Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Ghafur”. Diksi al ghafur memiliki kesamaan arti dengan, al ghaffar, al `afuw. Yang bermakna Allah zat yang maha pengampun, Allah maha pemaaf.
Para ulama berpendapat, Asma al ghaffar dan al ghafur serta istilah maghfirah untuk menyatakan bahwa Allah maha mengampuni dosa, namun dosa itu masih ada. Mengapa? Karena dosa itu ditutupi oleh Allah didunia dan diakhirat nanti juga ditutupi sehingga tidak kelihatan dari pandangan makhluk. Dengan kemurahan-Nya, Allah tidak menyiksa seseorang karena dosa tersebut. Tetapi dosa itu masih ada. Sementara dosa yang dihapus dan tidak ada lagi diperuntukkan bagi Allah pada Al `Afuw. Karena dosa telah dihapus maka dosa yang dilakukan sudah tidak ada; seolah-olah ia tidak pernah melakukukan kesalahan.
Karena dosa telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dengan demikian pemberian maaf dengan melebur dosa lebih istimewa ketimbang mengampuni dengan sekedar menutupi dosa dalam kesalahan saja. Dalam kontek al gaffar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengampuni segala dosa dari segi kuantitasnya, sedang al ghafur adalah mengampuni dosa dari segi kualitasnya.
Karna itu bagi siapa saja yang melakukan kesalahan diharapkan sering-sering mengucapkan al ghaffar agar Allah mengampuni segala dosanya, sedangkan yang melakukan kesalahan berat atau dosa berat diharapkan segera menyebutkan al ghafur agar dapat pengampunan Allah.
Namun demikian ada juga ulama yang berpendapat al ghaffar berorientasi preventif pada pada pengampunan dosa masa kini dan masa datang. Adapun al ghafur Allah mengampuni dosa masa lalu, kini hingga masa yang akan datang.
Allah berfirman; “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun lagi maha penyanyang (Qs. Ali Imran;31)
Di ayat yang lain Allah menegaskan bahwa taubat menjadi pintu pengampunan-Nya bagi para pendosa kafir sekalipun. Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah kafir itu dan pengampun lagi maha penyanyang (Qs. Ali Imran; 89).
Kepunyaan Allah apa yang ada dilangit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah maha pengampun lagi penyanyang (Qs. Ali Imran; 129).
Oleh karena itu cara terbaik dalam merefleksikan spirit Al Ghafur adalah sebagai berikut;
Pertama; mensyukuri al ghafur dengan terus menerus mengucapkan alhamdulillahirabbil `alamin, dengan harapan segala dosa baik yang sudah terjadi maupun dosa sekarang dan yang akan datang diampuni Allah dan kekurangan kita ditutupi Allah, sehingga mulia dimata manusia dan mendapat curahan kasih sayang Allah.
Kedua; menyakini sepenuh hati bahwa Allah zat yang maha mengampuni dosa hamba-Nya apalagi bagi insan yang segera bertaubat nasuha. Seberapapun dosa yang dilakukan oleh hamba-Nya setelah ia bertaubat maka akan diampuni dosanya oleh Allah. Serta senantiasa berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut, serta senantiasa berbuat kebaikan sesama insan dan bertaqwa pada Allah SWT.
Ketiga; mensyukuri al ghafur dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, diantara lain menjadi pribadi yang suka memberi maaf baik diminta maupun tidak. Disamping itu pula suka menutupi aib dan kekurangan orang lain. Seandainya kita mengetahui aib dan kekurangan orang lain biarkan untuk dikonsumsi pribadi saja jangan diumbar di medsos dan diceritakan kepada orang lain secara maraton, sehingga diketahui publik. Jika kita menutup aib orang lain maka Allah menutupi aib kita. Ingat tidak ada orang tanpa aib, cuma Allah sajalah yang tidak membuka aib kita.
Keempat; mensyukuri al ghafur dengan memperbanyak istighfar, tidak mengungkit kesalahan orang yang sudah meminta maaf serta menjaga diri dari segala dosa serta terus menerus mengharap ampunan Allah atas dosa yang pernah kita perbuat.
**Goresan pena Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketua DPD BKPRMI Banda Aceh, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin
