Banda Aceh-Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Banda Aceh mengajak masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat Kota Banda Aceh menggunakan momen Pekan Olah Raga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut mematahkan persepsi Banda Aceh Kota Intoleransi di Indonesia.
Hal ini disampaikan Ketua FKUB Banda Aceh DR, H. Abd. Syukur, M.Ag saat menjadi Moderator dalam memimpin FGD Moderasi Beragama di Hotel Seventeen Banda Aceh pada 28 Agustus 2024 lalu. Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang berasal dari Kakan Kemenag Banda Aceh, H. Salman, M.Ag, Asisten I Setda Kota Banda Aceh Bachtiar, S.Sos, M.Si, Kaban Kesbangpol Banda Aceh Heru Triwijanarko, S.STP, M.Si
Ia mengatakan, Kota Banda Aceh pada tahun 2023 berdasarkan hasil penelitian Setara Institute terkait Indeks Kota Toleran (IKT) menempatkan urutan ke 3 Kota dengan skor toleransi rendah. Kota yang pertama skor toleransi rendah yaitu Kota Depok Jawa Barat, kedua, Kota Cilegon, Banten dan ketiga Kota Banda Aceh, Aceh.
Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan mengatakan penyebab Banda Aceh menjadi salah satu wilayah dengan Indeks Kota Toleran (IKT) di level bawah, karena ada regulasi yang salah dan tidak adanya birokrasi yang progresif, hingga terjadinya sistem sosial intoleran.
Ia menyebutkan juga, hal Ini yang kemudian terjadi diskriminasi terhadap kelompok minoritas, seperti agama, gender dan minoritas ras. Seharusnya pemerintah menjadi patron bagi masyarakat, tapi justru tidak berperan sebagaimana mestinya, hingga menjadi masalah yang mengakar dan terjadinya intoleran, sebut Haili ke beberapa media setahun yang lalu.
Berdasarkan hasil publis Indeks Kerukunan yang rendah Ketua FKUB Banda Aceh Abd Syukur mengajak seluruh masyarakat Kota Banda Aceh menggunakan momen PON XXI Aceh-Sumut memperbaiki nilai Indeks Kerukunan dan cap Kota Intoleran. Walaupun hasil penelitian Setara Institute menuai kritikan dari Muhammad Syarif, SHI, M.H Direktur Aceh Research Institue (ARI) yang menilai hasil publikasi Setara Institute dinilai ngawur dan salah metodelogi, ungkap Abdul Syukur.
“Saya mengajak kita semua, seluruh masyarakat Kota Banda Aceh agar berprilaku yang baik dan sopan terhadap tamu-tamu kita di PON XXI, sambutlah tamu-tamu kita yang berbeda daerah, suku, agama dengan senyuman dan keramah-tamahan seperti budaya kita orang Aceh “Peumulia Jamee” (muliakan tamu), saling menghargai, dan menghindari perpecahan, sehingga tamu-tamu kita yang datang ke Banda Aceh bisa melihat dan menilai langsung warga Banda Aceh yang sangat toleran dan ramah terhadap mereka, sehingga Kota Banda Aceh Kota Intoleran yang dicap selama ini, bisa kita hilangkan dengan sikap toleransi kita, mari kita gunakan momen PON XXI Aceh Sumut ini untuk memperbaikinya” Ajak Abd. Syukur Alumni Doktoral Ilmu Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Ia juga menyampaikan hasil yang diungkapkan oleh Tim Studi Tiru FKUB Kabupaten Badung Bali beberapa waktu yang lalu ke Banda Aceh, salah satunya seperti yang disampaikan oleh Kepala Badan Kesbangpol Badung Provinsi Bali Drs I Nyoman Suendi, ia menyebutkan, ketika tiba Banda Aceh masyarakatnya sangat ramah dan tidak sedikitpun kita lihat ada tanda-tanda Kota Banda Aceh Kota Intoleransi, seperti yang viral di media-media sosial, bahka mereka ingin berlama-lama tinggal di Kota Banda Aceh yang dijuluki Kota 1001 Warung Kopi. Ternyata faktanya Banda Aceh Kota yang ramah untuk semua, ungkap Nyoman Suendi. Masyarakat Kota sangat ramah dan sopan, ungkap Nyoman Suendi
Abd Syukur mengatakan, statemen tamu kita dari Bali Ini menunjukkan Kota Banda Aceh Kota toleransi, dan ini terbukti banyak tamu non muslim merasa nyaman ketika berkunjung ke Banda Aceh. Karna itu mari kita jadikan momentum PON Aceh-Sumut sebagai landasan pembuktian autentik Bahwa Banda Aceh Kota terbuka, ramah untuk semua, ungkap Abd Syukur Ketua FKUB Banda Aceh (Red)
