Fri. Jun 14th, 2024

Oleh Bung Syarif*

Dayah Darul Fikri Al-Waliyah  didirikan pada tanggal 5 oktober 2010, Gampong Deah Baro, Kecamatan Meuraxa. Awal terbentuknya Dayah ini berbadan hukum Lembaga Pendidikan Al-Qur`an Al Fikri (dibaca Bale Pengajian) karena kala itu belum ada santri yang mondok. Pada Tahun 2016 lokasinya berubah di Jalan Blang Sawah Dusun Tgk. Jalara Gampong Cot Lamkeuweuh. Statusnyapun menjadi Yayasan Pendidikan Islam Dayah/Pesantren Darul Fikri Al-Waliyah.

Kegigihan Abi Wahyu Mimbar, M.Ag, pimpinan Dayah yang juga alumni magister ilmu bahasa Arab UIN Ar-Raniry ini, pelan tapi pasti, Dayah ini terus berkembang. Memulai dari nol akhirnya pada tanggal 22 Februari 2017, Dayah ini diresmikan langsung oleh gurunya, Abuya H. Mawardi Wali Al-Khalidy, salah satu ulama tersohor Aceh, Pimpinan Dayah Darussalam Al-Waliyah, Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan.

Berkah gurunya Dayah ini terus berkembang. Sumbangan dari berbagai donatur mengalir, dayahpun semakin berkembang. Santri terus bertambang. Kalau malam lebih kurang 600 santri berjubel dari berbagai pelosok gampong se-Kecamatan Meuraxa Banda Aceh.

Kepiawaian Abi Wahyu dalam mengelola dayah dan melakukan komunikasi “gaseuh meugaseh bila meubila” Konsep meutaloe wareuh yang  dibangun Abi Wahyu dengan menghadirkan berbagai guru terbaik lintas alumni, baik Alumni Darussalam Labuhan Haji, Mudi Mesra Samalanga, Budi Lamno, Darul Ulum, Darul Ihsan, Darussa`adah serta berbagai alumni dayah salafiyah (tradisional) lainnya serta Dayah Terpadu terbaik di Aceh membuat dayah ini semakin diminati santri bansigoem Aceh. Dayah maju, ekonomi lingkungan dayah bangkit.

Nasab keilmuan dayah darul fikri berwarna-warni, tidak satu manhaj. Inilah yang saya sebut konsep “dayah meutaloe wareh” dan alumninya meusyedara. Abi Wahyu Mimbar sosok insan yang santun dalam setiap gerakan dakwahnya. Salah seorang anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh ini, sosok insan yang luar biasa. Kami mengenalnya sejak dilantik sebagai Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh 17 Juli 2016. Kehadiran kami di dayah disambut dengan hangat yang pada akhirnya memantulkan energi positif dalam pentadbiran dayah. Buah manis perjuangan kami adalah menghadirkan gedung asrama dua lantai bersumber dari dana otsus yang awalnya kami berjuang 2 Milyar akhirnya disetujui 500 Juta, bermodalkan pena sehat.

Disamping itu pula lewat pena sehat, kami usulkan dayah Darul Fikri Al Waliyah masuk salah satu program santri tahfidz yang merupakan program unggulan Disdik Dayah Banda Aceh. Kini Dayah ini pun semakin berkembang dengan membuka dua kampus yaitu kampus putri dan kampus putra yang bersebelahan. Awalnya digabung satu lokasi dan kini terpisah. Pak Pj Walikota, Bakri Siddiq, SE, M.Si hadir perdana dalam nuansa perayaan maulid nabi, minggu 13 Nopember 2022.

Abi Wahyu punya mimpi besar. Ia berkata: Ustadz Syarif saat in santri kami terus bertambah, setiap bantuan yang mengalir ke dayah, saya gunakan untuk menambah ruang kelas. Ya, saya melihat dengan terang benderang, para tukang sedang mengerjakan pembuatan bilik dan ruang belajar. Gudang garasi mobilpun kini di sulap jadi ruangan plus satu ruang sekretariatan dibuat dengan apik ala Ustadz Wahyu Mimbar. Beliau selalu menyampaikan pesan pada mursyidnya inilah orang yang membantu dayah kita, saya merasa terharu, padahal ikhtiar kenegaraan yang kami lakukan tidak seberapa.

Hanya menggunakan pena sehat saja untuk kemajuan dayah di Kuta Raja. Kudoakan agar Abi Wahyu tetap istiqamah dalam mendidik anak- anak di Kuta Raja menjadi insan qur`ani dan berkarakter “profertik kenabian”. Konsep meutaloe wareuh yang digagas Abi Wahyu punya kemiripan dengan gaya Kiyai Iman Juzuli, Lc, MA Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.

*Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh, Mantan Aktivis`98

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *