Oleh Muhammad Yasir Yusuf (MYY)**
Tidak semua jalan yang kita impikan akan Allah bukakan. Ada anak-anak yang sudah belajar siang malam untuk masuk kampus impian, tetapi namanya tidak tercantum dalam pengumuman kelulusan. Ada yang telah mempersiapkan diri untuk perlombaan, pekerjaan, atau cita-cita tertentu, namun hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Pada titik itu, hati terasa sesak. Kecewa, sedih, bahkan merasa gagal sebagai manusia.
Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan bahwa gagal bukanlah kiamat kehidupan. Kegagalan hanyalah satu fase perjalanan, bukan akhir dari masa depan. Dalam hidup, Allah tidak hanya mendidik manusia melalui keberhasilan, tetapi juga melalui penundaan, kehilangan, dan kegagalan. Kadang pelajaran terbesar justru lahir bukan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi ketika kita belajar menerima apa yang belum Allah izinkan.
Sering kali manusia merasa bahwa impiannya adalah sesuatu yang terbaik baginya. Padahal pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah melihat seluruh perjalanan hidup kita.
Dulu, saya sendiri pernah bermimpin untuk menjadi ahli nuklir, tapi karena keinginan untuk membahagiakan orang tua, mimpi ini saya kubur karena ingin merajut mimpi dari orang tua. Dan Alhamdulillah kehidupan terus berjalan dalam ketenangan dan kebahagian.
Ya..Allah mengingatkan:“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan akan membawa kebaikan bagi hidup kita. Bisa jadi kampus yang tidak menerima kita hari ini justru menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak baik. Bisa jadi kegagalan hari ini sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih tepat, lebih matang, dan lebih berkah.
Karena itu, jangan pernah mengukur masa depan hanya dari satu pengumuman.
Hidup ini terlalu luas untuk disimpulkan hanya dari satu kegagalan.
Tugas seorang Muslim sebenarnya sederhana: memaksimalkan ikhtiar, menyempurnakan doa, lalu bertawakkal kepada Allah. Kita diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, bukan untuk memastikan hasil selalu sesuai keinginan kita.
Hasil adalah wilayah Allah. Sedangkan usaha adalah wilayah manusia.
Ada orang yang diterima lebih cepat. Ada yang dipersiapkan lebih lama. Ada yang jalannya lurus, ada yang harus berputar terlebih dahulu agar lebih kuat. Sebab Allah tidak sedang berlomba memenuhi keinginan manusia secepat mungkin, tetapi Allah sedang menyiapkan manusia menjadi pribadi yang tepat pada waktu yang tepat.
Maka jangan malu jika hari ini gagal. Nabi Yusuf pernah dimasukkan ke sumur dan penjara sebelum menjadi pemimpin besar Mesir. Nabi Musa pernah berada di titik ketidakjelasan hidup sebelum Allah mengangkatnya menjadi rasul. Banyak tokoh besar lahir dari perjalanan panjang yang penuh penolakan dan kegagalan.
Karena kegagalan sering kali bukan tanda bahwa kita tidak mampu, tetapi tanda bahwa kita sedang dilatih menjadi lebih matang.
Untuk murid-muridku yang hari ini belum lulus di kampus impian, belum berhasil di jalur PTN atau PTKIN yang diharapkan, jangan merasa hidup kalian selesai. Jangan meragukan nilai diri hanya karena satu hasil seleksi.
Kampus yang baik memang penting. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kalian bertumbuh menjadi manusia yang berilmu, beradab, dan memiliki integritas.
Teruslah belajar.
Hormati orang tua.
Jaga shalat.
Perbanyak doa.
Dan jangan kehilangan harapan kepada Allah.
Karena sejatinya, seorang Muslim tidak pernah benar-benar gagal selama ia masih mau bangkit, terus berikhtiar, dan tetap dekat dengan Allah.
**Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, Pakar Ekonomi Islam Aceh-Sumatera, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry
#Serial Keshalihan 2026
