Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Jika kita menelusuri sejarah kejayaan peradaban Islam, kita akan menemukan satu rahasia besar yang sering terlupakan: *wakaf*. Peradaban Islam tidak hanya dibangun oleh para ulama, ilmuwan, dan pemimpin, tetapi juga oleh orang-orang dermawan yang menjadikan hartanya sebagai wakaf untuk kemaslahatan umat.
Mereka memahami bahwa umur manusia terbatas, tetapi manfaat wakaf dapat melampaui usia pemiliknya.
Pada masa keemasan Islam, banyak universitas besar berdiri di atas tanah wakaf. Rumah sakit memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat melalui dana wakaf. Perpustakaan, pasar, jalan, jembatan, sumur, hingga tempat singgah para musafir dibangun dan dikelola dengan wakaf. Bahkan, banyak ulama besar dapat berkonsentrasi menulis karya-karya ilmiah karena kebutuhan hidup dan pendidikan mereka ditopang oleh ekosistem wakaf.
Artinya, wakaf tidak hanya membangun bangunan, tetapi membangun ilmu, kesehatan, ekonomi, dan peradaban.
Salah satu kisah yang sangat menginspirasi adalah wakaf yang dilakukan oleh Sayyidina Utsman bin Affan r.a. Ketika Kota Madinah mengalami kesulitan air bersih, terdapat sebuah sumur milik seorang Yahudi yang airnya dijual dengan harga mahal. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membeli sumur tersebut untuk kepentingan umat, Allah akan menyediakan balasan berupa surga.
Utsman kemudian membeli sumur itu dengan hartanya dan mewakafkannya agar dapat dinikmati seluruh masyarakat tanpa dipungut biaya.
Lebih dari empat belas abad telah berlalu. Sumur tersebut masih dikenal hingga hari ini, bahkan kawasan di sekitarnya berkembang menjadi aset produktif yang hasilnya terus dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Jejak wakaf itu masih hidup, sementara pewakafnya telah lama menghadap Allah SWT.
Inilah makna sesungguhnya dari amal jariyah.
Hari ini, kita mungkin tidak mampu membangun universitas sebesar Al-Azhar atau membeli sumur sebesar wakaf Utsman. Namun semangatnya tetap dapat kita teladani. Kita dapat mewakafkan uang, tanah, kebun, ruko, buku, hak cipta, bahkan manfaat dari aset yang kita miliki sesuai kemampuan masing-masing.
Jangan menunggu menjadi miliarder untuk berwakaf.
Karena sejarah membuktikan, peradaban besar dibangun bukan hanya oleh besarnya harta, tetapi oleh besarnya visi orang-orang yang mengelola hartanya untuk Allah.
Manusia terbaik bukanlah yang meninggalkan warisan paling banyak, tetapi yang meninggalkan manfaat paling panjang. Dan wakaf adalah jejak kebaikan yang terus berbicara, bahkan ketika pemiliknya telah lama terdiam di dalam kuburnya.
** Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
