Kutacane — Upaya membentuk karakter peserta didik di lingkungan pendidikan kini merambah aspek gaya hidup sehari-hari. Kepsek SMA Negeri Perisai Kutacane Zaini Bainullah, S.Pd,M.Si memulai langkah awal pembentukan karakter siswa melalui agenda Sosialisasi Pemetaan Potensi dan Penguatan Karakter Berbasis STIFIn Genetik dengan mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian lingkungan serta pola makan sehat.
Dalam agenda tersebut, budaya membawa tumbler diperkenalkan kepada para siswa sebagai bagian integral dari gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) dan literasi ekologis. Gerakan ramah lingkungan ini ditekankan melalui dua pilar utama, yakni penerapan prinsip zero waste untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai serta penguatan eco-lifestyle sebagai bentuk kesadaran menjaga kelestarian alam.
Selain aspek lingkungan, program pembentukan karakter ini juga menyentuh aspek kesehatan fisik melalui intervensi perilaku makan (dietary behavior intervention). Para siswa diajak mengubah kebiasaan mengonsumsi makanan ringan yang digoreng beralih ke makanan rebusan seperti ubi, jagung, dan kentang guna mewujudkan pola hidup yang lebih sehat. Rangkaian kegiatan ini menjadi fondasi awal dalam agenda pembinaan siswa di sekolah. Melalui pengenalan kebiasaan ramah lingkungan dan pengaturan pola konsumsi, pihak sekolah berupaya membangun kesadaran komprehensif pada diri peserta didik, yang tidak hanya berfokus pada potensi genetik melalui metode STIFIn, tetapi juga kepedulian terhadap kesehatan pribadi dan kelestarian bumi
