Wed. Jun 24th, 2026

Oleh Tgk. Ilham Mirsal, MA**

Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, ia adalah perubahan paradigma dari ketergantungan menjadi kemandirian, dari pasif menjadi produktif. Semangat ini sangat relevan bagi Aceh Selatan, yang kini mulai menjejak jalan kemandirian melalui langkah-langkah strategis pemerintahan Bupati H. Mirwan MS dan Wakil Bupati H. Baital Mukadis.

Diantaranya melalui program 100 hari yang merupakan langkah awal hijrah ekonomi kerakyatan, dalam 100 hari pertama masa jabatannya, Bupati dan Wakil bupati Aceh Selatan telah meluncurkan serangkaian program unggulan. 

Dalam program tersebut, Pemerintah telah melakukan Rehabilitasi Rumah Layak Huni, sebanyak 41 rumah direhabilitasi dan 10 dibangun ulang hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga kurang mampu. 

Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, ia adalah perubahan paradigma dari ketergantungan menjadi kemandirian, dari pasif menjadi produktif. Semangat ini sangat relevan bagi Aceh Selatan, yang kini mulai menjejak jalan kemandirian melalui langkah-langkah strategis pemerintahan Bupati H. Mirwan MS dan Wakil Bupati H. Baital Mukadis.

Diantaranya melalui program 100 hari yang merupakan langkah awal hijrah ekonomi kerakyatan, dalam 100 hari pertama masa jabatannya, Bupati dan Wakil bupati Aceh Selatan telah meluncurkan serangkaian program unggulan. 

Dalam program tersebut, Pemerintah telah melakukan Rehabilitasi Rumah Layak Huni, sebanyak 41 rumah direhabilitasi dan 10 dibangun ulang hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga kurang mampu. 

Selanjutnya layanan Bajak Sawah Gratis (BASAGA) untuk membebaskan petani dari biaya bajak sawah serta meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Bantuan Perahu Bermotor juga telah disalurkan ke kelompok nelayan di 13 kecamatan untuk meningkatkan hasil tangkapan laut.

Gerakan Gampong Maghrib Mengaji merupakan program spiritual berbasis syariah untuk memperkuat nilai agama dan sosial di tingkat desa. 

Program ini tak hanya simbolik, tetapi menjadi wujud hijrah sosial-ekonomi, di mana pemerintah hadir sebagai fasilitator perubahan dan penopang produktivitas rakyat.

Sinergi dengan RPJMD atau kemandirian terencana, pemerintah daerah mengoptimalisasi RPJMD 2025–2030, menitikberatkan pada ‌pertumbuhan ekonomi dari 4 % menarget 6 %, pengentasan kemiskinan penguatan sektor pertanian, kelautan, pariwisata, dan pertambangan.

Keberlanjutan program 100 hari akan dijaga lewat sinkronisasi OPD, efisiensi anggaran, dan sistem monitoring yang ketat. 

Manifestasi Hijrah Produktif di Aceh Selatan

Dengan dukungan program nyata ini, Aceh Selatan sedang menunaikan hijrahnya ‌dari ketergantungan subsidi menjadi kemampuan produksi mandiri (pertanian, perikanan, rumah).
‌Dari mental usul-mengusul ke mental aktif dan kreatif petani, nelayan, pemuda, dan santri mulai bergerak. ‌Dari sekadar simbolisme keagamaan ke penguat syiar dan nilai spiritual di tingkat gampong lewat Maghrib Mengaji.

Tantangan dan Harapan

Langkah awal ini perlu dukungan penuh adalah ‌pelibatan masyarakat dalam pengawasan dan implementasi program, ‌Kolaborasi lintas sektor OPD, pesantren, perguruan tinggi, swasta, dan masyarakat sipil.

‌Penguatan kapasitas SDM: pendidikan, pelatihan UMKM, teknologi pertanian dan perikanan.

Inovasi dan hilirisasi: misalnya pengembangan pabrik pengolahan hasil pertanian dan perikanan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor—atau program sejalan visi program kerja pasangan MANIS. 

Penutup: Hijrah yang Mewujud

Jika hijrah Nabi SAW mengubah Madinah menjadi pusat makmur dan beradab, maka semangat hijrah Aceh Selatan kini diterjemahkan melalui: bantuan nyata rumah,
lahan bagi petani, perahu bagi nelayan, masjid dan pesantren sebagai pusat moral dan spiritual.

Inilah kemandirian yang tidak hanya diucap, tapi dibangun dan dipraktikkan. Mari saling dorong, kawal, dan jaga hijrah produktif ini—untuk Aceh Selatan yang Maju, Produktif, Mandiri, dan Bermartabat.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

” Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Dan barang siapa keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nisa: 100).

** Penulis adalah Aktivis Dayah, Dosen STAI Tapaktuan Aceh Selatan

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *