Fri. Jun 14th, 2024

Oleh Bung Syarif*

Banda Aceh terus berevolusi. Kemajuan Kotanya semakin kelihatan. Pelan tapi pasti Banda Aceh Gemilang akan ditunaikan oleh Bapak Aminullah Usman dan Zainal Arifin. Dua pasangan yang sangat akur dalam lintasan sejarah Kepala Daerah di Aceh diera milenial. Warga Kutaraja menyapa Bang Carlos sapaan mesra Bapak Walikota sementara cek atau Keucik Zainal sebutan familiar untuk Bapak Wakil Walikotanya.

Banda Aceh identik dengan Kota Jasa dan Pendidikan. Dari Zaman kesultanan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh dikenal seantero dunia dengan kemajuan pendidikan dan perdangangan termasuk didalamnya pariwisata religi. Dalam konteks ini pula bang carlos punya cara jitu membangun Kota Banda Aceh. Saya menyebutnya membangun dengan cinta dan seni. Karenanya Bang Carlos punya cara tik tok dalam mewujudkan mimpinya.

Sudah hampir tuntas kepemimpinan Walikota Banda Aceh periode 2017-2022, tepatnya 7 Juli 2022, Amin-Zainal akan pamit dan tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh Penjabat (Pj) Walikota sampai terpilihnya Walikota yang baru di Pilkada serentak nasional pada tahun 2024, artinya hampir 2 tahun diisi oleh pejabat Pimpinan Pratama setara ASN Eselon II.

Dalam menjalankan roda pemerintahan Amin-Zainal telah memberikan nuansa baru dengan berbagai prestasi, baik skala lokal maupun nasional, ini semua berkat kerja cerdas, iklas dan tuntas Amin-Zainal dan dukungan maksimal birokrat tentunya.

Beberapa prestasi diukir Bang Carlos diantaranya; Bidang Tata Kelola Pemerintahan, Walikota Banda Aceh dinobatkan sebagai kepala daerah terbaik se-Indonesia dalam bidang Pembinaan Pelayanan Publik 2018, Juara I Kinerja ASN se-Indonesia Tahun 2018, Entrerpreneur Award 2018, Juara I Survei Integritas Nasional 2018, hasil kajian KPK-RI, dan WTP Empat kali berturut-turut hasil Audit BPK-RI, 2022 Pemerintah Terbaik Standar Kepatuhan Tinggi Pelayanan Publik dari Ombudsman RI. Dalam bidang pengembangan Pariwisata Halal, Banda Aceh juga meraih Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018 dari Kementrian Pariwisata RI. Dalam merawat kebinekaan, Banda Aceh dijadikan Pilot Project Kota Paling Toleran se-Indonesia oleh Kementrian Agama RI, terutama Gampong Peunayong yang merupakan basis warga keturunan cina.

Bukan hanya itu berbagai janji politik di tunaikannya sebut saja optimalisasi pelayanan publik dengan menghadirkan Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Banda Aceh satu-satunya di Aceh dan Sumatera, Insentif bagi Ibu Melahirkan (Bersalin), Santunan Kematian, Pembentukan Lembaga Keuangan Syariah sebagai instrument pemutus rentenir di Banda Aceh, Program Beasiswa bagi ASN khususnya bidang Keuangan Daerah di seluruh SKPD. Peningkatan Kesejahteraan ASN (Tunjangan Kinerja). Pembentukan Baital Yatama sebagai basis pembinaan anak fakir-miskin baik dalam penguatan aqidah dan ketrampilan.

Disisi lain di Tahun 2019 Kota Banda Aceh satu-satunya di Pulau Sumatera yang dinobatkan dan meraih prediket Smart City 2019 dari Kementrian Kominfo diserahkan langsung oleh Menteri Kominfo RI Johnny P. Glate, Balai Sudirman, Menteng Dalam Jakarta Selatan, Rabu (6/11/2019) serta Penghargaan Pelayanan Publik 2019 dari Kementrian PAN RI diberikan langsung oleh Menteri PAN-RB Thahjo Kumolo di Hotel Aston Batam, Kamis (7/11/2019). Banda Aceh Kota Layak Anak 2022, Banda Aceh raih Prediket Indek Pembangunan Manusia (IPM) nomor dua se-Indonesia, 2022. Nilai SAKIB B Tahun 2022, berdasarkan Penilaian Menpan RB. Tentunya berbagai prestasi menjadi salah satu indikator keberhasilan.

Kini Banda Aceh semakin indah menawan, ini semua berkat cinta dan seni. Insya Allah Banda Aceh akan menjadi Kota Modern, terbuka untuk dunia. Karenanya mari kita bergerak serentak dan seirama mewujudkan Banda Aceh Gemilang dalam bingkai syariah. Banda Aceh milik kita, tugas kitalah yang memberikan kontribusi nyata baik lewat lisan, tulisan dan perbuatan.

Tentu dibalik keberhasilan, ada kekurangan disana-sini, terutama aspek beban hutang setiap SKPD di Tahun 2022 yang menjadi pekerjaan rumah tangga yang cukup berat diakhir kepemimpinan “Amin-Zainal” di masa pandemi covid-19 sejak 2020-2021. Semoga saja diakhir kepemimpinan Amin-Zainal, beban hutang terlunasi terutama menyangkut hak-hak kepegawaian dan tenaga kontrak. Kami menanti tunjangan kinerja ditunaikan sebelum berakhir kepemimpinannya. Akankah lafadz “hore-hore” atawa aroma bahagia di bulan Juni bisa dirasakan seluruh ASN ?, hanya waktu yang menjawabnya. Kalau kata bang Joni habis beras beh…hehe.

*Penulis adalah Praja Wibawa Kota Banda Aceh, Sekretaris Forum Muda Lemhannas Aceh, Dosen Legal Drafting Prodi Hukum Tata Negara dan Hukum Pidana Islam pada Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI)

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *