Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Banyak orang bercita-cita menjadi terkenal. Mengejar jabatan yang tinggi, penghargaan, popularitas atau pengakuan dari masyarakat. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, sebagai seorang Muslim, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita renungkan:
Apakah kehadiran kita benar-benar membawa manfaat bagi orang lain?
Rasulullah SAW telah memberikan ukuran yang sangat sederhana namun mendalam:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad dan ath-Thabrani)
Artinya, ukuran kemuliaan seseorang bukanlah seberapa dikenal namanya, tetapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.
Pekerjaan terbaik bukanlah pekerjaan yang menjadikan kita paling terkenal, melainkan pekerjaan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Seorang guru/dosen yang melahirkan generasi berakhlak mulia, seorang dokter yang mengembalikan harapan pasiennya, seorang petani yang menyediakan pangan, seorang pegawai yang bekerja dengan amanah, hingga seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, semuanya memiliki nilai yang sama ketika manfaatnya dirasakan oleh orang lain.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah kehadiran kita di keluarga menghadirkan ketenangan?
Sudahkah keberadaan kita di tempat kerja menambah semangat dan kenyamanan bagi rekan-rekan kita?
Sudahkah institusi yang kita pimpin menjadi lebih baik karena kontribusi kita?
Ataukah justru kehadiran kita menjadi beban bagi orang lain?
Dalam setiap organisasi selalu ada dua tipe manusia. Problem maker, yaitu mereka yang gemar memperbesar masalah, menyalahkan keadaan, dan menyebarkan energi negatif. Sebaliknya, ada solution maker, yaitu mereka yang menghadirkan gagasan, memperkuat kolaborasi dan menjadi bagian dari solusi.
Islam mengajarkan agar seorang mukmin menjadi pembawa rahmat, bukan pembawa mudarat. Di mana pun ia berada, kehadirannya menghadirkan rasa aman, optimisme, dan kemudahan bagi orang lain.
Bayangkan jika setiap anggota keluarga bertekad menjadi sumber energi manfaat bagi keluarganya. Setiap guru/dosen bagi muridnya. Setiap pemimpin bagi bawahannya. Setiap warga bagi lingkungannya. Maka manfaat itu akan membentuk gelombang kebaikan yang terus meluas, dari rumah tangga, institusi, masyarakat, hingga negara.
Saya meyakini bahwa manusia tidak dikenang karena lamanya ia hidup atau tingginya jabatannya, tetapi karena jejak manfaat yang ditinggalkannya. Ada orang umurnya pendek, tapi kebaikannya dikenang melebihi umurnya malah melintas generasi. Maka jadilah pribadi yang ketika hadir membawa harapan, ketika bekerja menghadirkan solusi, dan ketika tiada, meninggalkan doa serta kenangan kebaikan di hati banyak orang.
** Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

