Sel. Agu 4th, 2026

    Oleh Bung Syarif**

    Sahabat yang super, kali ini Carlie Papa Romeo (CPR) membahas tentang “Al Muntaqim”. Secara umum dipahami bahwa Allah maha membalasi kejahatan, penyiksaan orang-orang yang jahat. Padahal sebelumnya Allah membuka pintu dan menanti orang-orang yang jahat dan lupa diri, orang-orang yang masih jauh untuk segera kembali kepada Allah, bertaubat (taba ila Allah). Karena tidak bertaubat, maka siksaan Allah berlaku atasnya. Al Muntaqim berarti yang maha membalas atau yang maha memberikan balasan yang setimpal.

    Makna nama ini adalah bahwa Allah membalas kezaliman, kedurhakaan dan perbuatan dosa sesuai dengan keadilan-Nya. Pembalasan Allah bukan karena emosi atau dendam seperti manusia, melainkan berdasarkan hikmah, keadilan dan ilmu-Nya. Allah juga sering memberi kesempatan kepada hamba untuk bertaubat sebelum menurunkan hukuman.

    Sebagaimana firman Allah:  “Sesungguhnya kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa (QS. As Sajdah: 22).

    Orang baik diberi kabar gembira akan kehidupan surga, orang-orang yang masih jahat ditunggu pertaubatannya. Bila tidak mau bertaubat dan tetap bersikukuh dengan bangga akan kejahatannya, maka siksa Allah amat sangat pedih. Disinilah Allah membalas kejahatan manusia.

    Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang-binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai had-yang dibawa sampai ke Ka`bah atau dendanya membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali menyiksanya, Allah maha kuasa lagi mempunyai (kuasaan untuk) menyiksa (QS.Al Maidah: 95)

    Dan ingatlah hari ketika kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesunguhnya kami adalah pemberi balasan (QS. Al Dukhan:16). Kita juga diingatkan bahw siksaan Allah amat pedih, seperti ketentuan yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya (QS. Al Anfal:13).

    Syahdan, sebagai seorang beriman sudah selayaknya kita mengembang akhlak mensyukuri Al Muntaqin dengan hati, lisan dan perbuatan. Oleh karena itu cara terbaik dalam merefleksikan Al Muntaqin adalah sebagai berikut:

    Pertama, mensyukuri al muntaqin dihati dengan menyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah zat yang maha membalasi perbuata jahat manusia dengan siksa. Agar tidak disiksa, maka selagi di dunia kita berhati-hati dengan tidak melakukan dosa. Sedandainya terlanjur berbuat salah, bersegera melakukan taubat nasuha. Karena Allah senantiasa menanti pertaubatan hamba-hamba-Nya.

    Kedua, menysukuri al muntaqim di lisan dengan senantiasa memuji-Nya seraya memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil `alamin. Dengan memujinya, semoga Allah memelihara kita dari godaan setan dan hawa nafsu yang destruktif, sehingga tidak melakukan dosa dan dapat terhindar dari siksaan-Nya.

    Ketiga, mensyukuri al muntaqim dengan perilaku nyata yaitu memelihara diri dari perilaku salah dan dosa. Hal ini sangat penting agar kita memperoleh kebahagian dunia dan akhirat terhindar dari siksa api neraka. Untuk itu selagi masih di dunia ini maka senantiasa berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Pelajaran yang dapat diambil antara lain:

    • Jangan berbuat zalim kepada siapapun
    • Segera bertaubat sebelum datang pembalasan Allah
    • Yakin bahwa setiap kezaliman akan mendapat balasan yang adil dari Allah baik di dunia maupun di akhirat

    *****Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Direktur Aceh Research Institute, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Wali Santri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef , ICMI Kota Banda Aceh, KAHMI Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, DPP ISAD Aceh  

    By fmla

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *