Sel. Jul 21st, 2026

Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

Membangun rumah tangga tidaklah sesederhana membangun sebuah rumah. Rumah dapat selesai dalam hitungan bulan, tetapi rumah tangga dibangun sepanjang usia. Di dalamnya ada cinta, harapan, pengorbanan, air mata, dan doa yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu.

Karena itu, salah satu bekal terbesar dalam mengarungi bahtera rumah tangga bukanlah harta, bukan pula kemewahan. Bekal terpenting itu adalah kesetiaan.

Kesetiaan bukan sekadar ucapan romantis yang diucapkan saat akad nikah. Kesetiaan adalah komitmen yang dibuktikan setiap hari, terutama ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.

Ketika ekonomi sedang sulit.

Ketika pekerjaan terasa berat.

Ketika pasangan mulai menua.

Ketika sakit datang.

Ketika impian belum semuanya terwujud.

Pada saat-saat seperti itulah, kesetiaan menemukan makna sejatinya.

Seorang suami mungkin tidak selalu mampu memberikan kehidupan yang sempurna. Tidak semua laki-laki dilahirkan dengan harta yang melimpah atau jabatan yang tinggi. Namun setiap suami memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ketulusan untuk tetap bersama dalam setiap keadaan.

Bukankah perjalanan rumah tangga memang seperti itu?

Bertahun-tahun berjalan berdampingan.

Kadang kuat, Kadang lelah, Kadang hampir menyerah, tetapi tetap memilih untuk tidak melepaskan tangan pasangannya adalah kesatria.

Islam mengajarkan bahwa pernikahan dibangun di atas *mitsaqan ghalizha*, sebuah perjanjian yang sangat kokoh. Artinya, hubungan suami istri bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ikatan ibadah yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena itu, cinta dalam Islam bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang tanggung jawab.

Bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kesediaan memikul beban bersama.

Bagi para suami, jangan pernah lelah berusaha menjadi lebih baik.

Mungkin kita belum mampu membelikan semua yang diinginkan istri.

Mungkin kita belum menjadi ayah yang sempurna.

Mungkin masih banyak kekurangan yang kita miliki.

Namun selama kita terus belajar, terus memperbaiki diri, terus bekerja dengan halal, dan terus menjaga kesetiaan kepada keluarga, insya Allah itulah bentuk cinta yang paling tulus.

Sebab bagi seorang istri yang salehah, sering kali yang paling dibutuhkan bukanlah suami yang sempurna, tetapi suami yang tetap memilih keluarganya, meskipun dunia menawarkan banyak godaan.

Dan bagi seorang istri, ketika melihat suaminya sedang lelah berjuang, janganlah mudah membandingkannya dengan laki-laki lain. Sebab setiap perjuangan memiliki cerita yang tidak selalu tampak di hadapan manusia.

Mari saling menguatkan.

Saling memaafkan.

Saling mendoakan.

Saling mendukung.

Rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah tangga yang tidak pernah diuji, tetapi rumah tangga yang memilih tetap setia ketika ujian datang silih berganti.

Kesetiaan adalah bahasa cinta yang paling jujur. Ia tidak banyak berbicara, tetapi hadir dalam setiap pengorbanan, bertahan dalam setiap ujian dan tetap menggenggam tangan pasangannya hingga akhir perjalanan menuju ridha Allah.

**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumetera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

By fmla

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *