Sun. Jun 28th, 2026

Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

Ketika berbicara tentang kekuatan, manusia sering kali menghubungkannya dengan harta, jabatan, kekuasaan, atau kecerdasan. Kita menganggap orang kuat adalah mereka yang memiliki pengaruh besar, kekayaan melimpah, atau posisi yang tinggi dalam masyarakat.

Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu lahir dari apa yang tampak di luar. Ada kekuatan yang justru lahir dari kedalaman jiwa dan kematangan hati.

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah SAW bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah, tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang suka memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

Hadis ini sesungguhnya mengajarkan tiga pilar kekuatan yang sering dilupakan manusia: sedekah, memaafkan, dan tawadhu’.

Pilar pertama adalah kekuatan memberi.

Secara logika manusia, memberi berarti mengurangi. Semakin banyak disedekahkan, semakin sedikit yang tersisa. Namun logika Allah berbeda dengan logika manusia.

Karena itu Rasulullah menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah. Bahkan Al-Qur’an menyatakan bahwa apa yang diinfaqkan di jalan Allah akan diganti oleh-Nya dengan cara yang tidak pernah kita sangka.

Orang yang gemar memberi sebenarnya sedang membangun kekuatan sosial, kekuatan spiritual, dan kekuatan keberkahan dalam hidupnya.

Bukan orang yang paling banyak menyimpan yang paling kaya.

Tetapi sering kali orang yang paling banyak memberi justru yang paling lapang hidupnya.

Pilar kedua adalah kekuatan memaafkan.

Banyak orang mampu membalas, tetapi tidak semua mampu memaafkan.

Banyak orang mampu melukai, tetapi tidak semua mampu menyembuhkan luka.

Karena itu Islam menempatkan memaafkan sebagai salah satu ciri utama orang bertakwa. Allah memuji mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan bukan berarti kalah. Memaafkan adalah kemenangan atas ego diri sendiri.

Dalam keluarga, persahabatan, organisasi, dan masyarakat, tidak ada hubungan yang dapat bertahan lama tanpa kemampuan memaafkan.

Pilar ketiga adalah kekuatan tawadhu’.

Semakin tinggi pohon, semakin ia merunduk. Demikian pula manusia.

Orang yang benar-benar berilmu biasanya lebih rendah hati. Ia sadar bahwa apa yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Jabatan bisa berakhir. Harta bisa hilang. Popularitas bisa memudar.

Tetapi akhlak yang baik akan tetap dikenang.

Tawadhu’ bukan merendahkan diri di hadapan manusia. Tawadhu’ adalah kesadaran bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Hari ini dunia mengajarkan manusia untuk berlomba menjadi yang paling kaya, paling terkenal, dan paling berkuasa.

Namun Rasulullah mengajarkan jalan yang berbeda.

Jadilah orang yang ringan memberi.

Mudahlah memaafkan.

Dan tetap rendah hati ketika berada di puncak.

Tiga pilar itu adalah sedekah yang melapangkan, maaf yang memuliakan, dan tawadhu’ yang meninggikan derajat di sisi Allah.

**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syari`ah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *