Oleh Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER**
Pekan Menyusui Dunia World Breastfeeding Week (WBW) yang diperingati setiap tanggal 1-7 Agustus merupakan momentum global yang digagas oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), didukung oleh WHO dan UNICEF, untuk mengingatkan masyarakat dunia tentang pentingnya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.
ASI bukan sekadar nutrisi, tetapi juga imunisasi alami pertama yang mampu menurunkan risiko infeksi, mendukung pertumbuhan optimal, dan membangun ikatan emosional antara ibu dan bayi (WHO, 2023). Tahun 2025, Aceh Peduli ASI (APA) mengusung tema “Pentingnya Support System Menyusui”, yang menekankan bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya ditentukan oleh kemauan ibu, tetapi juga oleh dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial yang kondusif.
Tujuan utama dari peringatan ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai peran penting dukungan menyeluruh dalam keberhasilan menyusui. Dukungan tersebut meliputi dukungan emosional dan praktis dari keluarga, pendampingan profesional dari tenaga kesehatan, dan lingkungan kerja serta sosial yang ramah ASI. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapat dukungan penuh dari pasangan dan keluarga memiliki tingkat keberhasilan ASI eksklusif 1,8 kali lebih tinggi dibanding yang tidak mendapatkan dukungan (Victora et al., 2016; Rollins et al., 2021).
Selain itu, kegiatan ini menjadi platform kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat program ASI eksklusif di Aceh. Upaya ini melibatkan pemerintah daerah, dinas kesehatan, organisasi profesi seperti IDAI dan POGI, komunitas peduli ASI, serta media massa. Kolaborasi ini penting karena pemberian ASI eksklusif tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga memiliki manfaat sosial-ekonomi, seperti menurunkan biaya kesehatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan (UNICEF, 2022).
Puncak kegiatan WBW 2025 di Aceh menghadirkan edukasi dan konseling langsung bagi ibu menyusui dan keluarganya. Melalui talkshow, booth konseling, dan permainan edukatif, peserta mendapatkan informasi praktis tentang teknik menyusui yang benar, penanganan masalah laktasi, serta cara menjaga kesehatan ibu dan bayi. Strategi ini sejalan dengan rekomendasi WHO untuk mengintegrasikan edukasi publik dan konseling individual sebagai pendekatan efektif dalam meningkatkan cakupan ASI eksklusif (WHO, 2023).
Dengan manajemen yang sistematis, WBW tidak hanya menjadi peringatan simbolik, tetapi juga gerakan nyata untuk membangun generasi yang lebih sehat dan cerdas. Menguatnya support system menyusui akan berdampak pada penurunan angka stunting, peningkatan imunitas anak, dan penguatan kualitas hidup masyarakat Aceh. Oleh karena itu, keberhasilan peringatan hari ini menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan kesehatan dan sumber daya manusia di Aceh dan Indonesia
Aceh Peduli ASI, Pekan Menyusui Dunia 2025. Sebagai bagian dari peringatan Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) 2025, Aceh Peduli ASI (APA) menyelenggarakan kegiatan Public Awareness dengan mengusung tema: “Prioritaskan Menyusui: Membangun Sistem Dukungan Berkelanjutan.” Kegiatan ini menegaskan pentingnya dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial dalam keberhasilan menyusui hingga dua tahun, sekaligus menjadi ajakan nyata untuk membangun support system menyusui yang berkelanjutan di Aceh.
Acara yang berlangsung di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh dihadiri oleh isteri Gubernur Aceh (Ny. Marlina Usman), Isteri Wakil Gubernur Aceh (Ny. Mukarramah Fadhlullah), dan jajaran pejabat pemerintah serta Dinas Kesehatan Aceh. Kehadiran para tokoh perempuan Aceh ini memberikan dukungan moral yang kuat bagi gerakan menyusui, serta menegaskan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas seorang ibu.
Foto bersama antara para pengurus Aceh Peduli ASI dengan Ibu Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur Aceh menjadi simbol kolaborasi pemerintah dan komunitas dalam menguatkan gerakan ASI eksklusif dan menyusui berkelanjutan di Aceh.
Sebagai seorang dokter dan pendidik di bidang Kesehatan Reproduksi, saya memaknai momen ini sebagai strategi kesehatan jangka panjang. Menyusui bukan sekadar memberi makan, tetapi memberi kehidupan. ASI adalah vaksin pertama, nutrisi terbaik, dan jembatan ikatan kasih yang tak tergantikan. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya ditentukan oleh ibu, melainkan oleh support system yang mengelilinginya seperti keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial.
Mengapa Support System Itu Penting?
Untuk memperdalam perspektif, saya berbincang dengan dr. Yusra Septivera, Sp.OG(K), Subsp.KFM, konselor menyusui dari Aceh Peduli ASI, sekaligus salah satu narasumber talkshow. Beliau menegaskan “Banyak ibu gagal memberikan ASI eksklusif bukan karena kurangnya niat, tetapi karena kurangnya dukungan. Ibu yang baru melahirkan sering menghadapi kelelahan fisik, tekanan mental, bahkan mitos-mitos yang salah tentang ASI.
Jika suami, keluarga, dan tenaga kesehatan tidak hadir sebagai support system, keberhasilan menyusui bisa terancam gagal.”
Support system menyusui mencakup beberapa hal penting; pertama, Dukungan Suami dan Keluarga Suami yang mau membantu mengurus bayi di malam hari atau menenangkan istri yang lelah adalah “vaksin” bagi keberhasilan menyusui.
Kedua, Tenaga Kesehatan yang Pro-ASI yaitu Bidan, perawat, dan dokter harus konsisten memberi informasi yang benar tentang laktasi.
Ketiga, Lingkungan Sosial yang Ramah ASI seperti tempat kerja, fasilitas publik, hingga komunitas perlu memberi ruang aman bagi ibu menyusui.
Dari Perspektif Dokter Anak ASI adalah Fondasi Generasi Sehat. Narasumber talkshow lain yaitu dr. Silvia Yasmin Lubis, Sp.A (IDAI Aceh) memberi sudut pandang pediatrik yang penting; “ASI eksklusif enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun adalah fondasi tumbuh kembang optimal.
ASI melindungi bayi dari infeksi, menurunkan risiko stunting, dan mendukung kecerdasan anak Aceh di masa depan.” Beliau juga menekankan bahwa pencegahan stunting dan peningkatan kualitas generasi dimulai dari keberhasilan menyusui.
Pesan Moral untuk Aceh dan Indonesia. Acara puncak WBW 2025 di Banda Aceh memberikan pelajaran berharga. Pertama, kampanye menyusui harus dilakukan dengan kegembiraan dan kebersamaan, bukan sekadar seremonial. Kedua, kolaborasi lintas sektor pemerintah, organisasi profesi, dan komunitas adalah kunci keberhasilan. Sebagai dokter dan pendidik, saya menekankan bahwa menyusui adalah investasi kesehatan jangka panjang. Bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki daya tahan tubuh lebih baik, risiko stunting menurun, dan perkembangan kognitif optimal. Dampaknya bukan hanya pada keluarga, tapi pada masa depan Aceh dan Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.
Salinan ini telah tayang di Hari ini, ketika senyum para ibu berseri di bawah matahari pagi, saya merasa optimistis, jika support system menyusui kita kuat, kita sedang menyiapkan generasi emas Aceh. Salam ASI Sukses Menyusui Hingga 2 Tahun!!
Penutup.
Menyusui adalah warisan fitrah yang mulia, perintah ilahi yang sejalan dengan sains modern, sekaligus investasi kesehatan untuk masa depan bangsa. Setiap tetes ASI bukan hanya memberi gizi dan imunisasi alami bagi bayi, tetapi juga menghadirkan pahala dan perlindungan bagi ibu. Dengan membangun support system menyusui, mulai dari dukungan suami, keluarga, tenaga kesehatan, hingga lingkungan sosial. Kita sedang menyiapkan generasi emas Aceh yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia, sebagaimana pesan Al-Qur’an: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh…” (QS. Al-Baqarah: 233). (email: rajuddin@usk.ac.id)
***Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Ketua IKA UNDIP Aceh, Sekretaris ICMI Orwil Aceh
