Tue. Jun 23rd, 2026

Oleh Dr. Marah Halim, S.Ag.,M.Ag.,MH**

Arti judul di atas kira-kira “mau damai, bersiaplah untuk perang”. Adagium ini sering dikutip oleh pengamat politik Rocky Gerung, diungkapkan pertama kali oleh penulis militer Romawi bernama Vegetius, dalam bukunya yang berjudul De Re Militari (seputar masalah militer), ditulis sekitar akhir abad ke-4 Masehi. Verbatim kalimatnya adalah “Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum”, artinya “oleh karena itu, siapa pun yang menginginkan perdamaian, hendaklah ia bersiap untuk perang”.

Dalam konteks geopolitik, adagium ini mengandung makna yang sangat dalam.  Pertama, jika sebuah bangsa lemah, ia akan menjadi target empuk bagi agresor; kedua, jika sebuah bangsa sangat kuat dan siap bertempur kapan saja, musuh akan berpikir dua kali (atau takut) untuk menyerang; ketiga, senjata dan latihan militer bukan bertujuan untuk memulai perang, melainkan untuk menjaga agar perang tidak pernah terjadi.

Adagium ini seakan membuktikan kebenarannya pada dua peristiwa geopolitik yang dialami oleh dua negara berdaulat kaya minyak, Venezuela dan Iran, sama-sama diinvasi (persisnya digarong) oleh negara yang kononnya superpower, Amerika Serikat. Tapi nasibnya berbanding terbalik satu sama lain; jika Venezuela bernasib tragis karena secara de facto kehilangan kedaulatannya, maka tidak demikian halnya dengan Iran. Tragedi Venezuela setidaknya menjadi cerminan bagi semua negara dan bangsa yang ada di dunia, bahwa mempertahankan kedaulatan dan sumber daya alam negara butuh heroisme, kekuatan senjata, kekuatan aliansi serta diplomasi. Venezuela hampir tidak memiliki itu semua sehingga dengan sangat mudah dipermainkan oleh AS.

Tidak demikian halnya dengan Iran yang memiliki semua prasyarat untuk bertahan; mereka memiliki jiwa bangsa yang besar, kekuatan senjata yang dahsyat, aliansi pertahanan yang kuat dengan China dan Rusia serta kemampuan diplomasinya menggalang simpati dan dukungan negara-negara di dunia. Jiwa bangsa Iran mewarisi kebesaran Persia dan kebesaran Islam, modal sejarah ini telah cukup menggetarkan siapapun. Kekuatan Iran sesungguhnya telah terbukti dalam perang 12 hari dengan Israel 13-24 Juni 2025 yang lalu. Aliansi strategisnya dengan Rusia dan China tidak diragukan lagi, karena China dan Rusia berkepentingan besar dengan minyak Iran. Kemampuan diplomasi Iran juga membuat negara yang secara ideologi jauh dengannya, Korea Utara, juga siap sedia membantu Iran jika diperlukan. Konon, Kim Jong-Un mengatakan, jika Iran mau dibantu, maka satu rudalnya sudah cukup untuk meratakan Israel.

Indonesia, Mana Tahan?

Negara kita Indonesia sesungguhnya beda tipis dengan Venezuela, mungkin lebih awal telah kehilangan wibawa di mata AS. Bukti kuatnya adalah sumber daya mineral Papua yang seenaknya saja digarong melalui PT. Freeport sejak puluhan tahun lalu. Kita pun tak berdaya menghadapi itu karena kita tidak memiliki beberapa syarat yang dimiliki oleh Iran. Kita hanya memiliki heroisme, tetapi heroisme tanpa kekuatan senjata, tanpa aliansi pertahanan, serta tanpa kekuatan diplomasi hanya akan dianggap kebisingan (noisy) saja.

Kekuatan senjata kita sangatlah lemah di semua matra; darat, laut dan udara. Kapal-kapal perang kita konon sering dikibuli oleh kapal-kapal pencari dan pencuri ikan Japang setiap malamnya. Pesawat tempur kita semua pabrikan negara-negara kuat yang memperdagangkan alutsista seri terlama-nya, tidak mungkin mereka menjual seri terbarunya. Kapal selam hanya beberapa buah, tidak mungkin bisa memantau kondisi bawah air dari Sabang sampai Marauke. Kapal-kapal perang kita semua kapal bekas yang dibeli dari luar. Jadi, alutsista kita hanya kuat untuk dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

ASEAN dan Gerakan Non-Blok juga bukan kekuatan senjata dan aliansi pertahanan. ASEAN hanya melakukan kerjasama ekonomi karena ditakdirkan hidup dalam satu kawasan. Kini bahkan mulai berselisih satu sama lain hanya karena urusan sempadan seperti Thailand dan Kamboja, jadi, beraninya hanya sesama tetangga sendiri. Kita juga tidak memiliki kemampuan diplomasi yang kuat, salah satunya karena penguasaan bahasa Inggris dan bahasa penting lain lemah, padahal untuk berdiplomasi, selain bahasa Inggris yang fasih juga menguasai bahasa-bahasa negara yang berpengaruh seperti bahasa Mandarin, Bahasa Prancis, Rusia dan sebagainya.

Sementara itu Gerakan Non-Blok yang kononnya kumpulan bangsa-bangsa yang cinta damai dan berupaya tidak memihak ke aliansi pertahanan tertentu, kini sudah tidak terdengar lagi gaungnya, juga karena faktor-faktor yang disebutkan di atas. GNB ini hanya mengandalkan kekuatan diplomasi tanpa ada kekuatan senjata untuk menekan atau meredam negara-negara kuat yang rentan melakukan invasi, aneksasi, bahkan agresi kepada negara lain yang berdaulat.

Dengan semua faktor dan kondisi yang tidak ditemukan di Indonesia, pada awal meletusnya perang Iran vs Amerika dan Israel, entah bagaimana di dalam negeri beredar rumor bahwa Presiden Prabowo akan tampil sebagai penengah; agar kedua pihak kembali ke meja perundingan. Pro dan kontra pun menyeruak di publik, ada yang memuji tetapi kebanyakan menunjukkan sinisme-nya. Mereka mengimbau Presiden untuk mengaca diri.

Bahkan mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla menyatakan bahwa untuk menjadi penengah yang dihormati Indonesia harus berada dalam wibawa yang setara dengan negara-negara yang berseteru itu, terutama dalam masalah ekonomi. “Bagaimana mau mendamaikan orang yang tidak setara? Kita saja dengan Amerika tidak setara”, demikian statement beliau (6 Maret 2026). Perdamaian bukan sekadar tidak ada letusan senjata, tapi ketiadaan dominasi. Jika Indonesia (atau Aceh) masih bergantung secara ekonomi dan teknologi pada pihak luar, mana mungkin didengar oleh negara-negara supremasi yang berperang itu.

Para Bellum, dari Aceh untuk Indonesia

Geopolitik dunia terus berubah karena yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Nasib Indonesia juga pasti berubah, tapi ke arah mana kuga sulit untuk dijelaskan. Dalam dunia yang volatil (serba berubah) ini, Indonesia, khususnya Aceh harus menarik lesson learn dari semua peristiwa geopolitik dunia, Aceh adalah provinsi “rasa negara”, Aceh pernah merasakan bagaimana menjadi sebuah negara berdaulat, bagaimana untuk bersikap resilien menghadapi berbagai upaya imperialisme bangsa-bangsa Eropa.

Dengan berbekal syari’at islam, Aceh seharusnya menjadi motor penggerak resiliansi bangsa Indonesia ini. Kondisi tanpa perang tetapi kedaulatan ternodai serta tidak punya harkat dan martabat dalam pergaulan dunia sudah saatnya disadari bangsa ini. Inspirasi dari Al-Qur’an, konsep pertahanan atau bela negara dan bangsa itu sering kali dibahas dalam konteks menjaga kedaulatan, keadilan, dan merespons penindasan. Islam mengajarkan bahwa perdamaian adalah prioritas, namun pertahanan diri diperbolehkan (bahkan diwajibkan) ketika menghadapi agresi. Singkatnya, kata Da’i kondang Zainuddin MZ, “musuh jangan dicari, ketemu jangan lari”.

Prinsip utama sebagaimana idealnya kitab suci adalah perdamaian adalah prioritas. Ini ditegaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 61. Adapun izin untuk membela diri karena teraniaya dinyatakan dalam Surah Al-Hajj ayat 39. Batasan dalam pertahanan diri adalah tidak melampaui batas, semacam qishash, perangi pihak yang memerangi sebagaimana mereka memerangi kita, ini dinyatakan oleh Surah Al-Baqarah ayat 190. Selanjutnya, desakan untuk kesiapsiagaan pertahanan strategis ditegaskan oleh Al-Anfal ayat Ayat 60. Ayat ini relevan dengan istilah alutsista dalam militer modern saat ini. Sedangkan anjuran perang untuk membebaskan bangsa yang tertindas dan lemah seperti halnya bangsa Palestina dinyatakan oleh An-Nisa’ Ayat 75.  “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak…”.

Banyak kesadaran bangsa ini dimulai dari Aceh, tidak mustahil pula dalam hal kesadaran betapa lemahnya kemampuan bangsa ini mempertahankan dirinya dari rongrongan bangsa lain yang menginginkan sumber daya manusianya. Mungkun hanya masalah waktu saja AS belum menginvasi Indonesia, atau tidak akan diinvasi dengan taruhan harga diri yang rendah.  Berbekal pengalaman perang, Aceh seharusnya menjadi industri dan riset persejataan dan alutsista. Di masa kesultanan, Aceh telah mampu membuat senjata-senjata berat seperti meriam. Mengapa pencapaian itu hilang ditelan masa?

Pada akhirnya, perdamaian bukanlah hadiah dari belas kasihan bangsa lain, melainkan upah dari kekuatan yang kita bangun sendiri. Ayat-ayat Tuhan telah memerintahkan kita untuk bersiap (I’dad), sejarah Aceh telah memberi kita nyali, sekarang tinggal satu pertanyaan: apakah kita ingin terus menjadi objek sejarah yang dikasihani, atau subjek yang disegani?

** Penulis adalah Widyaiswara BPSDM Aceh, Doktor Fiqh Modern UIN Ar-Raniry, Ketua Bidang Penelitan Forum Milenial Literasi Aceh

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *