Kam. Agu 6th, 2026

    Ketika Harta Menjadi Jalan Menuju Kemuliaan atau Kehinaan

    Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)***

    Harta pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang tercela. Al Quran menyebutkannya dengan khairan (kebaikan), Al Baqarah; 180. Dalam Islam, harta adalah amanah sekaligus nikmat dari Allah SWT. Dengan harta, seseorang dapat membangun keluarga, menolong sesama, menuntut ilmu, bahkan membangun peradaban melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

    Yang menjadi persoalan bukanlah hartanya, tetapi bagaimana sikap manusia terhadap harta. Ahmad bin Qudamah menjelaskan bahwa terdapat lima sikap tercela terhadap harta yang harus diwaspadai oleh setiap Muslim.

    Pertama, rakus terhadap harta. Ketika harta berubah menjadi tujuan hidup, manusia akan kehilangan ketenangan. Ia terus mengejar dunia tanpa pernah merasa cukup. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya akan selalu merasa miskin, meskipun hartanya melimpah.

    Kedua, memperoleh harta dari jalan yang haram. Keberkahan rezeki bukan ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi oleh kehalalannya. Nabi SAW telah mengingatkan bahwa akan datang suatu zaman ketika manusia tidak lagi peduli apakah hartanya berasal dari yang halal atau haram. Fenomena ini semakin nyata di tengah maraknya korupsi, penipuan, dan berbagai praktik ekonomi yang tidak jujur.

    Ketiga, tidak menunaikan kewajiban harta. Harta bukan hanya memiliki hak pemiliknya, tetapi juga hak Allah dan hak sesama manusia. Selain zakat, Islam mengajarkan kepedulian kepada orang tua, kerabat, tamu, serta mereka yang tertimpa musibah. Harta yang tidak menghadirkan manfaat bagi orang lain akan kehilangan keberkahannya.

    Keempat, membelanjakan harta secara tidak tepat. Islam melarang israf (berlebihan) dan tabdzir (menghamburkan harta untuk kemaksiatan). Harta yang dikelola tanpa kendali akan menjadi sumber penyesalan, bukan kebahagiaan.

    Kelima, sombong karena harta. Merasa lebih mulia karena kekayaan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Ketika harta melahirkan kesombongan, manusia akan lupa bahwa tujuan hidupnya adalah beribadah, bukan berlomba-lomba dalam kemewahan.

    Marilah kita menjadikan harta sebagai pelayan, bukan tuan. Harta yang berada di tangan orang beriman akan menjadi jalan menuju surga. Sebaliknya, harta yang menguasai hati dapat menyeret manusia kepada kehinaan.

    Allah tidak akan bertanya seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi bagaimana cara kita memperolehnya, bagaimana kita mengelolanya, dan sebesar apa manfaatnya bagi sesama. Di situlah letak keberkahan harta yang sesungguhnya.

    ***Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

    By fmla

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *