Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Kemarin saya mendengar sebuah lagu berjudul “Bila Nanti Sunyi” karya EzHaRHaNzE. Lagu ini sederhana, tetapi menyimpan pesan yang sangat dalam bagi siapa saja yang hidup bersama keluarga. Tanpa terasa air mata saya mulai mengalir…sehingga saya tergerak untuk menulis kata hati dalam serial ini sebagai pengingat diri.
Salah satu penggalan liriknya berbunyi:
“Kadang kita marah bila anak bising…
Tapi kita lupa…
Satu hari nanti semua tu akan sunyi…”
Saya terdiam ketika mendengarnya. Betapa sering kita merasa lelah dengan berbagai keramaian yang hadir di rumah. Mainan yang berserakan. Anak-anak yang berlari ke sana kemari. Pertanyaan yang tak ada habisnya. Tangisan yang kadang menguji kesabaran. Bahkan sesekali kita berharap rumah menjadi lebih tenang (me times)..
Namun waktu mengajarkan sesuatu yang sering terlambat kita pahami.
Anak-anak tidak selamanya kecil. Mereka tumbuh. Mereka memiliki sekolah, sahabat, cita-cita, pekerjaan dan kemudian keluarga mereka sendiri. Lalu tanpa kita sadari, rumah yang dahulu ramai perlahan menjadi sunyi. Kamar yang dulu penuh mainan menjadi rapi. Ruang keluarga yang dulu dipenuhi tawa menjadi lengang. Meja makan yang dahulu ramai oleh cerita sehari-hari mulai kehilangan penghuni.
Dan saat itulah kita menyadari bahwa suara-suara yang dahulu dianggap mengganggu ternyata adalah bagian terindah dari kehidupan.
Dalam perspektif Islam, anak bukan hanya amanah yang harus dinafkahi. Mereka adalah karunia yang harus dinikmati keberadaannya. Mereka adalah ladang pahala yang Allah titipkan kepada kita.
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan umatnya untuk mendidik anak dengan baik, tetapi juga menunjukkan kasih sayang yang luar biasa kepada cucu-cucunya. Beliau memeluk, mencium, menggendong, bahkan memanjangkan sujud ketika cucunya bermain di punggung beliau.
Seolah mengajarkan kepada kita bahwa kebersamaan dengan anak bukanlah gangguan dalam hidup, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri.
Karena itu, jangan terlalu cepat memarahi keributan yang ada di rumah.
Nikmatilah. Nikmatilah..Nikmatilah
Suatu saat nanti mungkin kita akan merindukan suara itu.
Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga kehilangan kesempatan menyaksikan masa tumbuh mereka. Sebab masa kecil anak hanya datang sekali. Dan waktu tidak pernah memberi kesempatan untuk mengulangnya.
Jika hari ini rumah masih ramai, bersyukurlah.
Jika hari ini anak-anak masih sering mencari kita, nikmatilah.
Jika hari ini mereka masih ingin bercerita, dengarkanlah.
Karena boleh jadi, beberapa tahun lagi, yang tersisa hanyalah foto-foto lama, kenangan yang tersimpan di kepala, dan doa-doa yang terus kita panjatkan untuk mereka.
Maka sebelum rumah itu menjadi sunyi, hadirkanlah cinta.
Sebelum mereka tumbuh dewasa, hadirkanlah waktu.
Sebelum semuanya menjadi kenangan, hadirkanlah keshalihan dalam keluarga.
Karena kelak ketika sunyi itu datang, semoga yang tersisa bukan penyesalan, melainkan rasa syukur bahwa kita telah membersamai amanah Allah dengan penuh cinta dan keberkahan.
**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syari`ah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
