Fri. Jun 14th, 2024

Oleh : Mariah Ulfa, M. Pd*

Pada era  zaman modern seperti saat ini, pasti tidak awam lagi dengan kata dunia maya atau sering disebut sosial media online, didalamnya itu tercakup beberapa sarana untuk berinteraksi dengan dunia virtual,  seperti yang sangat dasar aplikasi whatsapp, facebook, twiter, youtube dan aplikasi – aplikasi lainnya. Pengunaan sosial media tentunya memiliki efek, baik itu positif dan juga ada sisi negatifnya sesuai pengguna yang mengelolakannya. Dalam dunia pendidikan hampir semua berkecimplung dalam sosial media bahkan dari anak anak tingkat SD, remaja hingga dewasa sudah sangat mahir dalam mengelola aplikasi – aplikasi tersebut. Banyak manfaat yang didapatkan di dalam sosial media yang mana media online ini para penggunanya dengan gampang perpartisipasi, berbagi dan menciptakan pokok, meliputi blok, jejaring sosial dan dunia virtual,  banyak informasi-informasi yang bermanfaat yang didapat sehingga tidak tertinggal informasi yang ter up date, dan dapat menambahkan khazanah ilmu pengatahuan.

Sosial media dapat di akses melalui jaringan internet dengan mengunakan teknologi ip, android, latop dan sejenisnya, dalam dunia pendidikan dayah baik itu lembagi dayah pesantren modern dan lembagi dayah salafi, khususnya di aceh, para santri dilarang keras untuk membawa alat elektronik, sehingga para santri bisa tertingal satu langkah dibandingkan siswa yang menempuh pendidikan di sekolah umum dikarnakan keterbatasan santri dalam mengakses informasi dan memamfaatkan aplikasi sosial media. Maka hal ini menjadi suatu permasalahan yang Menarik untuk dicarikan sosusi.

Menangapi permasalahan tersebut, maka tuntutan kepada pengajar dayah tgk, ustd maupun ustzah supaya bisa exis dalam dunia maya dan media sosial untuk bisa meng upgret dirinya tidak hanya berkopetensi dalam bidang khazanah keilmuan kitab saja namun juga bisa berkontribusi dalam dunia virtual sesuai dengan tuntunan zaman modern saat ini, dengan demikian tgk, ustad/ustzah bisa menyalurkan informasi informasi ter up date tersebut kepada santri. Tgk, ustad/ustazah yang berkopetensi tentu akan melahirkan santri-santri yang berkopetensi pula merdeka dibidang agama juga di bidang intelektual.    

Fakta yang penulis dapatkan dalam forum perkumpulan pengajar dayah dalam pelatihan penulisan ilmiah yang diselengarakan oleh dinas pemerintah badan dayah, pada tgl 15-17 Agustus kemarin, masih ada satu dua tgk, ustad/ustazah  pengajar dayah yang engan berkecimplung dalam dunia maya dan  masih belum mampu secara totalitas memanfaatkan akun media social, hal ini sangat disayangkan, padahal wadah tersebut salah satu jalan menuju kemerdekaan dalam khazanah eksistensi pengupgretan diri, dan wadah untuk berkarya  untuk menghasilkan mamfaat kepada dirinya dan tentu juga akan berdampak positif kepada  lembaga pendidikan tempat tgk, ustad/ustazah tersebut mengabdi.

Dalam era teknologi yang berkembang yang begitu pesat saat ini. Pengajar dayah jangan mau ketinggalan kita juga harus mampu menguasai itu untuk bisa memanajemankan pembelajaran yang lebih baik. Sehingga profesialisme pengajar dayah lebih bisa terarah dan berkualitas, serta pandangan rendah dimata masyarakat umum bahwasanya pendidikan di dayah ketertinggalan dalam bidang kehidupan modern bisa ditepis.

Harapan penulis melalui tulisan ini, mari kita sesama pengajar di dayah baik itu pengajar didayah salafi maupun modern bangkit dari ketertinggalan teknologi dan maju satu langkah untuk mengupgeretkan diri.  Mari kita aktif dalam dunia virtual bukan hanya dalam dunia nyata saja. Keexsistensi  dalam dunia maya yang dimaksud disini tentu dalam lingkup “Amal ma’ruf nahi mungkar”  dengan demikian Melaui peran pengajar yang aktif dan konsisten bermedia sosial dimana orang beranggapan bahwa media sosial lebih banyak bahayanya maka ditangan pengajar di dayah khususnya harus bisa diubah yakni media sosial akan berdaya guna, selain pengupgretan diri, berkarya, juga sebagai sarana untuk berdakwah.  Akan banyak sekali karya-karya pengajar bisa terpampang serta banyak orang yang menikmatinya karena kebermamfaatannya.

            Untuk mewujudkan pendidikan dayah yang optimal tentunya tidak bisa berjalan lancar tanpa dukungan dari pemerintah. Baik itu dalam bentuk dana maupun transformasi intelektual seperti kegiatan kegiatan pelatihan. Dalam hal ini pemerintah badan dayah sudah mencoba menyelengarakan sebuah pelatihan khusus untuk pengajar dayah tentang pelatihan penulisan ilmiyah dengan tema Budaya Literasi di era Milenial. Maka ini salah satu bentuk wujud pedulinya pemerintah terhadap pendidikan dayah supaya pendidikan dayah di Aceh khususnya semakin merdeka. dan semoga kedepan masih banyak pelatihan pelatihan lainnya yang bermanfaat untuk  pengajar dan pelajarnya supaya lembaga pendidikan dayah di Aceh selalu update dan upgret kearah yang lebih baik sehinnga  semakin modern semakin berjaya dan merdeka.

* Penulis adalah Guru Pondok Pesantren Babun Najah, Peserta Pelatihan Menulis Ilmiah yang dilaksanakan oleh Disdik Dayah Banda Aceh, 15-17 Agustus 2022 di Hotel Kyriad Muraya Aceh

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *