Wed. Feb 21st, 2024

Oleh Bung Syarif*

Seperti biasanya pungawa Disdik Dayah Banda Aceh punya tradisi menyapa para pimpinan dayah, serta ngobrol santai. Sabtu, 11 Nopember 2021, Koni Kupi Arabica, tempat mangkalnya punggawa. Sang Lengendaris Saiful Bahri selalu setia mendampingi setiap momentum. Pagi ini saya bersama pungawa menyapa Waled Rusli Daud, Pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh. Sosok yang bersahaja, ramah dan penuh humoris. Bagi saya sosok waled tidak asing lagi. Kami sudah lama saling kenal sejak masih menimba ilmu di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry. Saat Aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEMAF) Syariah, HMI Banda Aceh dan DPW ISKADA Banda Aceh, BKPRMI NAD.

Sosok Waled Rusli (dulu saya pangil) teugku Rusli Daud. Punya ciri khas rebut mikropon saat muda di forum seminar, Workshop dan diskusi Ormas Islam. Pokoknya saya sering satu forum dengan beliau dan Waled Rusli kala itu masih aktif pada Gerakan Pemuda Anshor, ormas sayap kanan Nahdiyin.

Waktu berlalu, hingga umur kami tidak muda lagi. Kini kami dipertemukan dalam wadah pentadbiran Dayah. Beliau Pimpinan Dayah, Angota MPU Kota Banda Aceh, Tim Pansel Majelis Akreditasi Dayah, Ketua NU Kota Banda Aceh, Da`i dan Tokoh Agama Kota Banda Aceh.

Lebih  mudahnya Waled yang dulu, sudah berbeza. Kini beliau sosok yang humoris, tawadhuk, ramah dan salah satu tokoh agama penting di Banda Aceh. Jam terbangnya semakin dahsyat. Sementara saya hanyala Aparatur Sipil Negara biasa, tapi nostalgia kami masa muda masih ingat dalam memorinya Waled Rusli Daud.

Di Koni Kupi Arabica, kami bicara soal pentadbiran dayah. Kami simak curahan isi hatinya, satu persatu diksi yang keluar kami dengar dengan seksama. Beliau banyak menaruh harapan terhadap program pembinan dayah. Program Santri Tahfidz salah satu yang menjadi konsern beliau.  Ada banyak petuah berharga dari Waled Rusli. Saat ia menyampaikan satu kondisi yang saya anggap penting, langsung saya konfirmasi pada pejabat teknis yang membidangi. Hasilnya pun terjawab, walau hanya sebatas pemantik ceria. Bagi kami dalam melakukan pentadbiran dayah, tidak boleh ada gesekan dan hati yang terluka. Disinilah butuh seni dalam memainkan leksikon yang aduhai. Mudah-mudahan asanya terpenuhi. Kami terus berikhtiar berjuang bersama-sama. Karna kami sadar betul jika ada hati yang terluka, maka akan ada gelombang badai. Hehe. Intinya kami dengar dan kami sampaikan dengan komunikasi aduhai. Sesekali saya setir konsep beliau yang pernah diajarkan pada kami; “syaiun wa syaiun”. Kata beliau kita tidak boleh menolak semua apa yang ada, lebih baik kita ambil saja, kami lega dan bahagia saat philosofi syaiun wa syaiun ala Waled Rusli Daud. Sukses terus gure…semoga kita selalu dalam lindungan Allah, SWT, Amin. So jangan lupa bimbing kami kejalan yang benar, jika dalam menjalankan tugas kenegaraan keliru. Kami doakan Waled Rusli Daud senantiasa dalam lindungan Allah, Terimakasih atas traktirannya, Koni Kupi Arabica, tempat mangkalnya para juara dan aulia, Hehe.

* Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh, Direktur Aceh Research Institute (ARI), Sekretaris Forum Muda Lemhannas Aceh, Dosen FSH UIN Ar-Raniry

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *