Sun. Jun 28th, 2026

Oleh Siti Hajar, S.Pt, M.Si**

Jika dahulu tantangan terbesar orang tua adalah memilih lingkungan bermain anak, maka saat ini tantangan itu telah berpindah ke dalam genggaman tangan. Sebuah telepon pintar yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan mampu membuka akses anak kepada jutaan informasi, ribuan teman, berbagai budaya, bahkan nilai-nilai yang mungkin bertentangan dengan apa yang diajarkan keluarga.

Bagi remaja awal yang sedang berada dalam fase pencarian identitas, dunia digital bukan sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi ruang sosial tempat mereka belajar, berinteraksi, mencari pengakuan, dan membentuk jati diri.

Jika tadinya saya mengalami dilema saat melihat teman-teman dan orang-orang di sekitar saya mengalami masa-sama sulit karena tingkah anak mereka yang lumayan “rumit” dalam artian sulit dipahami. Hari ini sayalah yang mengalami dilemma itu. Orang tua benar-benar diuji dengan mood swing yang terjadi pada anak remajanya. Sikap dan perilaku yang ditunjukkan kadang aneh-aneh. Apa hanya saya yang merasa, kok beda ya dengan masa remaja kita dulu?

Ada banyak aturan dan kesepakatan yang dilanggar. Mereka lebih memilih bermain dengan gadget dibandingkan ikut orang tua sarapan di luar. Di hari libur sekolah mereka memilih nongkrong dengan temannya di café sambil bermain game online.

Dari perspektif psikologi perkembangan. Benar saja kondisi ini menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Orang tua tidak lagi hanya berperan sebagai pengawas perilaku anak di dunia nyata, tetapi juga sebagai pendamping dalam dunia digital yang bergerak sangat cepat.

1. Mencari Identitas di Tengah Banjir Informasi

Menurut Erik Erikson, tugas perkembangan utama remaja adalah membentuk identitas diri (Identity vs. Role Confusion). Pada masa ini, remaja mulai bertanya, “Siapa saya?”, “Nilai apa yang saya pegang?”, dan “Saya ingin menjadi seperti siapa?”.

Di era digital, pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi hanya dijawab melalui keluarga, sekolah, atau lingkungan sekitar. Remaja juga dipengaruhi oleh kreator konten, influencer, tokoh publik, komunitas daring, dan algoritma media sosial. Mereka dapat mencoba berbagai gaya hidup, pandangan, dan identitas yang mereka lihat di internet.

Kesempatan ini dapat memperluas wawasan, tetapi juga dapat membuat remaja bingung jika tidak memiliki dasar nilai yang kuat. Tantangan bagi orang tua bukan lagi sekadar melarang, melainkan membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis agar mampu menilai informasi dan memilih nilai yang sesuai.

2. Validasi Sosial yang Bergeser ke Dunia Maya

Remaja secara alami memiliki kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya. Dalam teori interpersonal Harry Stack Sullivan, hubungan dengan teman menjadi sangat penting pada masa ini karena membantu membentuk kemampuan menjalin kedekatan, empati, dan rasa memiliki.

Di era digital, kebutuhan tersebut sering diterjemahkan melalui jumlah pengikut, tanda suka, komentar, atau jumlah penonton. Akibatnya, sebagian remaja mulai mengaitkan harga dirinya dengan respons yang diterima di media sosial. Mereka dapat merasa sangat senang ketika unggahannya mendapat banyak perhatian, tetapi juga mudah kecewa ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan.

Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa penghargaan terhadap diri sendiri tidak seharusnya bergantung pada angka-angka di layar, melainkan pada kemampuan, karakter, dan hubungan yang sehat dengan orang lain.

3. Paparan Informasi yang Melebihi Kematangan Berpikir

Menurut Jean Piaget, remaja awal mulai memasuki tahap operasional formal sehingga kemampuan berpikir abstrak berkembang. Namun, kemampuan ini belum matang sepenuhnya.

Di sisi lain, internet menyajikan berbagai informasi yang sangat kompleks, mulai dari isu politik, konflik sosial, kesehatan mental, hingga teori konspirasi. Remaja dapat mengakses semuanya sebelum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengevaluasi sumber informasi atau membedakan fakta dan opini.

Di sinilah peran orang tua berubah. Mereka tidak cukup hanya memberikan jawaban, tetapi juga perlu mengajarkan cara bertanya, memeriksa sumber, mengenali bias, dan berpikir secara ilmiah.

4. Otak yang Belum Matang Bertemu Teknologi yang Sangat Menarik

Neuropsikologi menunjukkan bahwa bagian otak yang mengatur pengendalian diri, yaitu korteks prefrontal, masih berkembang hingga usia dewasa muda. Sebaliknya, sistem yang memproses emosi dan penghargaan berkembang lebih awal.

Kondisi ini membuat remaja lebih mudah tertarik pada pengalaman yang memberikan kepuasan instan. Banyak aplikasi digital memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna melalui notifikasi, video pendek, atau sistem penghargaan yang membuat pengguna ingin terus kembali.

