Sat. May 30th, 2026

Oleh Bung Syarif**

Sahabat yang super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Wadud”. Dipahami Allah zat mahaha mencintai, maha dicintai. Dengan cinta-Nya Allah menciptakan dan menghidupkan manusia serta menyediakan seluruh kebutuhan hidupnya. Dengan cinta-Nya, Allah menciptakan seluruh alam dan jagad raya sebagai sumber kehidupan.

Allah berfirman yang artinya; “Sesunguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkan kembali. Dan Dialah yang maha pengampun lagi maha mencintai hamba-hamba-Nya” (Qs. Buruj; 13-14).

“Sesungguhnya Tuhanku maha penyayang lagi maha pengasih (al wadud) (Qs. Hud; 90). Diantara fitrah manusia adalah memiliki rasa kasih sayang dan cinta, baik cinta kepada Allah maupun cinta selain Allah.

Cinta kepada selain Allah seperti cinta terhadap tahta, harta dan wanita idealnya dalam rangka mendekatkan diri hamba pada Rab-Nya. Apalagi kalau kita pahami cinta Rab pada hamba-hambanya sangat tinggi (besar) dan begitu nyata. Karna itulah dengan cinta-Nya, Allah menungu pertaubatan hamba-hamba-Nya seraya menyeru agar segera kembali ke jalan-Nya saja dan memohon ampun pada-Nya. Allah berfirman yang maknanya; Dan mohon ampunlah kepada Rabmu (Allah) kemudian bertaubatkah kepada-Nya, sesungguhnya Rabku maha mencintai hamba-hamba-Nya lagi maha pengasih (Qs. Hud; 90)

Al wadud menunjukkan bahwa Allah memiliki kasih sayang, cinta dan kelembutan yang sangat luas kepada hamba-hamba-Nya. Cinta Allah bukan hanya berua perasaan, tetapi diwujudkan dalam bentuk rahmat, ampunan, petunjuk dan berbagai nikmat yang diberika kepada makhluk-Nya.

Adapun makna dan himah al wadud antara lain;

  • Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, bertakwa dan berbuat kebaikan
  • Kasih sayang Allah selalu mendahului murkan-Nya
  • Allah mengampuni dan menerima taubat hamba yang kembali kepada-Nya
  • Seorang muslim dianjurkan meneladani sifat ini dengan menyebabkan kasih sayang, mencitai sesama dan menjaga hubungan baik dengan manusia.

Oleh karena itu, spirit terbaik dalam merefleksikan al wadud adalah sebagai berikut;

Pertama; bersyukur dengan hati, lisan maupun dengan perbuatannya. Kita menyakini sepenuh hati bahwa cinta-Nya Allah kepada hamba-hambanya jauh melampaui murka-Nya.

Kedua; mensyukuri al wadud dengan lisan dengan cara memperbanyak lafadz alhamdulillahirabbil `alamin, agar cinta Allah kepada kita bertambah dengan limpahan karunia-Nya dan cita kita kepada Allah juga bertambah dengan cara selalu taat atas perintah Allah dan bertakwa pada-Nya.

Ketiga; mensyukuri al wadud dengan tindakan nyata berupa selalu menyebut-Nya (berzikir), mengukuhkan cinta kita kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, membaca kalam cinta Ilahi dengan mengimplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari.

Keempat; mensyukuri al wadud dengan senantiasa mencintaa alam dan lingkungan, tidak merusak alam dan lingkungan untuk kebutuhan individual, berkasih sayang sesama makhluk ciptaan-Nya.

**Goresan Pena Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), Majelis Wilayah KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketua DPD BKPRMI Kota Banda Aceh, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *