Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Mengapa Islam menempatkan ibu pada posisi yang begitu mulia? Mengapa Rasulullah SAW sampai tiga kali menyebut “ibumu” ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan bakti seorang anak?
Ternyata, bukan hanya agama yang menjelaskan kemuliaan seorang ibu. Sains modern pun memperlihatkan betapa besar peran ibu dalam kehidupan manusia—bahkan hingga ke tingkat sel tubuh yang paling kecil.
Dalam biologi, terdapat organel kecil dalam tubuh manusia yang disebut mitokondria. Ia dikenal sebagai power house of cell. pabrik energi dalam tubuh manusia. Setiap manusia bergerak, berpikir, bernapas, bekerja, dan menjalani hidup dengan energi yang diproduksi oleh mitokondria.
Yang menarik, sains membuktikan bahwa DNA mitokondria diwariskan sepenuhnya dari ibu. Artinya, secara biologis, energi kehidupan yang bekerja dalam tubuh kita hari ini adalah warisan langsung dari ibu. Di sinilah kita mulai memahami bahwa berbakti kepada ibu bukan hanya perintah agama, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual dan ilmiah atas jasa kehidupan yang ia berikan.
Pertama, ibu adalah sumber energi utama kehidupan. Secara sains, mitokondria menghasilkan ATP—eneri utama tubuh manusia. Setiap langkah kaki, detak jantung, dan aktivitas hidup bergantung pada energi tersebut.
Maka secara filosofis, kita hidup dengan energi yang diwariskan ibu kepada kita sejak awal penciptaan.
Karena itu, berbakti kepada ibu sejatinya adalah bentuk rasa syukur atas energi kehidupan yang terus mengalir dalam diri kita.
Kedua, ibu meninggalkan jejak yang tidak pernah terhapus. Berbeda dengan DNA tubuh yang berasal dari ayah dan ibu, DNA mitokondria berasal murni dari ibu. Dalam bahasa sederhana: tubuh kita membawa “jejak ibu” dalam setiap sel yang bekerja menjaga kehidupan kita.
Sains seolah sedang mengonfirmasi kemuliaan ibu yang telah lama diajarkan Islam.
Ketiga, ibu memberikan warisan yang menentukan kualitas hidup. Kesehatan mitokondria memengaruhi stamina, metabolisme, hingga daya tahan tubuh seseorang. Artinya, ibu tidak hanya melahirkan anak, tetapi juga membawa fondasi biologis kehidupan bagi masa depan anak-anaknya.
Karena itu, Islam sangat keras dalam persoalan durhaka kepada ibu. Sebab pengorbanan ibu tidak hanya emosional dan fisik, tetapi juga biologis dan spiritual.
Keempat, hubungan ibu dan anak adalah hubungan yang sangat dalam dan nyaris tidak terputus. Garis mitokondria diwariskan terus-menerus melalui jalur perempuan. Ini memberi makna bahwa hubungan ibu dan anak bukan sekadar hubungan sosial, tetapi hubungan kehidupan yang sangat mendasar.
Mungkin karena itu, doa ibu begitu kuat. Air mata ibu begitu dalam pengaruhnya. Dan ridha ibu begitu besar kaitannya dengan ridha Allah.
Pada akhirnya, sains hanya membantu manusia memahami sedikit dari kebesaran ciptaan Allah.
Dan semakin ilmu berkembang, semakin manusia sadar bahwa kemuliaan ibu bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dalam tubuh kita sendiri ada energi kehidupan yang terus bekerja… yang dahulu diwariskan oleh seorang ibu dengan cinta dan pengorbanan tanpa batas.
**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
#Serial Keshalihan 2026
