Oleh: Muhammad Yasir Yusuf (MYY)***
Setiap rumah memiliki cerita.
Ada rumah yang dibangun dengan tawa. Ada pula yang dibangun dengan air mata dan pengorbanan. Hampir tidak ada orang tua yang membangun rumah hanya untuk dirinya sendiri. Mereka membangunnya agar anak-anak memiliki tempat berteduh, tempat pulang, dan tempat bertumbuh dengan penuh kasih sayang.
Di rumah itulah kita belajar berjalan. Di rumah itu pula orang tua begadang ketika kita demam, menggendong kita saat menangis, mengalah demi memenuhi keinginan kita, bahkan menunda impian mereka sendiri agar masa depan anak-anaknya lebih baik.
Ketika kita sakit, mereka rela tidak tidur.
Ketika kita ingin sekolah yang lebih baik, mereka rela bekerja lebih keras.
Ketika kita gagal, merekalah yang pertama menguatkan.
Seluruh pengorbanan itu dilakukan tanpa pernah menghitung untung dan rugi.
Karena bagi orang tua, kebahagiaan terbesar adalah melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.
Namun ironi mulai tampak ketika roda kehidupan berputar.
Saat tubuh orang tua mulai melemah.
Pendengaran mulai berkurang.
Langkah mulai pelan.
Ingatan mulai memudar.
Justru pada saat itulah sebagian anak menganggap kehadiran orang tua sebagai beban. Dengan berbagai alasan—sibuk bekerja, rumah sempit, tidak ada waktu, atau alasan profesionalisme—orang tua akhirnya dititipkan ke panti jompo.
Kehadiran panti jompo bukanlah sesuatu yang keliru. Boleh jadi dalam kondisi tertentu, seperti tidak adanya keluarga lagi, kebutuhan perawatan medis khusus atau alasan yang benar-benar mendesak, hal itu dapat menjadi pilihan.
Namun yang perlu kita renungkan adalah jangan sampai orang tua dipisahkan dari keluarganya semata-mata karena mereka dianggap mengganggu kenyamanan hidup anak-anaknya.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?
Pertama, *bergesernya cara pandang tentang keluarga.
Masyarakat modern semakin menekankan kemandirian individu dibandingkan tanggung jawab antargenerasi. Orang tua tidak lagi dipandang sebagai amanah yang harus dimuliakan, tetapi sering kali dipersepsikan sebagai beban ketika produktivitas mereka menurun.
Kedua, *hilangnya kesadaran tentang bakti kepada orang tua sebagai ibadah.
Islam menempatkan birrul walidain tepat setelah perintah mentauhidkan Allah. Bahkan Al-Qur’an melarang seorang anak mengucapkan kata “ah” kepada kedua orang tuanya ketika mereka telah lanjut usia (QS. Al-Isra’: 23).
Ketiga, budaya materialisme.
Keberhasilan sering diukur dari karier, harta, dan kenyamanan hidup. Akibatnya, waktu untuk merawat orang tua dianggap mengurangi produktivitas, padahal sesungguhnya itulah investasi terbesar di sisi Allah.
Padahal, keberkahan hidup seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasannya, pekerjaannya, atau kekayaannya.
Ada doa seorang ibu yang mengiringinya.
Ada keridhaan seorang ayah yang membukakan pintu-pintu rezekinya.
Ada keberkahan yang tidak dapat dibeli dengan uang, tetapi lahir dari bakti kepada kedua orang tua.
Anak-anakku…
Suatu hari nanti, kita pun akan menua.
Rambut akan memutih.
Langkah akan melemah.
Dan kita berharap anak-anak kita memperlakukan kita sebagaimana dahulu kita memperlakukan orang tua kita.
Karena hidup selalu berputar.
Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kelak akan kita tuai.
Rumah bukan hanya tempat membesarkan anak, tetapi juga tempat memuliakan orang tua hingga akhir hayatnya. Sebab rumah yang penuh bakti akan melahirkan keberkahan, sedangkan rumah yang kehilangan penghormatan kepada orang tua perlahan akan kehilangan ruh kasih sayang yang menjadi fondasi sebuah keluarga.
***Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
Ketika Rumah Tidak Menjadi Tempat Menua
(Catatan untuk Anak-Anak Tercinta)
Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)***
Setiap rumah memiliki cerita.
Ada rumah yang dibangun dengan tawa. Ada pula yang dibangun dengan air mata dan pengorbanan. Hampir tidak ada orang tua yang membangun rumah hanya untuk dirinya sendiri. Mereka membangunnya agar anak-anak memiliki tempat berteduh, tempat pulang, dan tempat bertumbuh dengan penuh kasih sayang.
Di rumah itulah kita belajar berjalan. Di rumah itu pula orang tua begadang ketika kita demam, menggendong kita saat menangis, mengalah demi memenuhi keinginan kita, bahkan menunda impian mereka sendiri agar masa depan anak-anaknya lebih baik.
Ketika kita sakit, mereka rela tidak tidur.
Ketika kita ingin sekolah yang lebih baik, mereka rela bekerja lebih keras.
Ketika kita gagal, merekalah yang pertama menguatkan.
Seluruh pengorbanan itu dilakukan tanpa pernah menghitung untung dan rugi.
Karena bagi orang tua, kebahagiaan terbesar adalah melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.
Namun ironi mulai tampak ketika roda kehidupan berputar.
Saat tubuh orang tua mulai melemah.
Pendengaran mulai berkurang.
Langkah mulai pelan.
Ingatan mulai memudar.
Justru pada saat itulah sebagian anak menganggap kehadiran orang tua sebagai beban. Dengan berbagai alasan—sibuk bekerja, rumah sempit, tidak ada waktu, atau alasan profesionalisme—orang tua akhirnya dititipkan ke panti jompo.
Kehadiran panti jompo bukanlah sesuatu yang keliru. Boleh jadi dalam kondisi tertentu, seperti tidak adanya keluarga lagi, kebutuhan perawatan medis khusus atau alasan yang benar-benar mendesak, hal itu dapat menjadi pilihan.
Namun yang perlu kita renungkan adalah jangan sampai orang tua dipisahkan dari keluarganya semata-mata karena mereka dianggap mengganggu kenyamanan hidup anak-anaknya.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?
Pertama, *bergesernya cara pandang tentang keluarga.
Masyarakat modern semakin menekankan kemandirian individu dibandingkan tanggung jawab antargenerasi. Orang tua tidak lagi dipandang sebagai amanah yang harus dimuliakan, tetapi sering kali dipersepsikan sebagai beban ketika produktivitas mereka menurun.
Kedua, *hilangnya kesadaran tentang bakti kepada orang tua sebagai ibadah.
Islam menempatkan birrul walidain tepat setelah perintah mentauhidkan Allah. Bahkan Al-Qur’an melarang seorang anak mengucapkan kata “ah” kepada kedua orang tuanya ketika mereka telah lanjut usia (QS. Al-Isra’: 23).
Ketiga, budaya materialisme.
Keberhasilan sering diukur dari karier, harta, dan kenyamanan hidup. Akibatnya, waktu untuk merawat orang tua dianggap mengurangi produktivitas, padahal sesungguhnya itulah investasi terbesar di sisi Allah.
Padahal, keberkahan hidup seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasannya, pekerjaannya, atau kekayaannya.
Ada doa seorang ibu yang mengiringinya.
Ada keridhaan seorang ayah yang membukakan pintu-pintu rezekinya.
Ada keberkahan yang tidak dapat dibeli dengan uang, tetapi lahir dari bakti kepada kedua orang tua.
Anak-anakku…
Suatu hari nanti, kita pun akan menua.
Rambut akan memutih.
Langkah akan melemah.
Dan kita berharap anak-anak kita memperlakukan kita sebagaimana dahulu kita memperlakukan orang tua kita.
Karena hidup selalu berputar.
Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kelak akan kita tuai.
Rumah bukan hanya tempat membesarkan anak, tetapi juga tempat memuliakan orang tua hingga akhir hayatnya. Sebab rumah yang penuh bakti akan melahirkan keberkahan, sedangkan rumah yang kehilangan penghormatan kepada orang tua perlahan akan kehilangan ruh kasih sayang yang menjadi fondasi sebuah keluarga.
***Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

