Sun. Jun 28th, 2026

Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

Pertanyaan tentang harta selalu menarik untuk direnungkan: adakah harta dibawa mati?

Secara fisik, jawabannya tentu tidak. Ketika manusia meninggal dunia, semua yang dimiliki akan tertinggal: rumah, kendaraan, jabatan, rekening, dan seluruh kemewahan dunia. Manusia kembali kepada Allah hanya dibungkus kain kafan.

Namun dalam perspektif Islam, jawabannya tidak sesederhana itu.

Karena ternyata, ada harta yang benar-benar “ikut” setelah kematian—bukan dalam bentuk fisiknya, tetapi dalam bentuk pahala, manfaat, dan keberkahan yang terus mengalir.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika manusia meninggal dunia, maka terputus seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa cara manusia mengelola hartanya akan menentukan apakah harta itu berhenti di dunia atau terus bekerja setelah kematian.

Setidaknya ada tiga kategori harta dalam kehidupan manusia.

Pertama, harta yang disimpan untuk diwariskan atau diinvestasikan.

Harta jenis ini tetap penting dalam Islam. Bahkan Islam mendorong umatnya menyiapkan masa depan keluarga dan tidak meninggalkan generasi dalam keadaan lemah. Karena itu, bekerja keras, menabung, dan membangun investasi halal adalah bagian dari tanggung jawab.

Namun semua itu pada akhirnya tetap akan ditinggalkan.

Kedua, harta yang dibelanjakan untuk kebutuhan pribadi: makan, minum, pakaian, dan kenyamanan hidup.

Harta ini sebenarnya hanya “singgah” sebentar dalam kehidupan manusia. Apa yang dimakan akan habis, apa yang dipakai akan rusak, dan apa yang dinikmati akan berlalu.

Karena itu Rasulullah pernah mengingatkan bahwa sesungguhnya yang benar-benar menjadi milik manusia hanyalah apa yang ia makan lalu habis, pakai lalu usang, atau yang ia sedekahkan di jalan Allah.

Ketiga, dan inilah yang paling penting: harta yang dibelanjakan di jalan Allah.

Sedekah, infak, wakaf, membantu pendidikan, membangun masjid, membantu orang miskin, membiayai dakwah, dan seluruh bentuk kebaikan sosial—itulah harta yang sesungguhnya terus hidup setelah manusia meninggal dunia.

Harta seperti ini tidak berhenti di kuburan.

Ia berubah menjadi amal jariyah. Terus bekerja. Terus mengalir. Bahkan saat pemiliknya sudah lama meninggalkan dunia.

Di sinilah Islam mengajarkan bahwa nilai harta bukan terletak pada seberapa banyak ia dikumpulkan, tetapi pada seberapa besar manfaat yang dihadirkan melalui harta itu.

Karena itu, orang yang paling kaya dalam perspektif Islam bukan hanya yang banyak asetnya—

tetapi yang paling panjang manfaat hartanya untuk manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan “adakah harta dibawa mati?” sangat tergantung pada bagaimana manusia mengelolanya.

Jika hanya dikumpulkan, ia akan tertinggal.

Tetapi jika diubah menjadi kebermanfaatan, ia akan menjadi teman perjalanan menuju akhirat.

Karena sejatinya, harta terbaik bukan yang paling lama disimpan

tetapi yang paling banyak menjadi cahaya setelah kematian

**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syari`ah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumetera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *