Mon. Jul 22nd, 2024

Oleh Bung Syarif*

Pesta demokrasi 2024 mestinya menjadi tahun politik yang riang gembira. Pileg, Pilpres dan Pilkada serentak. Ini adalah politik hukum pesta demokrasi yang melelahkan bagi penyelenggara Pemilu. KPU atawa KIP adalah wasit yang ideal dalam pesta demokrasi nantinya.

Dalam kontek nasional  manuver politik semakin sulit ditebak. Berbagai manuver politik dilakukan oleh elit parpol dalam memecah kosentrasi lawannya sebut saja ; koalisi perubahan, Koalisi Indonesia Hebat, Koalisi Indonesia Bersatu dan berbagai jargon koalisi lainnya yang akan di mainkan oleh elit politik nasional.

Dalam kontek Aceh juga menarik untuk dicermati. Berbagai Partai Politik baik lokal dan nasional sedang dan akan melakukan ancar-ancar politiknya. Ibarat mobil sedang memanaskan mesin mobilnya. Kalau seringkali mobil dipanasi, maka minyak mobil akan semakin cepat habis, yang pada akhirnya cuan akan membengkak sebelum sampai tujuan.

Disinilah butuh strategi jitu. Para “incumbent politik” tentu punya cara jitu dalam menyiram konstituen dengan percikan kain sarung, beras, minyak goreng dan berbagai kebutuhan lainnya untuk dipilih kembali, karna ada pemantik pokir sebagai amunisinya. Sementara pendatang baru, akan apoh-apah melawan incumbent dalam pertarungan pileg dan pilkada dalam konteks lokal.

Dalam pertarungan pemilihan anggota legislatif Provinsi, Kab/Kota di Aceh tentu kita tidak kepingin ada gerakan politik keris empu gandring. Termasuk juga dalam pertarungan Pilpres, Pileg DPD dan Pileg DPR-RI. Keris Empu gendring adalah senjata yang mematikan, yang awalnya hanyalah sebagai seni karya budaya dimasa kerajaan Singasari.

Ken Arok memesan keris kepada Empu (budayawan) Gandring, yang kemudian keris itu menikam sang empu gandring. Keris itu kemudian ditahbiskan sebagai panglima dirinya. Ken Arok membunuh raja berkuasa dengan keris empu gandring, Tunggul Ametung, kemudian Ken Arok dibunuh oleh Anusapati.

Tragedi Politik Keris Empu Gandring terus memakan banyak korban higga tujuh generasi. Sejatinya politik Keris Empu Gandring tidak boleh lagi terjadi di era reformasi ini. Sayangnya agak sulit memastikan Keris Empu Gandring tidak dipakai dalam pewayangan perpolitikan nusantara termasuk Perpolitikan Aceh. Hehe

Pakem Politik Keris Empu Gandring dalam model lain kini dimainkan seperti menyebar fitnah sesama lawan politik, politik curang (jahiliyah), saling sikut kiri kanan demi ambisi kekuasaan. Berbagai lakon jahat dan sejenisnya terus dimainkan diantaranya; menebar informasi hoax, hasutan dan sebagainya sehingga lawan poitiknya hapoh-hapah. Kita tidak ingin lagi ada berita caleg Nasdem di Aceh yang dimasukkan dalam goni tahun 2014. Caleg Golkar di Sragen dibunuh Tahun 2019, Caleg Nasdem dibunum di Wakatobi 2019, Caleg PNA dibunuh serta berbagai kekerasan lainnya. Saya menyebutnya dengan istilah Politik Keris Empu Gandring masih berpotensi muncul dalam pesta demokrasi 2024.  Berbagai pola dilakukan dengan mematikan langkah lawan yang dianggap potensial menang.

Gaya-gaya Politik Keris Empu Gandring model baru akan dimainkan demi meraih kekuasaan. Tahun 2024, pertarungan pilpres, pileg DPRI/DPD/ DPRA/DPRK akan semakin seru dipenghujung tahun 2023. Para Caleg di Aceh khususnya harus kuat spot jantung kalau tidak maka caleg akan mudah disetrom  “arus politik bertegangan tinggi”. Ada juga yang bilang Tahun 2024 tahun panas, ganas, sensitif terkadang menjadi lawak politik hingga kutukan politik.  

Saya kira semua orang punya tafsiran yang berbeda dengan fakta empiris seputar pesta demokrasi 2024 Pilpres dilevel nasional. Ada aroma saling menjegal kata pengamat politik, Khususnya di bumi Serambi Mekkah, kita berharap tidak ada upaya saling jegal-menjegal walau ada aroma tercium, seperti menjegal perpanjangan Pj Kepala Daerah baik level Provinsi maupun kabupaten/kota dengan berbagai alasan pembenaran. Ini semua sesungguhnya bagian dari gaya politik keris Empu Gandring telah dimainkan walau dengan model yang berbeda. Ada sinyal kuat terhembus untuk mematikan langkah Pj Gubernur Aceh oleh Anggota DPRA dengan mengirim satu sebagai usulan Penjabat Gubernurnya, padahal Kemendari meminta 3 usulan nama. Bahkan ada sinyal kuat di beberapa Kabupaten/Kota, Pj KDHnya tidak diperpanjang masa tugas. Bahkan saya mencium di level nasional akan ada bidikan politisi nasional yang juga Ketua Parpol berlatar berlakang Nahdiyin akan dibidik KPK, aroma ini tercium jika salah melangkah. Ini hanya ramalan berdasarkan analisis “stratak idiom” dan pirasat intelijen bagdad, hehe. Jangan dipercaya nanti bertambah rukun imannya. 

Semua Caleg di Aceh cakap damai harga mati, M o U Hensinky wajib di jaga dan dilanjutkan. Sementara poh seu meupok, intimidasi sesama caleg sulit dibendung. Semua caleg harus menjadi suri tauladan bagi konstituennya. Saatnya peutuah endatu di laksanakan. “damai harga mati, politik santun menjadi utama. Syariat Islam harus tegak dibumi Serambi Mekkah”. Stop segala bentuk kekerasan menjelang Pesta demokrasi 2024. Semoga Politik Keris Empu Gandring tidak terjadi di Bumi Serambi Mekkah. Takbir

*Penulis adalah Mantan Aktivis`98, Alumni Lemhannas Pemuda Angkatan I, Dosen FSH UIN Ar-Raniry, Fungsionaris KAHMI Aceh, Penggiat LBH, Pengiat Sosmed

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *