Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)***
Sering kali kita baru menyadari nikmat setelah nikmat itu pergi.
Ketika sehat, kita jarang menghitung betapa berharganya tubuh yang mampu bergerak. Ketika memiliki keluarga, kita sibuk dengan pekerjaan hingga lupa bahwa ada orang-orang yang menjadi alasan kita ingin pulang. Ketika memiliki pekerjaan, kita mengeluh tentang kesibukannya. Ketika memiliki jabatan, kita merasa bebannya terlalu berat. Bahkan ketika rezeki bertambah, keinginan kita pun ikut bertambah.
Manusia sering lebih pandai menghitung apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah diberikan Allah.
Padahal Allah telah mengingatkan:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Syukur adalah cara pandang terhadap kehidupan.
Sehat disyukuri dengan menggunakan tubuh untuk kebaikan. Ilmu disyukuri dengan mengajarkannya. Harta disyukuri dengan berbagi. Jabatan disyukuri dengan amanah. Keluarga disyukuri dengan menghadirkan kasih sayang. Bahkan ujian pun dapat disyukuri ketika kita mampu menemukan pelajaran dan mendekatkan diri kepada Allah karenanya.
Karena itu, syukur memiliki tiga dimensi: hati yang menyadari nikmat, lisan yang mengakuinya, dan perbuatan yang menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah.
Ada orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya selalu merasa kurang. Ada yang jabatannya tinggi tetapi hatinya tidak pernah tenang. Ada yang rumahnya besar tetapi kehilangan kehangatan keluarga.
Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi wajahnya penuh ketenangan. Tidak banyak yang dimiliki, tetapi banyak yang disyukuri.
Di situlah letak keberkahan.
Syukur bukan berarti berhenti berusaha. Syukur justru membuat kita bekerja lebih baik tanpa diperbudak oleh hasil. Kita berikhtiar, tetapi tidak lupa bahwa segala sesuatu yang kita miliki pada akhirnya adalah titipan Allah.
Maka, sebelum mengeluhkan hidup hari ini, coba hitung kembali nikmat yang masih kita miliki.
Masihkah ada orang tua yang dapat kita bahagiakan?
Masihkah ada pasangan yang dapat kita cintai?
Masihkah ada anak yang dapat kita didik?
Masihkah ada kesehatan untuk beribadah?
Masihkah ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan?
Jika masih ada, sesungguhnya kita masih memiliki alasan yang sangat banyak untuk berkata:
Alhamdulillah.
Kebahagiaan bukan karena Allah menambah apa yang kita miliki, tetapi karena Allah mengajarkan hati kita untuk cukup terhadap apa yang telah diberikan-Nya.
Bersyukurlah. Karena nikmat yang disyukuri akan menjadi keberkahan, sementara nikmat yang terus dikeluhkan dapat berubah menjadi beban kehidupan.
*** Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

