Jum. Jul 24th, 2026

    Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

    Setiap hari Allah SWT menganugerahkan kepada kita waktu yang sama “24 jam”. Tidak ada yang memperoleh lebih, tidak ada pula yang memperoleh kurang. Namun, mengapa ada orang yang dalam usia singkat mampu meninggalkan jejak besar, sementara ada pula yang berumur panjang tetapi nyaris tanpa makna?

    Jawabannya terletak pada keberkahan umur.

    Dalam Islam, ukuran keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh panjangnya usia, melainkan oleh banyaknya amal dan luasnya manfaat yang dihasilkan. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini mengajarkan bahwa umur yang panjang hanya bernilai apabila dipenuhi dengan vibrasi kebaikan.

    Keberkahan umur bukan berarti hidup hingga seratus tahun. Keberkahan hidup adalah ketika setiap hari melahirkan nilai kebaikan, setiap langkah menjadi ibadah dan setiap kesempatan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberi getaran manfaat kepada sesama.

    Contoh Imam An-Nawawi. Beliau wafat pada usia sekitar 45 tahun, tetapi karya-karyanya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyah terus dipelajari hingga hari ini. Usianya telah berakhir, tetapi manfaat ilmunya masih terus hidup. Itulah salah satu gambaran nyata tentang umur yang diberkahi.

    Lalu bagaimana meraih keberkahan umur?

    Semuanya berawal dari hal-hal yang sederhana. Memulai setiap aktivitas dengan niat yang benar, menghargai waktu, menghindari kebiasaan menunda pekerjaan serta membiasakan amal-amal kecil yang dilakukan secara istiqamah. Senyum kepada sesama, membaca Al-Qur’an setiap hari, bersedekah meski sedikit, menjaga silaturahim, hingga mencari rezeki yang halal adalah investasi yang menjadikan umur lebih bernilai.

    Sering kali kita merasa waktu berjalan begitu cepat. Padahal yang sesungguhnya berkurang bukanlah waktu, melainkan kesempatan untuk berbuat baik. Karena itu, jangan menunggu hari esok untuk memulai perubahan. Jadikan hari ini lebih baik daripada kemarin, sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa banyak lembar usia yang masih Allah titipkan kepada kita.

    Umur bukanlah tentang berapa lama kita hidup, melainkan seberapa banyak vibrasi kebermanfaatan yang kita hadirkan bagi orang lain. Ketika setiap detik dipenuhi dengan iman, amal saleh, dan manfaat, maka waktu yang singkat pun akan menjadi panjang dalam keberkahan, serta terus dikenang bahkan setelah kita kembali kepada Allah SWT.

    **Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syari`ah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

    By fmla

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *