Wed. Feb 28th, 2024

Oleh Bung Syarif*

Pada tahun 1812 Gampong Meunasah Tuha awalnya hanya di huni delapan kepala keluargayang berprofesi sebagai nelayan dan petani. Dalam perjalanan waktu, warga pesisir pantai di kawasan Kecamatan Peukan Bada- Aceh Besar membangun sebuah balai tempat ibadah yang diberi nama Meunasah. Pembangunan tersebut terus berlanjut hingga tahun 1816 dibawah kepemimpinan Keuchik Ahmad.

Pada tahun 1817 masyarakat membeli sebuah bangunan tuha yang terbuat dari kayu yang berada di Lhong, bangunan yang dibeli itulah sebagai tempat beribadah  yang disebut Meunasah. Pada tahun 1818 warga melakukan musyawarah gampong dimana hasil mufakat terciptalah nama tempat tinggal yaitu awalnya kata Tempat ibadah disebut menjadi Meunasah dan kata Tuha karena bangunan yang dibeli sudah tuha kemudian disempurnakan menjadi tempat tinggal Desa Meunasah Tuha dan sekarang disebut Gampong Meunasah Tuha.

Potret Pembangunan dari masa-kemasa.

Pembangunan Gampong didasarkan pada prinsip “pola pembangunan swadaya masyarakat”. Dimana dari tahun ketahun prinsip ini terus dilanggengkan oleh Keuchik selaku Pemimpin di tingkat Gampong.

Urutan pemimpin pemerintahan Gampong Meunasah Tuha menurut imformasi para Warga Gampong sejak dari sebelum kemerdekaan Indonesia sampai dengan hingga sekarang sebagai berikut:

Periode 1818-1825

Pada periode ini tampuk pimpinan di nahkodai oleh Keuchik Ahmad selaku Keuchik pertama Gampong Meunasah Tuha. Dalam melaksanakan pembangunan tempat Ibadah sang pemimpin menganut prinsip Gotong Royong. Meunasah Gampong awalnya terbuat dari Kayu dan atapnya daun rumbia serta membangun satu sumur dipekarangan Meunasah hingga berakhir pimpinannya.

Periode 1826 – 1854

Keuchik pada saat itu terpilih Saudara Mahmud. Beliau mulai membangun lorong-lorong atawa jalan setapak untuk mempermudah transportasi menuju ke Meunasah. Sistem pembangunan yang di lakukan juga sistem swadaya. Pembangunan lain nya dimasa itu pembersihan perluasan lahan sawah dan juga pembangunan tanggul Sungai air laut di sebelah Utara Gampong secara gotong-royong rutin setiap hari Jum’at.

Periode 1855-1884

Gampong Meunasah Tuha di pimpin oleh Keuchik Husen Pembangunannya lanjutan dari Keuchik Mahmud. Keuchik Husen di kenal sebagai pemain Rapai dan beliau membentuk satu Grup Rapai yang pada masa itu sangat populer di Gampong Meunasah Tuha.

Periode Tahun 1885-1907

Pada masa ini kepemimpinan Gampong Meunasah Tuha kembali dipimpin oleh Keuchik Ahmad  untuk kedua kalinya. Pembangunan tetap saja berlanjut dan pada saat itu wilayah Kuta Raja masih dalam penjajahan Belanda. Keuchik Ahmad orang pandai dan licik dia selalu menentang tentara Belanda, pada tahun 1907 Keuchik Ahmad memukul komandan tentara Belanda dan akhirnya dia di tangkap oleh pasukan Belanda. Hingga akhirnya beliau di gantikan oleh Keuchik Ubid.

Periode Tahun 1909-1932

Gampong Meunasah Tuha di pimpin oleh Keuchik Ubid. Beliau mengatur pemerintahan Gampong dengan baik, pada masa itu dilakukan perluasan Meunasah dengan cara swadaya masyarakat. Pada Tahun 1929 Keuchik Ubid bersama aparatur gampong membangun Balai Pengajian di  komplek pekarangan Meunasah.

Periode Tahun 1932-1946

Pada masa itu keuchik Ustad Yakob, beliau mengambil suatu kebijakan dengan kesepaktan secara secara musyawarah untuk membangun Meunasah semi permanen dalam bentuk panggung hal ini dilakukan karena semakin bertambahnya penduduk Gampong Meunasah Tuha. Masyarakat pada saat itu sangat temtram dan sangat antusias dalam melaksanakan ibadah Fardhu

Periode 1946-1970

Keuchik pada periode ini di pimpin oleh Abdul Wahab dan Teungku Meunasah Tgk Ilyas. Pada Tampuk Kepemimpinannya membangun tanggul Sungai agar masyarakat temtaram menanam padi di persawahan bagian Utara Desa. Pada periode kepemimpinan Keuchik Abdul Wahab Indonesia sudah Merdeka. Pada Tahun ini sudah ada bantuan Pemerintah di Gampong yang disebut Uang Bangdes ( Dana Bantuan Desa ) dengan adanya bantuan ini beliau membangun Kantor Keuchik semi permanen.

Periode 1970-1978

Periode ini dalam status kedaan kacau sehingga tidak ada Keuchik, maka periode masa itu di bentuk “kepemimpinan Panitia” pelaku pemimpin yaitu saudara Andip sebagai ketua panitia wakil ketua saudara Ustad Yakob dan beberapa orang yang menjabat sebagai anggota, Tgk Meunasah  pada periode itu tetap saudara Tgk Ilyas. Pembangunan Gampong pada saat itu terus berlanjut. Saudara Andib dengan para pemuda sangat akrap sehingga pada masa itu terbentuk Organisasi Bola Kaki yang diberi nama Persatuan Sepak Bola Meunasah Tuha (PSMT). Disamping itu pula bersama warga membangun lapangan Bola Kaki sebagai sarana tempat olah raga bagi warga Meunasah Tuha.

Periode 1978-1986

Keuchik terpilih kembali yaitu saudara Maimun. Pada periode ini Persatuan Klub Bola Kaki terus berlanjut dan PSMT pada saat itu sangat terkenal membawa nama baik Gampong Meunasah Tuha dan nama baik Kecamatan Peukan Bada pada masa itu. Disegi ekonomi masyarakat juga sangat baik hal ini disebabkan adanya sumber pekerjaan pengangkutan barang dari Pulo Sabang. Bidang pembangunan Gampong juga terlaksana seperti Perluasan jalan dan pengerasa jalan.

Periode 1986-1998

Keuchik yang terpilih saudara Juned periode ini Kondisi pemerintahan Gampong Meunasah Tuha sangat baik, di Bidang pembangunan Gampong periode keuchik Juned membangun Meunasah Permanen, perluasan pembangunan kantor keuchik permanen, pembangunan kedai Gampong, pembangunan Klinik Pos Yandu dan juga perlengkapan peralatan PKK. Di bidang kepemudaan olah raga bola kaki tetap bertahan.

Periode 1998-2000

Periode ini Keuchik terpilih saudara Zamzami tahun pertama pemerintah Keuchik Zamzami baik sedangkan tahun seterusnya kurang baik disebabkan aparatur pemerintah tidak ada kekompakan, sedangkan dibidang pembangunannya tetap saja berlanjut sehingga masa jabatan nya mengundurkan diri.

Periode 2000-2004

Periode ini Keuchik Gampong Meunasah Tuha terpilih M. Kamil, pemerintahan Gampong pada saat M. Kamil selaku Keuchik kurang baik hal ini disebabbkan kedaan masa konflik Aceh (Darurat Meliter). Pembangunan pada saat itu terusberlanjut, sehingga di akhir tahun tepatnya tanggal 26 desember 2004 terjadi musibah Tsunami Gampong Meunasah Tuha semua pembangunan Infrastruktur fasilitas umum rusak berat dan juga perumahan warga rusak total rata dengan tanah.

Periode 2005-2010

Pasca Gempa Tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) warga gampong Meunasah Tuha pada saat itu masih dalam keadaan berduka dan periode ini dipimpin oleh Subki Basyah. Pasca Tsunami banyak NGO masuk ketempat pengungsian warga Gampong Meunasah Tuha untuk meliputu data-data dan menggali berita kejadian Gempa dan Tsunami, dua bulan di pengungsian lampenerut kemudian warga kembali pulang ke gampong membangun tempat berteduh sementara yaitu barak yang dipimpin oleh keuchik Subki Basah. Kepemimpinan Keuchik Subki Basyah di pandang sangat baik sehingga berbagai fasilitas Infranstruktur sudah mencapai 85 %.

Periode 2011-2016

Pada Tahun ini terjadi pesta demokrasi Pemilihan Keuchik Gampong Meunsah Tuha periode 2011-2016. Pelaksanaan Demokrasi berjalan dengan lancar sehingga terpilihlah Sdr. Ismadi sebagai Keuchik. Setelah Keuchik baru terpilih, awalnya beliau meminta pengunduran diri dengan alasan beliau tidak cocok untuk memimpin Gampong Meunasah Tuha.

Beberapa kali beliau minta untuk diganti. Saya secara pribadi pernah terlibat Rapat Masyarakat terhadap merespon sikap penolakan beliau agar tidak di lantik menjadi Keuchik Gampong Meunasah Tuha. Akhirnya masyarakat tetap mempertahankan Tampuk Kepemimpinannya pada Sdr. Ismadi. Pada masa ini Tapal Batas Gampong menjadi program prioritas.

Disamping itu pula Pembersihan Gampong, Pembuatan Jalan dan Pembersihan Kuburan Massal menjadi Agenda Kerja Beliau. Diakhir kepemimpinan beliau membuka akses Jalan menuju Kuburan Massal dibangun dengan Konsep Swadaya Masyarakat. Jalan-jalan umum yang dilalui Warga juga sudah mulai terang hal ini disebabkan adanya komitmen masing-masing warga untuk menyumbangkan Lampu Jalan sesuai dengan kemampuan Warga. Klub PSMT mulai hidup kembali hal ini terbukti klub ini mampu menyelenggarakan event Akbar Sepak Bola yang berpusat pada Lapangan Bola PSMT. Disamping itu Pula Klub PSMT juga pernah mengikuti beberapa kali turnamen antar Gampong. Setelah memimpin Gampong Meunasah Tuha selama setahun akhirnya beliau mengundurkan diri.

Periode 2016-2017 dan Periode 2018-2024

Pada masa ini Keuchik dilanjutnya oleh M. Fajri tradisi pembangunan dilanjutkan seperti pembangunan jalan gampong, pembersihan lahan pertanian, pembangunan/Renovasi Meunasah, Renovasi Kuburan Gampong yang pada akhirnya memasuki era generasi emas yakni terpilihnya Sdr Iswadi NS Keuchik Gampong Meunasah Tuha Periode 2018-2024.

Lewat sentuhan tangan dingin Iswadi NS Gampong Meunasah Tuha meraih berbagai prestasi baik level Kecamatan maupun Kabupaten. Susana gampong sudah semakin hidup, Lapangan Bola sudah difungsikan kembali. Gebyar Hut ke-78 RI Tahun menjadi agenda keceriaan bocah-bocah dan emak-emak Gampong Meunasah Tuha. Turnamen Bola antar Kadus tingkat anak-anak berjalan meriah. Berbagai even keagamaan berjalan meriah geliat pembangunan berjalan dengan baik. Berbagai Pelatihan Peningkatan SDM dan Ketrampilan warga berjalan dengan baik. Tentu ini semua berkat kerja cerdas, iklas dan tuntas Aparatur Gampong. Giat membantu warga miskin, respon cepat kebakaran, gotong royong, keunduri mate dan keunduri hidup, Mengaktifkan Front Kematian. Iswadi yang dilantik 13 Feruari 2018 berakhir masa kepemimpinannya di 13 Februari 2024. Kurang lebih satu tahun lagi akhir masa kepemimpinannya Iswadi NS mampu mengharumkan Gampong Meunasah Tuha dilevel Kecamatan dan Kabupaten dengan berbagai prestasi diantaranya Nominator Gampong terbaik 2018 tingkat Kecamatan, Juara I Spirit Ramadhan tingkat Kecamatan Tahun 2019, Juara II Lomba PKK Tingkat Kabuten Tahun 2020, Penyusunan APBG dan Pelaporan serta realisasai APBG tepat waktu menjadi bukti Iswadi berhasil memimpin Gampong Meunasah Tuha. Krue semangat sukses terus Pak Keuchik, Insya Allah saya menjadi saksi betapa ketulusan dan keiklasannya dalam membangun gampong Meunasah Tuha. Pojok Lamtapeun kedepan menjadi Pusat Ibukota Gampong Meunasah Tua. Dikedai Fahrial berbagai persoalan kita bincangkan dan kita cari solusi cantik. Anak mudapun kini tiap malam riang gembira. Bidak catur menjadi hobinya para pemikir dan sangjuara.

*Penulis adalah Mantan Tuhapeut Gampong Meunasah Tuha, Mantan Aktivis`98, Alumni Lemhannas Pemuda Angkatan I, Dosen FSH UIN Ar-Raniry, Penggiat LBH, Fungsionaris KAHMI Aceh, Mantan Sekjen DPP ISKADA Aceh, Mantan Ketua Umum Remaja Masjid Raya Aceh, Fungsionaris DPD KNPI Aceh

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *