Tue. Jul 7th, 2026

Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

Kita jeda sejenak dari literasi tentang wakaf.

Ya…saya diminta untuk ngopi (ngobrol pagi) bersama Ayah di satu acara family gathering…judulnya juga membuat saya tertegun…Belajar Menjadi Ayah…seingat saya tidak ada kurikulum atau sertifikasi ataupun wisuda menjadi untuk seorang ayah. Nampanya kita jadi ayah tanpa belajar, terjadi dengan sendirinya…ya…Saya juga lihat ada baliho di depan Kantor Gubernur Aceh, ajakah untuk Ayah antar anak sekolah di hari pertama..aneh juga ya….tapi apakah segawat ini kondisi ayah hari ini…hubungan yang renggang dengan anak?

Menjadi seorang ayah adalah salah satu amanah terbesar yang Allah titipkan kepada seorang laki-laki. Menariknya, tidak ada sekolah yang benar-benar mengajarkan bagaimana menjadi ayah. Tidak ada wisuda yang menyatakan seseorang telah lulus menjadi ayah terbaik. Semua ayah belajar sambil menjalani perannya. Semua ayah sedang bertumbuh bersama anak-anaknya.

Karena itu, menjadi ayah bukanlah sebuah status, melainkan sebuah perjalanan belajar seumur hidup.

Anak-anak tidak tumbuh dalam dunia yang sama dengan dunia yang pernah kita alami. Mereka hidup di tengah perubahan teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Jika ayah berhenti belajar, maka jarak dengan anak-anak akan semakin jauh.

Mendidik anak hari ini bukan sekadar membesarkan tubuhnya, tetapi juga membentuk jiwanya.

Karena itu, ayah tidak cukup hanya hadir secara fisik.

Ia harus hadir secara emosional.

Banyak anak tinggal serumah dengan ayahnya, tetapi sesungguhnya kehilangan figur ayah. Mereka makan bersama, tetapi tidak pernah berbicara. Mereka hidup satu atap, tetapi tidak pernah benar-benar merasa didengar. Inilah yang oleh para psikolog disebut sebagai father hunger—kehausan akan kehadiran seorang ayah.

Padahal, kehadiran ayah bukan diukur dari lamanya berada di rumah, tetapi dari kualitas keterlibatannya.

Kadang-kadang lima belas menit mendengarkan cerita anak tanpa memegang telepon genggam jauh lebih bermakna daripada berjam-jam berada di rumah tanpa komunikasi.

Islam telah memberikan fondasi yang sangat kokoh tentang peran ayah.

Tugas pertama seorang ayah adalah menanamkan tauhid. Mengenalkan Allah sejak dini. Menjadikan iman sebagai fondasi kehidupan anak.

Tugas kedua adalah menjadi teladan. Anak adalah peniru yang sangat hebat. Mereka mungkin lupa nasihat kita, tetapi hampir tidak pernah lupa perilaku kita. Akhlak ayah akan menjadi buku pelajaran pertama yang dibaca anak setiap hari.

Tugas ketiga adalah membangun komunikasi yang penuh hikmah. Luqman Al-Hakim tidak mendidik anaknya dengan bentakan, tetapi dengan dialog yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

Namun ayah tidak dapat berjalan sendiri.

Keberhasilan mendidik anak lahir dari sinergi ayah dan ibu. Hadiah terbaik yang dapat diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya bukan hanya nafkah yang cukup, tetapi juga cinta dan penghormatan kepada ibu mereka. Anak yang tumbuh dalam rumah yang penuh kasih sayang akan memiliki ketahanan emosional yang jauh lebih baik.

Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa keterlibatan aktif seorang ayah sejak dini berkontribusi terhadap meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan menyelesaikan masalah, stabilitas emosi, bahkan prestasi akademik anak. Semua ini semakin menegaskan bahwa peran ayah bukan pelengkap, melainkan penentu arah tumbuh kembang generasi.

Maka, wahai para ayah…

Jangan takut mengakui bahwa kita masih belajar.

Jangan malu meminta maaf kepada anak.

Jangan lelah memperbaiki diri.

Karena anak-anak tidak menuntut ayah yang sempurna.

Mereka hanya membutuhkan ayah yang terus bertumbuh, terus hadir, dan terus mencintai mereka karena Allah.

Menjadi ayah bukan tentang siapa yang paling tahu cara mendidik anak, tetapi tentang siapa yang paling bersungguh-sungguh belajar untuk menjadi ayah yang lebih baik setiap harinya.

**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *