Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Kita sering mendengar ungkapan yang sangat populer dalam dunia pendidikan Islam:
“Al-ummu madrasatul ula.” Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Ungkapan ini benar adanya. Dari rahim ibu kehidupan bermula. Dari pelukan ibu anak mengenal kasih sayang. Dari didikan ibu anak belajar berbicara, bersikap, dan mengenal nilai-nilai kehidupan.
Namun jika ibu adalah madrasah pertama, maka muncul satu pertanyaan penting:
Siapa kepala sekolahnya?
Karena sebuah madrasah tidak mungkin berjalan tanpa arah. Tidak mungkin memiliki kurikulum tanpa kepemimpinan. Tidak mungkin menghasilkan generasi yang baik tanpa visi yang jelas.
Di sinilah peran ayah menjadi sangat penting.
Sayangnya, dalam banyak keluarga, peran ayah sering direduksi hanya sebagai pencari nafkah. Tugasnya dianggap selesai ketika kebutuhan rumah tangga terpenuhi, uang sekolah dibayar, dan tagihan bulanan lunas.
Padahal ayah dipanggil Allah untuk tugas yang jauh lebih besar dari itu.
Ayah bukan hanya membangun rumah.
Ayah harus membangun isi rumah.
Ayah bukan hanya memastikan genteng tidak bocor.
Ayah harus memastikan iman tidak bocor.
Ayah bukan hanya memastikan lampu menyala.
Ayah harus memastikan hati anggota keluarganya tetap hidup dan terhubung kepada Allah.
Anak-anak tumbuh bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Mereka memperhatikan bagaimana ayah berbicara kepada ibunya.
Mereka mengamati bagaimana ayah menghadapi masalah.
Mereka belajar tentang tanggung jawab, keberanian, kejujuran, dan keteguhan dari sosok yang mereka panggil ayah.
Karena itu, diam-diam anak laki-laki sedang belajar menjadi laki-laki dari ayahnya. Dan anak perempuan sedang membangun standar tentang seperti apa sosok laki-laki yang baik dari perlakuan ayah kepada ibunya.
Inilah sebabnya mengapa kehadiran ayah tidak bisa digantikan oleh teknologi, sekolah, atau fasilitas pendidikan terbaik sekalipun.
Ayah adalah kepala sekolah dalam keluarga.
Tugas kepala sekolah bukan mengajar seluruh mata pelajaran. Tetapi memastikan arah pendidikan berjalan dengan benar.
Begitu pula ayah.
Ia tidak harus selalu menjadi yang paling sering berbicara kepada anak. Namun ia harus menjadi orang yang paling jelas dalam menentukan arah keluarga.
Ke mana keluarga ini akan dibawa?
Nilai apa yang ingin diwariskan?
Karakter seperti apa yang ingin dibangun?
Mimpi besar apa yang ingin ditinggalkan kepada generasi berikutnya?
Kepemimpinan ayah bukan tentang kontrol.
Kepemimpinan ayah adalah keterlibatan.
Hadir ketika anak membutuhkan.
Mendengar ketika anak ingin bercerita.
Mengarahkan ketika anak mulai kehilangan jalan.
Dan menjadi teladan ketika nasihat tidak lagi cukup.
Pada akhirnya, keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama.
Ia adalah sekolah peradaban.
Dan jika ibu adalah madrasah pertama yang mengajarkan cinta, maka ayah adalah kepala sekolah yang memastikan seluruh proses pendidikan itu memiliki arah menuju ridha Allah.
Karena sejatinya, anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna.
Mereka membutuhkan ayah yang hadir, peduli, dan bersungguh-sungguh menuntun mereka menuju jalan kebaikan.
**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syari`ah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
