Oleh Tgk. Ilham Mirsal, MA**
Hari ini, jika Anda melangkah kaki ke Gampong Ujung Batee di Pasie Raja, Terbangan, Aceh Selatan, Anda akan menangkap sebuah kesibukan yang magis. Suasana meunasah mulai hidup. Sejak pagi, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga pemuda-pemudi bergerak dalam ritme yang sama. Mereka sedang sibuk mengumpulkan sumbangan. Ada yang membawa ubi, jagung, kacang, buah cempedak, kelapa, hingga tumpukan kayu bakar.
Semua bahan yang beraneka rupa itu dikumpul ke satu titik: meunasah gampong. Insya Allah, besok pagi tungku-tungku besar akan dinyalakan, asap akan mengepul, dan tradisi Khanduri Kanji Asyura kembali digelar.
Secara kultural, bulan Muharram memang punya tempat yang sangat intim di hati kita, masyarakat Aceh. Kita menyebutnya Buleun Hasan Husen. Sebuah penamaan lokal yang sarat akan duka sekaligus penghormatan mendalam atas tragedi syahidnya cucu kesayangan Rasulullah SAW, Sayyidina Husen bin Ali, di padang Karbala ribuan tahun silam.
Namun, di Gampong Ujung Batee, memori duka sejarah itu tidak dirayakan dengan ratapan. Ia ditransformasikan menjadi energi sosial yang luar biasa: kebersamaan dan kepedulian.
Lihatlah bagaimana semangkuk Kanji Asyura itu tercipta. Ia tidak lahir dari satu bahan tunggal. Ada manisnya jagung, lembutnya ubi, gurihnya kelapa, hingga pekatnya aneka rempah. Jika bahan-bahan itu berdiri sendiri, mereka hanyalah komoditas biasa. Namun, ketika dilebur menjadi satu di dalam belanga meunasah, diaduk bersama dengan peluh dan gotong-royong warga, ia menjelma menjadi hidangan yang berkah, mengenyangkan, dan membahagiakan seisi kampung.
Inilah filosofi tertinggi dari Asyura: persatuan dan peleburan ego demi maslahat bersama.
Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan ini, sebuah refleksi mendalam perlu kita renungkan bersama. Kita harus memasang alarm di dalam dada kita masing-masing: Jangan biarkan Kanji Asyura kehilangan rasa.
“Rasa” yang saya maksud di sini bukan sekadar soal rasa di lidah, bukan tentang kurang garam, kurang merica, atau hantaran santan yang kurang kental. Melainkan hilangnya “rasa” sensitivitas sosial dan spiritualitas di balik ritual tahunan ini.
Kita sering kali begitu cerewet memastikan takaran bumbu di dalam belanga sudah pas. Tapi, apakah kita secerewet itu saat melihat ‘rasa’ kepedulian kita kepada anak yatim atau jiran yang kesusahan di samping rumah kita mulai hambar?
Apa gunanya kayu bakar habis berikat-ikat dan belanga meunasah mengepulkan bau harum, jika setelah bubur itu matang dan kita santap, egoisme kita tetap tinggi? Apa gunanya kita mengagumi keteguhan Sayyidina Husen yang syahid melawan kezaliman tirani, jika dalam kehidupan sehari-hari kita justru menutup mata pada ketidakadilan kecil di sekitar kita?
Di Karbala, ribuan tahun lalu, keluarga Nabi dikepung dalam dahaga dan kelaparan yang menyayat hati. Di Ujung Batee hari ini, duka itu kita tebus dengan gotong-royong. Kita memastikan bahwa melalui khanduri ini, tidak boleh ada satu pun warga, fakir miskin, atau anak yatim yang merasa sendirian atau kelaparan di hari Asyura. Belanga meunasah kita adalah jawaban kultural atas keringnya padang Karbala.
Maka, esensi dari menjaga “rasa” Kanji Asyura adalah menjaga agar api kebersamaan yang dinyalakan oleh pemuda-pemudi dan orang tua kita hari ini di Gampong Ujung Batee tidak meredup begitu belanga dicuci bersih besok sore.
Melalui momentum 10 Asyura 1448 H ini, mari kita teladani dua warisan besar cucu Rasulullah. Kita ambil kelapangan hati Sayyidina Hasan yang mengalah demi persatuan umat, dan kita pinjam keberanian Sayyidina Husen yang teguh memegang integritas kebenaran.
Saat besok kita menyendok kuah kanji yang hangat, mari kita telan kembali komitmen untuk menjaga persatuan gampong. Dan saat kita membagikannya kepada sesama, mari kita sebarkan kembali cinta dan infak terbaik kita.
Sebab, sekuali Kanji Asyura hanya akan benar-benar terasa nikmat jika diracik dengan kebersamaan, dan rasa cinta kita kepada Rasulullah hanya akan terbukti sahih jika diwujudkan lewat kepedulian nyata kepada sesama.
Selamat bergotong-royong, warga Gampong Ujung Batee!
Mari kita jaga agar api di bawah belanga besok tidak hanya mematangkan kanji, tetapi juga menghangatkan persaudaraan kita, melembutkan hati yang mengeras, dan mengalirkan berkah ke setiap sudut gampong.
Semoga lelahnya peluh yang mengucur di halaman meunasah dicatat sebagai bukti cinta kita yang tulus kepada Rasulullah dan keluarga beliau. Amin.
**Penulis adalah Penggiat Dayah, Dosen STAI Tapak Tuan
