Sel. Jul 21st, 2026

    Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

    Ada satu sosok yang jasanya sering kita nikmati, tetapi jarang kita renungkan. Ia tidak pernah meminta pujian, apalagi balasan. Bahkan, sering kali pengorbanannya tenggelam di balik rutinitas yang kita anggap biasa.

    Dialah ibu.

    Pernahkah kita mengucapkan, “Terima kasih, Ibu”?

    Atau kita justru menganggap semua yang beliau lakukan adalah kewajiban semata?

    Padahal, hampir setiap hari ibu memulai perjuangannya ketika kita masih terlelap. Saat fajar belum benar-benar menyingsing, beliau telah bangun, menyiapkan sarapan, menata rumah, memastikan pakaian kita rapi, dan mengawali hari dengan doa agar anak-anaknya memperoleh keberkahan.

    Sementara kita masih menikmati hangatnya tempat tidur.

    Dapur menjadi saksi bisu bagaimana seorang ibu mengubah cinta menjadi hidangan. Tangannya mungkin lelah, tubuhnya mungkin letih, tetapi senyumnya tetap hadir agar keluarganya memulai hari dengan kebahagiaan.

    Sering kali ibu menyembunyikan air mata di balik senyum. Menahan lelah di balik diam. Menyimpan kegelisahan agar anak-anaknya tetap merasa tenang.

    Begitulah cinta seorang ibu.

    Ia tidak banyak bercerita tentang pengorbanannya, tetapi setiap pengorbanan itu selalu bercerita tentang cintanya.

    Dalam Islam, kedudukan ibu begitu mulia. Rasulullah SAW menempatkan ibu sebanyak tiga kali ketika ditanya siapa yang paling berhak memperoleh bakti seorang anak. Bahkan surga digambarkan berada di bawah telapak kaki ibu. Kemuliaan itu lahir bukan karena beliau sempurna, tetapi karena besarnya pengorbanan yang diberikan tanpa mengenal waktu dan keadaan.

    Ketika kita masih kecil, ibu menjaga setiap langkah kita. Ketika kita dewasa, doa ibu tetap mengiringi setiap perjalanan hidup kita. Bahkan saat jarak memisahkan, doa seorang ibu tetap menjadi pelindung yang tidak pernah terhalang ruang dan waktu.

    Karena itu, jangan menunggu Hari Ibu untuk menunjukkan kasih sayang. Peluklah beliau selagi masih ada. Ringankan pekerjaannya. Dengarkan ceritanya. Luangkan waktu untuk menemaninya. Dan jangan pernah lupa mengucapkan terima kasih atas semua yang telah beliau lakukan, meski kita sadar bahwa semua jasa itu tidak akan pernah mampu kita balas.

    Suatu hari nanti, ketika rumah terasa sepi karena ibu telah tiada, barulah kita menyadari bahwa tidak ada masakan yang benar-benar sama, tidak ada doa yang setulus doanya, dan tidak ada pelukan yang sehangat pelukannya.

    Karena sejatinya, ibu tidak pernah meminta kita membalas seluruh pengorbanannya. Ia hanya berharap melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berbakti, dan saling menyayangi. Maka selama ibu masih bersama kita, jangan hanya mencintainya dalam hati, tetapi tunjukkan cinta itu dalam bakti, perhatian, dan doa setiap hari.

    **Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

    By fmla

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *