Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Majid”. Dipahami Allah zat yang maha mulia, maha agung dan maha luhur kemuliaan-Nya. Puncak kemuliaan hanya milik Allah saja, sementara kemuliaan yang ada pada selain Allah bergantung pada seberapa intensif interaksi dan kebersamaan dengan Allah. Karena itulah semakin dekat hamba dengan Allah maka semakin mulia kita.
Kedekatan hamba dengan Allah terefleksi dengan ketakwaan. Ketakwaan inilah yang menjadikan seseorang hamba menjadi mulia. Hal ini sejalan dengan nukilan al-qur`an yang artinya: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mendengar (QS. Al Hujarat; 13).
“Sesungguhnya Dia maha terpuji lagi maha mulia (Al Majid) (QS. Hud; 73). Adapun hikmah meneladani al majid antara lain;
- Menjaga kehormatan diri dengan akhlak yang baik
- Menghormati dan memuliakan sesama
- Bersyukur atas kemuliaan yang Allah berikan dan tidak bersikap sombong
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa kemuliaan seseorang tergantung ketakwaan, bukan karena jenis kelamin, bukan karena suku bangsa, bukan karena daerah, bukan karna postur tubuh dan warna kulit. Akan tetapi semata-mata karena seberapa takwanya seorang hamba.
Kemuliaan Allah pada zat-Nya memamtul dalam kesempurnaan eksistensi-Nya sehingga tidak ada yang menyerupai apalagi menandingi-Nya. Kemulaan Allah pada sifat-Nya mewujud dalam seluruh puncak kebaikan adalah milik-Nya saja. Kemuliaan Allah pada af`al atau perbuatan-Nya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.
Sebagaiman firman Allah yang artinya; Para malaikat berkata; “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah ) rahmat Allah dan keberkahatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah maha terpuji lagi maha pemurah” (QS. Hud; 73).
Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah yang maha pengampun lagi maha pengasih, yang mempunyai ~Arsy, lagi maha mulia (QS. Al Buruj: 13-15).
Karena itulah cara terbaik dalam merefleksikan spirit al majid adalah sebagai berikut;
Pertama, mensyukuri al majid dengan hati dibuktikan dengan menyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, yang kemuliaan-Nya sempurna, tidak ada sedikitpun cela pada-Nya, baik dalam zat, sifat maupun af`al-Nya.
Kedua, mensyukuri al majid dengan memperbanyak ucapan alhamdulilllahirabbil `alamin dan memuji-Nya dengan asma-Nya agar Allah memuliakan kita, baik dalam pandangan manusia maupun pandangan Allah.
Ketiga, mensyukuri al majid dengan tindakan nyata seperti selalu berzikir pada-Nya, senantiasa mengukuhkan sikap dan berperilaku mulia serta memuliakan sesama makhluk. Tidak meremehkan dan merendahkan orang lain baik karna jabatan, kedudukan, pangkat dan sebagainya. Orang mulia akan jauh dari lisan yang tak terpuji, tidak bersikap kasar dan berperilaku yang tak pantas. Ingat diatas langit ada langit. Jangan mentang-mentang ada jabatan lalu bersikap diktator dan otoriter.
**Goresan pena Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketua DPD BKPRMI Banda Aceh, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh (FMLA)
