Kutacane — Seberapa jauh seorang siswa mengenal dirinya sendiri? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari gagasan yang diangkat SMA Negeri Perisai Kutacane melalui Sosialisasi Pemetaan Potensi dan Penguatan Karakter Berbasis STIFIn Genetic, Selasa, 1 September 2026.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Bidang Kesiswaan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah memperkuat pengembangan peserta didik sekaligus mendukung program Bidang Kurikulum, khususnya dalam menciptakan proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pengenalan potensi dan penguatan karakter siswa.
Dalam pelaksanaannya, OSIS turut berperan sebagai unsur pendukung kegiatan, terutama dalam membantu kelancaran teknis dan keterlibatan siswa.
Sosialisasi menghadirkan Indra, S.Pd., CH, C.PMC, C.WS, C.DMP, CPS, CCLS, CTRS, CCHS sebagai narasumber sekaligus promotor STIFIn Genetic yang juga Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Forum Milenial Literasi Aceh. Materi diarahkan pada pengenalan potensi diri, pengelolaan emosi, penguatan mental, pola interaksi, serta pendekatan konseling dan pengembangan diri.
Bagi SMA Negeri Perisai Kutacane, pengembangan peserta didik tidak cukup berhenti pada pencapaian nilai akademik. Siswa juga perlu memperoleh ruang untuk memahami dirinya, mengenali kekuatan dan tantangan yang dimiliki, serta menemukan cara yang tepat untuk mengembangkan potensinya.
Kepala SMA Negeri Perisai Kutacane, Zaini Bainullah, S.Pd., M.Si., mengatakan pendidikan memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar mengejar prestasi akademik.
“Sekolah tidak hanya bertugas mengantarkan siswa mencapai prestasi akademik, tetapi juga membantu mereka mengenali dirinya, memahami potensinya, dan membangun karakter yang kuat,” ujar Zaini.
Menurutnya, pemetaan potensi dapat menjadi salah satu pendekatan yang membantu sekolah dan siswa memahami arah pengembangan diri secara lebih terarah.
“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, kita perlu memberikan ruang agar mereka dapat mengenali dan mengembangkan potensi tersebut,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ira Juliati, S.Pd., mengatakan penguatan karakter perlu menjadi bagian dari pembinaan peserta didik yang dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut Ira, pembinaan siswa tidak semestinya hanya bertumpu pada tata tertib dan kedisiplinan. Pemahaman terhadap karakter dan potensi siswa juga diperlukan agar pendekatan pembinaan, komunikasi, dan pendampingan dapat dilakukan secara lebih tepat.
“Anak-anak perlu memiliki ruang untuk mengenal dirinya sendiri. Ketika mereka memahami kekuatan dan tantangan dalam dirinya, kita berharap mereka lebih mampu mengelola emosi, berinteraksi dengan lingkungan, serta mengambil keputusan secara lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi antara Bidang Kesiswaan dan Bidang Kurikulum menjadi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih utuh. Jika kurikulum berperan dalam memastikan proses dan capaian pembelajaran, maka pembinaan kesiswaan turut memperkuat aspek karakter, potensi, dan perkembangan pribadi peserta didik.
Keterlibatan OSIS dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran organisasi bagi siswa. Sebagai unsur pendukung, OSIS tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam membangun kerja sama, tanggung jawab, komunikasi, dan kepemimpinan.
Melalui kegiatan tersebut, SMA Negeri Perisai Kutacane menunjukkan bahwa pengembangan siswa tidak hanya berbicara tentang seberapa tinggi nilai yang mampu diraih, tetapi juga tentang seberapa baik siswa mengenal dirinya dan mampu mengembangkan potensinya.
Pada akhirnya, pertanyaan penting dalam pendidikan bukan hanya “berapa nilai yang kamu dapat?”, tetapi juga: “Siapa dirimu, apa potensimu, dan bagaimana kamu akan mengembangkannya?” (CPR)
