Sat. Jul 11th, 2026

Oleh Siti Hajar, S.Pt.,M.Si**

Ternyata semua manusia menggunakan topeng dalam hidupnya. Makin tinggi usianya, maka topeng yang digunakan makin banyak jenisnya. Saat sedang sedih marah dan kecewa pun kadang harus tersenyum dan tertawa. Seperti panggung sandiwara. Memerankan banyak wajah dan karakter dengan berbagai emosi. Tentu kamu ingat lagu jadulnya Ahmad Albar berikut:

Dunia ini panggung sandiwara

Ceritanya mudah berubah

Ada peran wajah ada peran berpura-pura

Mengapa kita bersandiwara?

Peran yang kocak bikin orang terbahak-bahak

Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang ….

Baiklah mari kita beranjak dari lagu nostalgia itu, Mari lihat tujuh alasan mengapa orang, kamu dan tentu saja aku juga menggunakan topeng dalam menjalani hidup.

Pertama orang-orang menggunakan topeng untuk bertahan Hidup (Survival). Sejak awal peradaban, manusia bergantung pada kelompok untuk bertahan hidup. Agar diterima dan tidak dikucilkan, manusia belajar menyesuaikan sikap, ucapan, dan perilakunya dengan lingkungan. Inilah cikal bakal terbentuknya persona.

Kedua untuk melindungi diri dari luka psikologis. Tidak semua orang aman untuk mengetahui kelemahan, ketakutan, atau kesedihan kita. Karena itu, manusia sering menampilkan sisi yang lebih kuat atau lebih tenang sebagai bentuk perlindungan terhadap penolakan, penghinaan, atau eksploitasi.

Ketiga untuk memenuhi tuntutan peran sosial. Setiap orang menjalani banyak peran sekaligus sebagai anak, pasangan, orang tua, pemimpin, bawahan, guru, maupun teman. Setiap peran memiliki harapan perilaku yang berbeda sehingga seseorang secara alami menyesuaikan cara bersikap.

Keempat untuk membangun hubungan yang harmonis. Kehidupan sosial membutuhkan kemampuan mengendalikan emosi. Seseorang tidak selalu mengungkapkan semua yang dipikirkan atau dirasakannya karena mempertimbangkan perasaan orang lain, menjaga etika, dan menghindari konflik yang tidak perlu.

Kelima untuk membangun citra dan kepercayaan. Wah ternyata kita membutuhkan ini. Dalam kehidupan profesional maupun sosial, kesan pertama sering memengaruhi tingkat kepercayaan orang lain. Karena itu, manusia berusaha menampilkan diri sebagai pribadi yang kompeten, bertanggung jawab, dan dapat diandalkan. Pencitraan bisa jadi, tapi dengan ini kemudian seseorang mampu bertahan.

Keenam untuk menyesuaikan diri dengan norma dan budaya. Setiap masyarakat memiliki aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda. Apa yang dianggap sopan di satu budaya belum tentu diterima di budaya lain. Persona membantu seseorang beradaptasi dengan norma yang berlaku agar dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Ketujuh untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan publik. Tidak semua aspek kehidupan perlu dibagikan kepada semua orang. Setiap individu memiliki ruang privat yang layak dijaga. Persona membantu seseorang menentukan batas antara apa yang pantas diketahui publik dan apa yang menjadi bagian dari kehidupan pribadinya.

Benang Merah Teori Jung

Dari perspektif Carl Gustav Jung, menggunakan topeng bukanlah tanda kepalsuan atau berpura-pura. Persona adalah bagian alami dari perkembangan kepribadian yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan orang lain. Tanpa persona, seseorang akan kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial, karena setiap lingkungan memiliki aturan, harapan, dan nilai yang berbeda. Dengan kata lain, persona bukan musuh yang harus dihilangkan, justri ini adalah sarana agar manusia dapat menjalankan berbagai peran dalam kehidupannya.

Namun, Jung mengingatkan bahwa persona hanyalah sebagian kecil dari kepribadian, bukan keseluruhan diri. Di balik topeng yang dikenakan setiap hari, masih terdapat berbagai aspek psikologis lain yang sama pentingnya, seperti emosi yang disembunyikan, ketakutan yang tidak diakui, keinginan yang ditekan, nilai-nilai pribadi, hingga potensi yang belum berkembang. Semua aspek tersebut tetap menjadi bagian dari diri seseorang meskipun tidak terlihat oleh orang lain.

Persoalan muncul ketika seseorang mulai mengidentifikasi dirinya sepenuhnya dengan persona yang ia bangun. Seorang pemimpin, misalnya, merasa dirinya harus selalu kuat sehingga tidak pernah mengizinkan dirinya untuk merasa takut. Seorang profesional merasa dirinya harus selalu tampak sempurna sehingga menganggap kesalahan sebagai ancaman terhadap harga dirinya. Pada kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi sekadar memakai topeng, tetapi mulai hidup di balik topeng tersebut.

Jung percaya bahwa semakin besar jarak antara persona dengan kehidupan batin seseorang, semakin besar pula kemungkinan munculnya konflik psikologis. Emosi yang terus ditekan tidak benar-benar hilang. Kemarahan yang dipendam dapat berubah menjadi ledakan emosi, kesedihan yang tidak pernah diakui dapat berkembang menjadi kehampaan.

Sementara kebutuhan yang terus disangkal dapat muncul dalam bentuk perilaku yang sulit dipahami, bahkan oleh diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa seseorang yang selama bertahun-tahun terlihat tenang dan kuat terkadang mengalami kelelahan emosional atau krisis identitas ketika peran sosialnya berubah.

Di sinilah Jung memperkenalkan konsep shadow, yaitu sisi diri yang tidak sesuai dengan citra yang ingin kita tampilkan kepada dunia. Shadow bukan hanya berisi sifat-sifat yang dianggap negatif seperti iri hati, egoisme, atau kemarahan. Shadow juga dapat menyimpan kualitas positif yang selama ini ditekan karena dianggap tidak pantas, seperti keberanian, kreativitas, spontanitas, atau kemampuan memimpin. Semakin seseorang menolak keberadaan shadow, semakin besar kemungkinan sisi tersebut muncul tanpa disadari dalam perilaku sehari-hari.

Tujuan perkembangan kepribadian menurut Jung bukanlah membuang persona ataupun menghilangkan shadow. Yang ia sebut sebagai individuasi adalah proses menyatukan berbagai aspek kepribadian agar seseorang mengenal dirinya secara lebih utuh. Individu yang matang tidak  selalu menunjukkan seluruh isi hatinya kepada dunia, ia dengan bijak tahu kapan harus menunjukkan persona aslinya. Maka itu tidak jarang orang berdiri tegak di balik topengnya. Ini adalah senjatanya.

Dengan demikian, kesehatan psikologis diukur dari seberapa sadar ia memahami bahwa topeng itu hanyalah alat, bukan identitasnya. Persona dapat dikenakan ketika menjalankan peran sebagai orang tua, pasangan, pemimpin, guru, atau profesional. Namun, ketika semua peran itu selesai, seseorang tetap mampu kembali kepada dirinya sendiri—mengenali nilai-nilai yang diyakini, menerima kelemahan dan kekuatannya, serta hidup selaras dengan siapa dirinya sebenarnya.

Inilah pesan terdalam Jung: bukan topeng yang berbahaya, tetapi saat seseorang lupa bahwa ia sedang mengenakan topeng. Pada saat persona menjadi satu-satunya identitas yang diakui, seseorang perlahan kehilangan hubungan dengan diri yang sesungguhnya. Sebaliknya, ketika persona digunakan secara sadar sebagai alat untuk beradaptasi, tanpa menutupi kehidupan batin yang autentik, maka manusia dapat menjalani kehidupan sosial sekaligus tetap setia pada jati dirinya.

Memahami konsep persona mengajarkan kita bahwa setiap orang sedang menjalani pergumulannya masing-masing. Remaja yang sedang mencari jati diri, orang dewasa yang memikul berbagai tanggung jawab, hingga orang tua yang berusaha menjadi teladan, semuanya mengenakan topeng sesuai peran dan tuntutan hidupnya.

Oleh karena itu, daripada kita terburu-buru menghakimi topeng yang dikenakan seseorang, mungkin kita perlu belajar melihat dengan lebih bijaksana. Tentu saja sudah seharusnya kita mampu menghargai peran yang dijalankan seseorang. Ini harusnya dapat mengingatkan diri sendiri untuk tidak pernah kehilangan hubungan dengan jati diri yang paling autentik.

**Penulis adalah Personil Bidang Jurnalistik dan Publikasi Forum Milenial Literasi Aceh, Peminat Psikologi dan Hypoterapi

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *