Oleh Bung Syarif**
2 September 1959 atas prakarsa Prof Ali Hasymi, Darussalam menjadi jantung pendidikan Aceh. Dasar ini pula setiap tanggal 2 September pemerintah Aceh menjadikannya sebagai momentum Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh. Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun pendidikan Aceh yang bermutu, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Hardikda bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Peringatan ini merupakan kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan pendidikan Aceh sekaligus meneguhkan kembali semangat seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan layanan pendidikan yang semakin berkualitas dan merata.
Di tengah perubahan teknologi dan perkembangan dunia yang begitu cepat, pendidikan memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi Aceh yang cerdas, berintegritas, kreatif, mandiri, serta memiliki karakter dan jati diri yang kuat.
Pendidikan Aceh juga memiliki kekhasan tersendiri. Nilai-nilai keislaman, budaya, adat, dan kearifan lokal merupakan bagian penting yang harus terus menjadi fondasi dalam proses pembentukan generasi muda.
Karena itu, penguatan pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik. Pendidikan juga harus mampu membentuk akhlak, etika, kepedulian sosial, semangat kebangsaan, serta kemampuan peserta didik untuk hidup berdampingan secara damai dan bermartabat.
Memperkuat Sinergi
Kemajuan pendidikan tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, serta berbagai organisasi pendidikan.
Guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis. Di tangan guru, pengetahuan ditransformasikan menjadi pengalaman belajar yang dapat membentuk pola pikir dan karakter peserta didik.
Pada saat yang sama, sekolah dan lembaga pendidikan harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Digitalisasi pendidikan perlu diarahkan bukan sekadar untuk mengikuti tren, tetapi menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperluas akses terhadap sumber pengetahuan.
Pendidikan Dayah dan Pendidikan Umum
Dalam konteks Aceh, penguatan pendidikan juga perlu memperhatikan keberadaan dayah sebagai salah satu pilar penting pendidikan masyarakat.
Sinergi antara pendidikan umum dan pendidikan keagamaan menjadi kekuatan tersendiri bagi Aceh dalam melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kematangan spiritual dan akhlak.
Dayah diharapkan terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang mampu mempertahankan tradisi keilmuan Islam sekaligus beradaptasi dengan tuntutan perkembangan zaman.
Menuju Generasi Emas Aceh
Hardikda ke-67 hendaknya menjadi titik tolak untuk melahirkan berbagai inovasi baru di bidang pendidikan. Pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas guru, pemenuhan sarana dan prasarana, penguatan literasi dan numerasi, pemanfaatan teknologi, serta pendidikan karakter harus menjadi perhatian bersama.
Generasi muda Aceh adalah investasi terbesar daerah ini. Mereka akan menjadi pemimpin, ulama, akademisi, birokrat, pengusaha, profesional, dan penggerak pembangunan di masa depan.
Oleh karena itu, setiap kebijakan pendidikan harus menempatkan kepentingan peserta didik sebagai prioritas utama.
Selamat Hari Pendidikan Daerah Aceh ke-67.
Mari menjadikan Hardikda sebagai momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan membangun generasi Aceh yang berilmu, beriman, berakhlak, berdaya saing, serta tetap teguh pada nilai-nilai budaya dan keislaman. “Aceh Beumaju, Rakyat Beumakmu, Agama Beukong, Hudep Seujahtera”.
***Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh

