Sat. Jun 27th, 2026

Oleh: Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

Di era modern hari ini, banyak orang hidup dalam ritme kerja yang sangat cepat. Target demi target dikejar. Jabatan terus dinaikkan. Karier dibangun dengan penuh ambisi. Namun ironisnya, di tengah kesibukan itu, banyak manusia justru merasa hidupnya stagnan, lelah, bahkan kehilangan makna.

Dalam psikologi modern, kondisi ini dikenal dengan istilah Career Treadmill yaitu situasi ketika seseorang terus sibuk bekerja dan mengejar pencapaian karier, tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup atau tenang. Ibarat berlari di atas treadmill: tampak bergerak cepat, tetapi sesungguhnya tidak benar-benar sampai ke tujuan yang hakiki.

Awalnya seseorang merasa bahagia ketika mendapatkan pekerjaan bagus. Setelah itu muncul target baru: jabatan lebih tinggi, pendapatan lebih besar, fasilitas lebih mewah, dan pengakuan sosial yang lebih luas. Setelah tercapai, muncul lagi keinginan berikutnya.

Akhirnya hidup habis dalam perlombaan yang tidak pernah selesai.

Islam tidak melarang manusia mengejar karier. Bahkan Islam sangat menghargai profesionalisme, kerja keras, dan kontribusi terhadap kemaslahatan umat dan bangsa. Banyak nabi dan sahabat Rasulullah adalah pekerja keras, pedagang, pemimpin, dan pengelola masyarakat.

Namun Islam memberi satu prinsip penting bahwa karier tidak boleh membuat manusia kehilangan keseimbangan hidup.

Kesibukan pekerjaan tidak boleh melalaikan kewajiban terhadap Allah, keluarga, lingkungan sosial, dan bahkan tubuhnya sendiri.

Rasulullah SAW mengingatkan:

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, keluargamu memiliki hak atasmu, dan Tuhanmu memiliki hak atasmu.”

Hadis ini menunjukkan bahwa hidup harus dijalani secara seimbang.

Hari ini, banyak orang sukses secara profesional, tetapi gagal menghadirkan ketenangan dalam rumah tangga. Ada yang sangat dihormati di kantor, tetapi kehilangan kedekatan dengan anak-anaknya. Ada yang sibuk membangun reputasi publik, tetapi perlahan menjauh dari ibadah dan kesehatan dirinya sendiri.

Padahal dalam perspektif syariah, keberhasilan hidup tidak diukur hanya dari pencapaian duniawi, tetapi dari keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Karier adalah amanah.

Keluarga juga amanah.

Tubuh dan kesehatan pun amanah.

Karena itu, Islam mengajarkan konsep wasathiyah (keseimbangan) dalam menjalani kehidupan.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Berkarierlah dengan profesional.

Berikan kontribusi terbaik untuk umat dan bangsa.

Tetapi jangan sampai perjalanan karier membuat kita kehilangan orang-orang yang paling berharga dalam hidup: keluarga, orang tua, sahabat, bahkan diri kita sendiri.

Dan yang paling penting, jangan sampai kesibukan dunia membuat hati semakin jauh dari Allah.

Karier hanyalah bagian dari perjalanan hidup, bukan tujuan akhir kehidupan itu sendiri. Sebab manusia yang benar-benar sukses bukan hanya yang tinggi jabatannya, tetapi yang mampu menjaga keseimbangan antara pengabdian, keluarga, kesehatan, dan kedekatan kepada Allah.

**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

#Serial Keshalihan 2026

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *