Oleh Bung Syarif**
Seperti biasanya para punggawa Dinas Pendidikan Dayah (Disdik Dayah) Banda Aceh senantiasa menyapa pimpinan Dayah dengan satu misi utama, menjalankan tugas negara dan mengkomunikasikan pesan “Walikota” pada Abu Karamuzzaman Pimpinan Dayah Darul Amin Al Waliyah.
Sejak lahirnya Disdik Dayah Kota Banda Aceh sebagai salah satu Lembaga Keistimewaan Aceh, lahir sesuai mandat Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 dan Permendagri Nomor 95 Tahun 2017 yang dijabarkan secara rigid dalam Qanun Kota Banda Aceh Nomor 11 Tahun 2016 dan Peraturan Walikota Banda Aceh Nomor 61 Tahun 2016. Para Punggawa Dayah Banda Aceh sangat intens melakukan silaturrahmi dan komunokasi dengan Para Pimpinan Dayah/Pesantren se-Kota Banda Aceh.
Program “Jak Saweu Dayah” bagian dari upaya menjalin silaturrahmi dan sinergisitas antara Pimpinan Dayah dengan Walikota melalui Disdik Dayah Kota Banda Aceh yang pada akhirnya akan merajut ukhwah dalam penyusunan Program kerja Tahunan Disdik Dayah.
Lahirnya Permendagri Nomor 95 Tahun 2016, Disdik Dayah merupakan salah satu lembaga Keistimewaan Aceh disamping 10 Lembaga Keistimewaan Aceh.
Dalam Perspektif Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 95 Tahun 2016 ada dua jenis perangkat Daerah yaitu, Pertama perangkat Daerah yang melaksanakan urusan Pemerintahan dan Kedua Perangkat Daerah yang melaksanakan urusan keistimewaan dan kekhususan.
Adapun perangkat daerah yang melaksanakan kekhususan dan keistimewaan antara lain:
1. Kerukon Katibul Wali/Sekretariat Wali Nanggroe
2. Dinas Syariat Islam
3. Dinas Pendidikan Dayah
4. Dinas Pertanahan Aceh
5. Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama
6. Sekretariat Majelis Adat Aceh
7. Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh
8. Sekretariat Baitul Mal Aceh
9. Sekretariat Badan Reintegrasi Aceh
10. Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah
Dari ke-10 Perangkat Daerah yang melaksanakan kekhususan dan keistimewaan, hanya 4 Lembaga baru selebihnya sudah ada sejak Tahun 2006, bahkan ada yang lahir sejak Tahun 80-an dengan metamarfosis nomenklatur yang berberda, akan tetapi memiliki tugas dan fungsi yang sama.
Tulisan ini tidak membahas dengan detail keberadaan lembaga keistimewaan, akan tetapi menarasikan secuil kisah perjalanan para punggawa Disdik Dayah Banda Aceh menjalankan misi negara dan menyampaikan pesan Walikota Banda Aceh dalam merajut keharmonisan Walikota dengan Para Pimpinan Dayah se-Kota Banda Aceh.
Carlie Papa Romeo (CPR) sejak Tahun 2016 telah merajut Silaturrahmi dengan Para Pimpian Dayah se-Kota Banda Aceh dengan bersahaja. Malam itu adalah malah terakhir punggawa membawa pesan istimewa kepada para pimpinan dayah di Kutaraja. Irwanda Jamil, S.Ag/Kabid Sapras dan Pengembangan Dayah kala itu yang kini bertugas menjadi Kabid Rehabilitasi Sosial pada Dinsos Kota Banda Aceh memintan bantuan CPR untuk merajut silaturrahmi dengan Para Pimpinan Dayah. Mengingat Irwanda pendatang baru menggantikan Zulkifli, SH
Tiga locus yang dituju antara lain; Dayah Raudhatul Hikmal Al-Waliyah, Dayah Darul Amin Al-Waliyah dan Dayah Baitul `Atiq. Saya cuma bertugas memfasilitasi komunikasi yang tersumbat dengan Para Pimpinan Dayah di Banda Aceh. Seni bekomunikasi yang CPR dalami saat menjadi kader Insan Cita (HMI) dan kader ISKADA dinilai manjur dalam menjalin komunikasi jitu, sistematis dan praktis dengan Pimpinan Dayah se-Kota Banda Aceh. Dinda Farhan selalu mendampingi dalam Giat Malam bersama Punggawa Dayah Banda Aceh, dan didampingi Eri Syahputra, ST selalu siap mengawal misi tengah malam. Sesampai dilocus yang dituju kami menyapa para pimpinan dengan lemah lembut.
Ada keceriaan yang terpancar membuat kami bahagia. Tugas muliapun tersampaikan dengan penuh hikmah setelah itu kami memutar haluan menuju rek penayong dengan misi poding tambah stamina. Menikmati kuliner nusantara dengan balutan Juz, nasi goreng dan kerang rebus.
Setelah itu kami berpisah dan menuju barak utama, guna menjaga stamina dalam menjalankan tugas mulia. Abu Kamaruzzaman Alumni Dayah Darussalam Al Waliyah Labuhan Haji, sosok Pimpinan yang ramah dan bersahaja. Ananda, apa yang bisa Abu bantu, lafadz itu teringat hingga kini. Beliau adalah sosok pimpinan yang ramah, santun dan elegan. Tiap CPR menyapa beliau selalu di suguhi kopi dan menu-menu khas Aceh. Misi malam itu berakhir dengan riang gembira. Irwanda Jamil pun senang bukan main kala itu, hehe. Banda Aceh Kolaborasi mesti menyala. Takbir.
***Penulisa adalah Magister Hukum Tata Negara USK, Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Alumni Lemhannas Pemuda Angkatan I