Akibatnya, sebagian remaja menjadi sulit mengatur waktu penggunaan gawai, menunda tugas, atau berhenti menggunakan media sosial. Hal ini bukan berarti mereka tidak memiliki kemauan, tetapi kemampuan mengendalikan impuls memang masih berkembang.

Karena itu, pendampingan orang tua sebaiknya berupa pembiasaan dan penyusunan aturan bersama, bukan sekadar larangan yang kaku.

5. Perbandingan Sosial yang Semakin Intens

Media sosial memperlihatkan potongan-potongan kehidupan orang lain yang sering kali hanya menampilkan sisi terbaiknya. Remaja yang sedang membangun konsep diri mudah membandingkan penampilan, prestasi, atau kehidupan mereka dengan apa yang dilihat di layar.

Perbandingan yang terus-menerus dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri, kecemasan, atau perasaan bahwa dirinya selalu tertinggal. Orang tua perlu mengingatkan bahwa apa yang terlihat di media sosial sering kali merupakan hasil seleksi, penyuntingan, bahkan rekayasa, sehingga tidak mencerminkan keseluruhan kehidupan seseorang.

6. Berkurangnya Interaksi Tatap Muka

Kemampuan berkomunikasi secara langsung tetap merupakan bagian penting dari perkembangan sosial. Meskipun media digital mempermudah komunikasi, hubungan yang sehat tetap membutuhkan keterampilan mendengarkan, membaca ekspresi wajah, memahami bahasa tubuh, dan mengelola konflik secara langsung.

Apabila sebagian besar interaksi hanya terjadi melalui layar, kesempatan remaja untuk melatih keterampilan sosial tersebut dapat berkurang. Oleh karena itu, keluarga tetap perlu menyediakan ruang untuk percakapan tanpa gangguan gawai, kegiatan bersama, dan pengalaman sosial di dunia nyata.

7. Orang Tua Menghadapi Kesenjangan Digital

Banyak orang tua merasa teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk memahaminya. Aplikasi yang populer hari ini bisa saja tergantikan beberapa bulan kemudian. Akibatnya, sebagian orang tua memilih melarang penggunaan teknologi karena merasa tidak memahami risikonya.

Padahal, pendekatan yang lebih efektif adalah menjadi pembelajar bersama anak. Orang tua tidak harus mengetahui semua aplikasi, tetapi perlu memahami prinsip-prinsip dasar keamanan digital, privasi, etika bermedia, serta membuka ruang dialog agar anak merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi masalah di dunia maya.

Dari Pengawas Menjadi Pendamping

Perubahan terbesar yang perlu dilakukan orang tua di era digital adalah mengubah peran. Ketika anak masih kecil, pengawasan langsung sering kali menjadi pendekatan utama. Namun, memasuki remaja awal, pendekatan tersebut perlu berkembang menjadi pendampingan yang didasarkan pada komunikasi, kepercayaan, dan kesepakatan.

Pendampingan yang efektif bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas, tetapi juga bukan berarti mengontrol setiap aktivitas anak. Orang tua perlu membantu remaja belajar mengambil keputusan, memahami konsekuensi, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Dengan cara ini, pengendalian diri perlahan berpindah dari kontrol eksternal menuju kontrol internal.

Era digital tidak mengubah tugas perkembangan remaja, tetapi mengubah cara tugas-tugas itu dijalani. Remaja tetap harus membentuk identitas, belajar mengelola emosi, membangun hubungan sosial, dan mengembangkan moral. Bedanya, semua proses tersebut kini berlangsung di dua dunia sekaligus, yakni dunia nyata dan dunia digital.

Semog akita sebagai orang tua mampu menghadapi tantangan ini. Keadaan ini bukan karena teknologi yang tidak mampu kita bendung. Namun, sejatinya kita orang tua dan lingkungan mampu menciptakan figur yang relevan di tengah derasnya arus informasi. Remaja yang merasa didengar, dihargai, dan memiliki hubungan yang hangat dengan orang tuanya cenderung lebih terbuka ketika menghadapi persoalan di dunia digital.

Dengan demikian, sudah semestinya rumah tetap menjadi tempat pertama bagi mereka mencari arah. Orang tua menjadi panutan. Keluarga menjadi lingkungan yang sehat untuk mereka tumbuh dan memahami nilai-nilai yang baik. Hal ini menjadi dasar bagi mereka menyiapkan masa depan yang gemilang. Di akhir tulisan ini saya mengajak, jangan pernah lupa untuk terus mendoakan anak-anak kita menjadi anak shaleh dan shalehah yang dirindukan di masa mendatang. Beumutuah, asoe syurga ban mandum. Insyaallah.

**Penulis adalah Personil Bidang Jurnalistik dan Publikasi Forum Milenial Literasi Aceh, Saat ini sedang mendalami ilmu Psikologi dan Hypnoterapi.

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *