Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Kemiskinan selalu menjadi persoalan besar dalam kehidupan manusia. Ia bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga persoalan sosial, pendidikan, bahkan moral dan peradaban. Karena itu, Islam memandang kemiskinan secara lebih mendalam, bukan sekadar melihat sedikit atau banyaknya harta yang dimiliki seseorang.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “miskin” diartikan sebagai serba kekurangan atau berpenghasilan rendah. Sedangkan “fakir” adalah keadaan yang lebih berat lagi: sangat berkekurangan.
Menariknya, dalam bahasa Arab, kata miskin berasal dari kata sakana yang berarti diam atau tenang. Sedangkan faqir berasal dari kata faqr yang berarti patah tulang punggung. Ini menggambarkan beratnya beban kehidupan yang dipikul seseorang.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa fakir adalah orang yang penghasilannya kurang dari setengah kebutuhan pokoknya, sedangkan miskin adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara layak.
Jika ditelaah lebih dalam, akar kata miskin memberi pelajaran penting: salah satu penyebab kemiskinan adalah sikap diam, enggan bergerak, atau tidak mau berusaha.
Di sinilah Islam sangat menekankan pentingnya ikhtiar. Allah SWT menjamin rezeki seluruh makhluk yang disebut dabbah (makhluk yang bergerak). Allah berfirman: “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6). Kata dabbah memberi isyarat bahwa rezeki Allah diberikan kepada mereka yang bergerak, berusaha, dan tidak menyerah pada keadaan.
Karena itu, kemiskinan menurut MYY dalam perspektif Islam dapat dibedakan menjadi dua.
Pertama, kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang lahir karena kemalasan, keengganan bekerja, tidak disiplin, atau tidak mau mengembangkan diri.
Kedua, kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang muncul karena ketidakmampuan: cacat fisik, keterbatasan akses pendidikan, ketidakadilan distribusi ekonomi, atau sistem sosial yang tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Islam tidak menyalahkan orang miskin. Tetapi Islam juga tidak membenarkan sikap menyerah dan berdiam diri tanpa usaha. Karena itu, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia agar bekerja, mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya yang Allah sediakan.
Masalahnya sering kali bukan karena Allah tidak menyediakan rezeki, tetapi karena manusia tidak mampu atau tidak mau mengelolanya dengan baik.
Hari ini sumber daya alam melimpah, teknologi berkembang, peluang terbuka luas. Namun ketimpangan tetap terjadi karena lemahnya ilmu, buruknya tata kelola, dan hilangnya keadilan dalam distribusi kekayaan.
Di sinilah pentingnya membangun umat yang produktif, berilmu, dan memiliki etos kerja yang kuat. Islam mengajarkan bahwa bekerja bukan sekadar mencari makan, tetapi bagian dari ibadah dan kemuliaan hidup.
Kemiskinan tidak selalu lahir karena sedikitnya sumber daya, tetapi sering lahir karena manusia kehilangan semangat untuk bergerak, belajar dan memperjuangkan kehidupan dengan penuh ikhtiar dan tawakal kepada Allah.
**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Syariah Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
#Serial Keshalihan 2026
