (pemerintahan sendiri) bagi Bagsa Indonesia. Panda kongres pertama ini dihadiri oleh seluruh pengurus Syarikat Islam se-Indonesia.
  • Kongres Nasional Kedua (Jakarta, 1917) SI mulai menunjukkan sikap politik yang lebih tegas. Kongres ini menekankan pentingnya perjuangan membela kaum buruh dan tani, serta menuntut pembentukan parlemen yang mewakili rakyat secara penuh.
  • Kongres Nasional Ketiga (Surabaya, 1918) Berlangsung di tengah situasi global pasca-Perang Dunia I, kongres ini berfokus pada isu-isu perburuhan, penolakan terhadap kapitalisme yang menindas, dan penguatan perwakilan rakyat di Volksraad.
  • Kongres Nasional ke-42 di Surabaya yang direncanakan pada tanggal 18-20  Oktober 2026 berlangsung ditengah situasi global perang Irak- Israil dan sekutunya Amerika. Mengusung tema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati.

Warisan Pemikiran dan Transformasi

Cikal bakal Syarikat Islam berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI)yang didirikan oleh H. Samanhudi di Surakarta (Solo) awal abad ke-20. Pada masa itu organisasi ini lahir sebagai wadah memperkuat persatuan para pedagang pribumi, khususnya umat Islam dalam menghadapi berbagi persoalan ekonomi dan perdagangan.

Dalam perkembangannya gerakan ini mengalami transpormasi. HOS Tjokroaminoto kemudian memainkan peranan penting dalam memperluas gerakan sehingga tidak lagi terbatas pada persoalan perdagangan.Organisasi ini berkembang menjadi gerakan social, ekonomi, politik dan keumatan yang  memiliki pengaruh luas ditengah masyarakat. Perubahan nama menjadi Syarikat Islam mencerminkan semakin luasnya ruang berjuangan organisasi. Islam menjadi landasan persautuan sekaligus nilai moral dalam memperjuangkan keadilan, kemajuan masyarakat dan kesejahteraan.

Syarikat Islam dan Kebangkitan Nasional

Di era modern, Syarikat Islam terus melanjutkan konsolidasi organisasinya melalui Majlis Tahkim (Kongres Nasional). Fokus perjuangan SI saat ini kembali pada akar sejarahnya: penguatan ekonomi umat, kemandirian finansial, pengembangan pendidikan Islam, dan partisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Salah satu kontribusi Syarikat Islam (SI) adalah membangun kesadaran berorganisasi dan kesadaran kebangsaan di tengah masyarakat.

Syarikat Islam juga menjadi tempat lahir dan berkembangnya pemikiran sejumlah tokoh pergerakan. Organisasi ini memperkenalkan pentingnya pendidikan, persatuan, kemandirian ekonomi dan gerakan perjuangan politik berkeadaban. HOS Tjokro Aminoto menjadi salah satu tokoh sentral yang memperkuat gagasan bahwa Islam harus bangkit dari keterperujkan ekonomi. Kemandirian Ekomi mutlah diperlukan diera globalisasi ini. Semangat ini dikenal luas dengan gagasan sama rata, sama rasa yang menggambarkan cita-cita SI. Karena itu semangat SI dapat diterjemahkan lebih nyata melalui:

  1. Penguatan ekonomi umat melalui eksistensi Koperasi, UMKM dan Kewirausahaan
  2. Peningkatan kualitas Pendidikan untuk melahirkan kader pemimpin  yang berilmu dan berakhlak denngan pemberian beasiswa S1 hingga Doktoral bagi pengurus SI yang aktif di seluruh nusantara
  3. Penguatan Dakwah yang mencerdaskan dan memberi solusi terhadap persoalan umat, baik dakwah mimbar maupun dakwah non mimbar
  4. Pemberdayaan Gernerasi muda melalui berbagai Pelatihan/Training Penguatan Capasity Building dalam berbagai ragam tema training meliputi; dakwah digital, sertifikasi halal, dakwah Artificial Inteligence (AI) serta tema-tema lainnya sesuai kondisi kekinian.
  5. Penguatan Persatuan Umat dengan mengedepankan ukhwah dan kepentingan bersama
  6. Pengembangan Kepemimpinan Nasional yang amanah, professional dan berorientasi pada kemaslahatan umat, dengan berbagai jenjang training sesuai kebutuhan organisasi.

***Penulis adalah Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Syarikat Islam Aceh, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry

By fmla

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *