Mon. Jul 22nd, 2024

Oleh Bung Syarif*

Laki-laki paruh baya bernama Ahmad Murshidi, Lahir di Malaysia pada tanggal 1 Agustus 1995 adalah santri Nur Ar-Baraqah salah satu pondok pesantren di Malaysia. Sejak Tahun 2016  Ahmad Murshidi, yang lebih dikenal Murshid, mondok di Dayah Nidhamul Fata, Lamlagang Banda Aceh. Ia tertarik mondok di Dayah Nidhamul Fata bersama 5 orang santri lain asal Malaysia.

Ternyata tidak ada hambatan dalam menuntut ilmu agama di Aceh. Walau di sini pencarahan kitab lebih banyak berbahasa Aceh, ia dan kawan-kawannya tidak terkendala dalam menyerap Ilmu dari guru dayah. Menariknya ternyata Pondok Pesantren Nur Ar-Baraqah punya kebiasaan mengirim santrinya pada Dayah Cabang Ruhul Fata Selimun, karena sang guru ada hubungan harmonis dengan Abon Selimum kala itu. Tradisi ini masih berjalan hingga sekarang. Banyak santri yang berasal dari Malaysia mondok di Dayah Cabang Selimum, Aceh Besar. Baik yang berlocus di Banda Aceh maupun Aceh Besar.  Informasi ini kami dapatkan dari berbagai sumber yang mengelola Dayah cabang Ruhul Fata (Al-Fata).

Untuk Banda Aceh saya mendapatkan kurang lebih 20 santri asal Malaysia yang mendalami ilmu agama di Dayah Salafiyah (tradisional) sejak Tahun 2018 hingga akhir 2020. Sebagian besar Santri yang berasal dari Malaysia Modok di Dayah Madinatul Fata Gampong Lam Peuot, Kecamatan Banda Raya dan Dayah Nidhamul Fata, Gampong Lamlagang, Kecamatan Banda Raya.

Akan tetapi pasca pandemi covid melonjak di Tahun 2020, beberapa santri asal Mayasia pulang ke kampung halamannya. Kini hanya beberapa orang lagi yang masih mondok di dayah tradisional cabang seulimum. Itu artinya sejak lama tradisi belajar silang, telah dipraktekkan oleh para Mursyid, Pimpinan Dayah di Aceh. Akan tetapi minim pemberitaan. Ya, kita sangat apresiasi atas gerakan dakwah ulama Aceh yang diam-diam terus memperkuat networknya.

Kalau saya cermati tentu kedekatan hubungan antara pimpinan Pondok Pesantren Nur Ar-Baraqah, Malaysia dengan Dayah Tradisional di Aceh, khususnya cabang Ruhul Fata, Selimum tentu sangat harmonis. Hal ini terlihat sejak Tahun 2016 lebih dari 20 santri asal Malaysia tiap tahunnya mondok di Dayah Cabang Ruhul Fata, baik yang ada di Banda Aceh maupun di Aceh Besar.

Ikatan emosional ini telah berjalan sejak delapan tahun yang lalu, berdasarkan penuturan Tgk Munawar Khalil guru dayah Madinatul Fata. Andai saja ikatan emosional ini dirawat dengan baik, saya bayangkan suatu saat nanti akan ada pertukaran budaya, adat-istiadat bahkan perkawinan silang antar santri malaysia dengan santri Aceh yang berbeda kewarganegaraan. Ini akan berdampak baik bagi kemajuan dayah dan sumber pendapatan daerah. Coba banyangkan kalau setiap Tahun ada 20 orang santri berasal dari Malaysia yang mondok di Dayah Banda Aceh, lalu mereka berbelanja di Banda Aceh, menyampaikan informasi pada teman-temannya yang ada di Malaysia, ini juga menjadi iklan gratis dan berepek pada pertumbuhan wisata relegius, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan wisata religius.

Hubungan ini patut dipertahankan, jika perlu layak digagas komunitas santri dayah dunia, menyampaikan berbagai informasi seputar budaya akademik dayah salafiyah (tradisional) yang semakin mendapat lirikan santri luar negeri khususnya yang berasal dari negeri Jiran, Malaysia. Untuk itulah perlunya dayah di Aceh dan khusunya Banda Aceh menjalin ikatan emosional dengan Pondok Pesantren di Malaysia sehingga nantinya akan terwujud Ikatan santri mendunia. Pola ini harus dibangun sejak sekarang. Jika Dayah Nidhamul Fata dan Madinatul Fata sudah memulainya, maka Dayah yang lainnya boleh menjajakinya. Saatnya Alumni Dayah di Banda Aceh baik Terpadu/Moderen maupun Salafiyah (Tradisional) menjadi pemantik sekaligus dengan berani mengatakan saya bangga jadi santri dayah. Maka dari itu ayo mondok di Banda Aceh.

*Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh, Wali Santri Dayah Terpadu Inshafuddin, Mantan Aktivis`98

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *