Sen. Jul 27th, 2026

Oleh Bung Syarif**

Banda Aceh Akademi (BAA) merupakah sebuah Lembaga yang dibentuk oleh Walikota berdasarkan Keputusan Walikota Banda Aceh No. 299 Tahun 2009. Lembaga yang hadir sejak tanggal 23 November 2009, dipimpin oleh Mr. Herman Meijer (Warga Belanda) sebagai direktur dan dibantu oleh beberapa pejabat pemerintah Kota Banda Aceh antara lain; Drs. Fahmi,M.Si sebagai wakil direktur, Drs Yuswardi sebagai sekretaris, dan di bantu oleh advisor oleh T. Bukhari Budiman, Drs. Said Yulizal, M. Si  serta Dra. Arfah salwa, M. Si.

Lembaga ini bertujuan sebagai pusat kaderisasi birokrat di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh. Markaz utamanya di Gedung DILO/ITLC yang kini dijadikan sebagai Tokoh Buku Zikra dan dijadikan sebagai tempat menjual berbagai makanan cepat saji.

Walikota Banda Aceh Bapak Ir. Mawardy Nurdin, M. Eng.Sc, mendeklarasikan sebuah institusi yang nantinya mampu mencetak kader-kader muda sebagai pewaris tahta pemerintahan di kota Banda Aceh.  Satu legecy dan ijtihad Birokrasi yang sunguh mulia dan luar biasa.

Pada saat deklarasi BAA dihadiri oleh Ketua DPRK Kota Banda Aceh, Sekda Kota Banda Aceh, Para Asisten, Kepala SKPD, Kepala Bagian, Para Camat serta Direktur Banda Aceh Akademi (BAA) Mr. Herman Meijer.

Dalam sambutannya Mawardy Nurdin mengatakan Banda Aceh Akademi merupakan salah satu program capacity building bagi PNS di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan spesialisasi dan kompetensi masing-masing PNS. Disini nantinya pusat peningkatan SDM bagi PNS dilingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh. Menyimak pidato Alm Mawardy Nurdin “dibeudoh buleu kuduk”

Untuk itulah menjadi penting peningkatan kualitas sumber daya aparatur dilingkungan Kota Banda Aceh dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, professional dan akuntabel.  Berbagai terobosan terus dilakukan termasuk menjalin kerjasama dengan pemerintahan Belanda, terutama Kota Appledoorn.

Pada awal terbentuknya lembaga ini Carlie Papa Romeo (CPR) dipercayakan oleh pimpinan dalam hal ini Bapak Drs. T. Saifuddin, TA, M.Si (Sekda Kota Banda Aceh) untuk mengajar bidang studi Penataan Kelembagaan Perangkat Daerah, tupoksi dan tata naskah dinas, Survey IKM bagi pejabat struktural meliputi Sekretaris Dinas, Badan, para Sekretaris Camat dan kepala Tata Usaha pada Kantor dilingkungan Kota Banda Aceh. Intruksi pimpinan secara emosional tentu berdampak psikologis apa lagi pada waktu itu CPR hanyalah staf pada Bagian Organisasi Setda Kota Banda Aceh. Tentu CPR yakin ada maksud tertentu dibalek itu semua, beliau menguji kopetensi kami sekaligus ingin melatih mental untuk senantiasa tampil percaya diri dalam bidang keilmuan yang dimiliki. Karna itulah CPR dituntut untuk mempertajam intelektual jimnastiknya agar cakap dalam menghadapi para pejabar Eselon Tiga (Kabag, Sekretaris Dinas, Para Camat), agar tidak “kikuk”.

Alhamdulillah, berkat pengalaman mengajar di kampus UIN Ar-Raniry dan beberapa Perguruan Tingi di Aceh, serta pernah memimpin berbagai organisasi Ormas/kepemudaan/LSM maka tidak ada kendala bagi CPR dalam menguasai forum/proses pembelajaran di BAA. Kalau soal mental CPR sudah mumpuni, maklum sejak menjadi aktivis 98 beberapa kali menjadi orator demontrasi hingga menjadi orataor di Medan (saat Demontrasi kenaikan BBM) bersama anak-anak HMI Cabang Medan.

CPR beranggapan bahwa BAA ini adalah ajang dalam melatih, mencetak kaderisasi birokrat yang tangguh di Kota Banda Aceh. Kepercayaan mengajar/menjadi narasumber yang diberikan oleh pimpinan tidak CPR sia-siakan. Sayangnya Keberadaan Banda Aceh Akedemi (BAA) hilang bagaikan hantaman tsunami.

Banda Aceh Akademi Kembali Bergema

Terpilihnya Bunda Illiza-Afdhal dalam pesta demokrasi serentak 2024 membawa angin segar terhadap eksistensi BAA. Dimana dalam dokumen arah pembangunan-nya, keberadaan BAA kedepan, bukan hanya fokus bagi ASN akan tetapi untuk berbagai kelompok masyarakat, mulai dari ASN, fresh graduate, tenaga kerja, profesional, pelaku usaha, siswa sekolah, mahasiswa, pedagang, ibu rumah tangga hingga profesional yang tergabung degang berbagai tujuan.

Ini tentu luar biasa cita-citanya. Kolaborasi menjadi jargon utamanya. Mengemas program antara lain; pelatihan teknis dan vokasi, pengembangan ketrampilan, inkubator bisnis dan kewirausahaan, memberikan akses cepat dan mudah ke dunia kerja, mendorong partisipasi komunitas kreatiff atau pekerja seni.

Syahdan, ini butuh sokongan berbagai komponen meliputi swasta; perusahaan, industri dan UMKM, Universitas dan Lembaga Pendidikan, Forum, Komunitas dan Organisasi, Lembaga Internasional, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.

Membaca dokumen program Prioritas Illiza-Afdhal, membuat gairah kembali bersemi, terutama bagi ASN Kota Banda Aceh yang benar-benar mengikuti arah pembangunan Kota berkelanjutan. Semoga Banda Aceh Akademi benar-benar terwujud kembali. Banda Aceh Kota Kolaborasi memang keren dan qece kata anak muda masa kini.

**Penulis adalah Magister Hukum Tata Negara USK, Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Pengurus ICMI Kota Banda Aceh periode 2024-2029, Aktivis`98, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Direktur Aceh Research Institute, KAHMI Aceh, Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI)YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Wali Santri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB)

By fmla

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *