Tue. Jun 30th, 2026

Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**

Semakin tinggi seseorang menduduki sebuah jabatan, semakin besar pula godaan untuk merasa paling benar. Ironisnya, pada saat yang sama, semakin sedikit pula kebenaran yang sampai ke telinganya.

Bukan karena orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya, tetapi karena mereka mulai takut untuk berbicara. Mereka khawatir pendapatnya disalahpahami, dianggap melawan atasan, atau bahkan berdampak pada masa depannya.

Akibatnya, seorang pemimpin hanya mendengar apa yang ingin ia dengar, bukan apa yang perlu ia dengar.

Amy Edmondson, Guru Besar Harvard Business School, menyebut kondisi ini sebagai psychological safety. Sebuah organisasi akan berkembang ketika setiap orang merasa aman untuk menyampaikan pendapat, mengakui kesalahan, dan memberikan masukan tanpa rasa takut.

Dalam perspektif Islam, nilai ini sesungguhnya telah lama diajarkan.

Rasulullah SAW adalah pemimpin yang sangat terbuka terhadap nasihat. Dalam banyak peristiwa, beliau menerima masukan dari para sahabat, bahkan ketika pendapat itu berbeda dengan pandangan beliau. Perang Badar, strategi Khandaq, hingga berbagai urusan pemerintahan menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar formalitas, tetapi budaya kepemimpinan.

Al-Qur’an pun memerintahkan:

“…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali Imran: 159).

Ayat ini menarik. Padahal Rasulullah adalah seorang nabi yang menerima wahyu. Namun Allah tetap memerintahkan beliau untuk bermusyawarah. Apalagi kita yang tidak memiliki jaminan selalu benar.

Karena itu, salah satu ciri pemimpin yang amanah adalah berani mendengar kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, bawahan, atau orang yang berbeda pandangan.

Sebaliknya, pemimpin yang hanya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berkata “setuju” sesungguhnya sedang berada dalam bahaya. Sebab organisasi tidak akan maju jika kritik dianggap ancaman, dan masukan dipandang sebagai bentuk perlawanan.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.” Kalimat ini menggambarkan kerendahan hati seorang alim yang selalu membuka ruang bagi kebenaran.

Dalam kehidupan keluarga pun demikian. Seorang ayah perlu mendengar pendapat istrinya. Seorang ibu perlu mendengar suara anak-anaknya. Seorang guru perlu mendengar muridnya. Dan seorang pemimpin perlu mendengar orang-orang yang dipimpinnya.

Sebab tidak ada manusia yang mampu melihat seluruh persoalan dari satu sudut pandang.

Maka sesekali, cobalah bertanya kepada orang-orang terdekat kita:

“Adakah sesuatu yang selama ini ingin engkau sampaikan kepadaku, tetapi engkau belum berani mengatakannya?”

Lalu dengarkan.

Jangan memotong pembicaraan.

Jangan sibuk membela diri.

Jangan tergesa-gesa memberikan penjelasan.

Boleh jadi, dua menit mendengar dengan hati yang lapang akan menyelamatkan kita dari kesalahan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Pada akhirnya, kebesaran seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya orang yang memujinya, tetapi dari keberaniannya menerima nasihat.

Karena sejatinya, orang yang paling kuat bukanlah yang selalu merasa benar—

tetapi yang paling berani memperbaiki dirinya ketika kebenaran datang menghampirinya.

**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syari`ah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *