Thu. Feb 22nd, 2024

Oleh Bung Syarif

Peci bisa diartikan juga sebagai kopiah atau songkok. Bicara soal sejarah peci, sebagian orang akan mengacu pada Fez, tutup kepala kaum nasionalis Turki atau petje dari bahasa Belanda, artinya topi kecil. Sementara nama kopiah, orang Islam Indonesia mengacu pada keffieh, kaffiyeh atau kufiya dari bahasa Arab. Artinya, tutup kepala juga, tetapi bentuknya tak seperti peci atau songkok.

Peci atau kopiah barangkali agak dekat dengan kepi dalam bahasa Perancis. Bentuk kepi yang biasa dipakai militer Perancis agak mirip dengan kopiah yang kita kenal di Indonesia. Bedanya lebih bulat dan ada semacam kanopi di bagian depannya yang mirip topi. Sementara, istilah songkok, mengacu dari bahasa melayu dan Bugis. Di beberapa daerah di Indonesia dengan pengaruh Melayu dan Bugis, menyebut peci sebagai Songkok. Demikian pula di Malaysia dan Brunei.

Sebelum ada peci, laki-laki di Indonesia terbiasa menutup kepala dengan ikat kepala. Tanpa tutup kepala, seorang laki-laki dianggap tak jauh beda dengan orang telanjang. Tutup kepala adalah bagian dari kesopanan.

Menurut Rozan Yunos, dalam artikelnya The Origin of the Songkok or Kopiah di The Brunei Times (23/09/2007), peci diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam. Rozan juga menyebut beberapa ahli berpendapat di Kepulauan Malaya peci atau kopiah ini sudah dipakai pada abad XIII. Setelah dipopulerkan para pedagang Arab itu, baru orang Malaysia, Indonesia dan Brunei mengikutinya.

Peci mulai ramai dipakai di Indonesia setelah kain lebih mudah diperoleh. Pemakainya tak selalu berbaju resmi. Ada yang menggunakan peci meski bercelana pendek. Penggunanya pun bukan hanya dari kalangan berada, tetapi juga rakyat jelata.


Zaman dahulu, ketika Raja Bone dijabat La Pawawoi lalu Andi Mappanyuki, Songkok Recca atau peci Bugis ini hanya dikenakan kain bangsawan. Sebuah foto zaman kolonial, memperlhatkan Raja La Pawawoi tengah mengenakan songkok ketika ditangkap pada 1905. Sementara lukisan diri Andi Mappanyuki pun memperlihatkan sosoknya tengah mengenakan songkok. Namun, dalam perkembangannya songkok tidak hanya digunakan oleh kalangan Raja Bone, tetapi juga rakyat biasa. Peci Bugis saat ini jadi bagian dari pakaian daerah Sulawesi Selatan.

Peci, biasanya terbuat dari kain beludru yang diberi rangka plastik padat agar tegak. Di Tanah Bugis, Peci tradisional mereka, terbuat dari pelepah daun lontar yang dipukul-pukul hingga menjadi serat, lalu dianyam. Peci ini disebut Songkok Recca. Ukurannya berbeda dengan peci yang dipakai secara nasional dalam forum resmi masa kini.


Di Indonesia peci nyaris identik dengan Islam. Banyak tokoh Islam berfoto dalam keadaan berpeci. Jamaah-jamaah tokoh Islam pun juga pakai peci. Seejak abad XIII peci sudah diperkenalkan kepada orang Islam di Indonesia. Baru pada awal abad XX orang Islam di Indonesia beramai-ramai pakai peci. Dalam perjalanannya, peci dianggap sebagai identitas Islam.

Padahal peci kecil dipakai juga oleh rabi-rabi pemuka agama Yahudi dan juga pemuka agama Katolik. Peci agak besar seperti fez Turki dipakai juga oleh orang-orang Kristen ortodok di sekitar Timur Tengah. Bahkan jilbab juga dipakai wanita-wanita kristen ortodok.

Di Kampung Sawah, di mana orang-orang berkebudayaan Betawi beragama Kristen hidup, memakai peci bagi kaum laki-laki dan kerudung bagi perempuan adalah hal biasa. Perayaan Natal mereka kadang diisi dengan ondel-ondel juga. Mereka berusaha menunjukan Agama Kristen tidak membunuh budaya lokal. Itulah kenapa mereka masih berpeci juga.

Kassian Chepas, ‘Sang Pemula’ dalam Fotografi Indonesia, juga berpeci dalam sebuah foto dirinya yang dibuat tahun 1905. Kassian Chepas juga seorang kristen. Nama belakangnya, Chepas, adalah nama baptisnya. Chepas tentu bukan satu-satunya orang Kristen yang pakai peci.

Peci sedemikian lekat dengan Islam, padahal tidak demikian. Walikota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, peci hitam atau kopiah merupakan penutup kepala khas Indonesia dan tidak ada hubungannya dengan agama Islam.


Peci ikut mewarnai sejarah Indonesia. Banyak tokoh pergerakan nasional setelah tahun 1920an mengenakan peci. Muhammad Husni Thamrin, yang sejak 1927 terpilih sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat), menghadiri sidang dengan kepala tertutup peci. Kemungkinan, sejak kecil Thamrin sudah berpeci dan masih mempertahankan peci sebagai identitasnya hingga dia meninggal.

Soekarno yang besar dalam budaya Jawa tentu beda dengan Thamrin yang besar dalam budaya Betawi, meski dia Indo. Sedari kecil, Soekarno terbiasa dengan blangkon atau tutup kepala khas Jawa. Begitu pun Bapak Bangsa sekaligus Bapak kos Soekarno, Hadji Oemar Said Cokroaminoto. Dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015), Cokro sempat mempergunakan blangkon sebagai identitas yang diikuti banyak pengikutnya. Belakangan, baik Cokro maupun Soekarno pun berpeci. Blangkon mereka tinggalkan.

Sebagai Ketua umum Sarekat Islam (SI), kebiasaan Cokro tentu diikuti. Awalnya, SI hanya berkembang di Jawa saja. Belakangan, SI berkembang di wilayah di mana blangkon bukan tutup kepala lagi. Apalagi pengurus SI lain yang bernama Agus Salim pun orang Padang. Salim semasa muda juga kebarat-baratan.

Belakangan, foto-foto Agus Salim kebanyakan berpeci.

Setelah Indonesia merdeka, seorang pahlawan keturunan Belanda bernama Douwes Dekker pun pakai peci di masa tuanya. Ketika dia jadi menteri. Di masa lalu, dia tak berpeci. Peci tetap jadi tutup kepala yang umum.

Meski tak resmi, Peci sering dipakai sebagai anggota Tentara atau laskar. Mereka tak memiliki baret atau helm baja untuk menutup kepala. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang baru saja terbentuk pada 5 Oktober 1945, tak mampu sediakan baret dan helm baja. Jika ada yang memakai baret atau helm, itu seringkali hasil rampasan dari tentara musuh.

Tak ada baret, para pahlawan Indonesia tetap terlihat gagah. Panglima Besar, Letnan Jenderal Soedirman pun juga berpeci seperti Soekarno. Dalam acara resmi, Soedirman lebih sering berpeci. Belum ditemukan ada foto Soedirman pakai baret. Itu bukan sesuatu yang ketinggalan zaman untuk ditiru. Ketika memeriksa barisan dalam apel partai Gerindra, Prabowo pun berpeci ketika berkuda. Mirip Panglima Besar Soedirman.

Setelah tahun 1950, peci makin jarang digunakan anak muda. Tak seperti di tahun 1945. Hanya orang-orang tua atau tokoh masyarakat yang masih suka memakainya. Anak muda hanya berpeci ketika ke masjid atau ke acara keagamaan.

Hingga usia senjanya, Soekarno terus memakai peci hitamnya. Peci membuat Soekarno terlihat gagah dalam foto-foto yang banyak beredar meski tubuhnya mulai ringkih dan kepalanya membotak.

Barangkali sosok laki-laki Indonesia sejati adalah yang berpeci. Sosok Pitung yang diperankan Dicky Zulkarnaen dalam beberapa film tentang Pitung di tahun 1970an, digambarkan sebagai sosok pria berpakaian merah dan berpeci. Pakaian itu seperti tampilan jago-jago silat Betawi setelah Pitung terbunuh oleh Polisi kolonial di tahun 1893. Tentu saja, para pendekar anti kolonial pun belakangan juga berpeci. Sebut saja Soekarno, Agus Salim, Alimin, Cokroaminoto. Begitu juga tokoh betawi berdarah Inggris, Muhammad Husni Thamrin.

Filosofis Kupiah Meuketop

Peci Meuketup atawa Kupiah Aceh terbuat dari kain berwarna dasar merah dan kuning. Kain dirajut jadi satu, berbentuk lingkaran. Pinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman dikombinasikan warna hitam, hijau, merah dan kuning. Anyaman serupa terdapat di bagian tengah, yang dibatasi lingkaran kain hijau di atasnya dan kain hitam di bawah.

Pada lingkaran kepala bagian bawah, terdapat motif yang lebih dominan, berbentuk “lam” dalam huruf hijaiyah. Namun ada garis yang menyambung antara bagian bawah dan atas motif tersebut. Motif yang sama juga terdapat di lingkaran kepala bagian atas. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Di bagian paling atas, terdapat rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas, bertingkat tiga.

Warna yang dipakai memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan kepahlawanan, kuning berarti kerajaan atau negara, hijau menandakan agama, hitam berarti ketegasan atau ketetapan hati, sementara putih bermakna kesucian atau keikhlasan.

Secara keseluruhan, kupiah meukeutop terbagi empat bagian. Sama seperti pada warna, tiap bagian ini juga memiliki arti tersendiri. Bagian pertama bermakna hukum, bagian kedua, bermakna adat, bagian ketiga bermakna kanun dan bagian keempat bermakna reusam.

Bentuk dan motif kupiah meukeutop secara umum sama. Hanya warna kain songket untuk membalut lingkaran kupiah saja yang berbeda. Biasanya disesuaikan dengan warna songket pada pakaian.

“Kalau songket pakaian kuning, biasanya songket di kupiah juga kuning. Kalau hijau di pakaian, hijau di kupiah,” kata Nurdin.

Untuk memperindah, selain songket, kupiah meukeutop dihiasi pernak-pernik khas Aceh. “Kalau sekarang, ada yang menambahkan kalung di bagian depan. Itu hanya untuk memperindah saja,” ujarnya.

Kupiah meukeutop bagi masyarakat Aceh tak hanya bernilai dari segi adat, tapi juga penuh dengan nilai sejarah. Secara historis, kupiah meukeutop lebih diindentikkan dengan topi kebesaran yang sering dipakai Teuku Umar, pahlawan nasional asal Aceh.

Teuku Umar lahir di Meulaboh, tahun 1854. Ia gugur 11 Februari 1899, dalam satu pertempuran dengan pasukan Belanda di Meulaboh. Di lokasi tertembaknya Teuku Umar, di Pantai Batu Putih, Suak Ujong Kalak, dibangun satu tugu sebagai monumen sejarah di Aceh Barat. Tugu itu lebih dikenal dengan sebutan, Kupiah Meukeutop.

Saat tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004, monumen itu juga ikut terbawa air bah. Pada masa rekonstruksi Aceh pascabencana, tugu dibangun kembali dengan posisi agak ke darat. Lokasi tugu sebelumnya telah menjadi laut.

Tidak ada sumber sejarah pasti yang menjelaskan kapan atau siapa pertama kali yang memakai kupiah meukeutop. Jika dilihat dari foto-foto tokoh pahlawan asal Aceh, bukan Teuku Umar satu-satunya yang memakai kupiah. Panglima Polem (1845-1879), juga memakai hal serupa. Bahkan kupiah yang dipakai Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem, lebih menyerupai kupiah meukeutop yang ada saat ini. Baik dari bentuk maupun motifnya.

“Dari sumber-sumber bacaan yang ada, T.A Sakti tokoh budaya dan sejarah Aceh belum menemukan secara detail tentang kupiah meukeutop ini,.Bahkan menurutnya, Aceh memiliki pakaian resmi yang berlainan dengan yang selalu dipakai para pejabat dan tokoh-tokoh adat dalam acara resmi di Aceh selama ini. Kalau bahan pakaian adat yang digunakan sekarang; yang dipakai di kepala adalah kupiah meukeutob, sedangkan dalam “versi lain” adalah kupiah Aceh dan tangkulok Aceh berkasab. Hiasan yang diselipkan di pinggang juga bukan semata-mata rencong, tetapi boleh pula keris, siwah, badik dan rachuh.

“Rujukan saya adalah kitab “Tazkirah Thabaqat” salinan Teungku Di Mulek tahun 1270 H, yang naskah aslinya sudah ditulis pada zaman Sultan Mahmud Al-Qahar abad ke-16 Masehi,” paparnya. Naskah “Tazkirah Thabaqat,” telah selesai ia salin ke huruf latin, yang semula berhuruf Arab Melayu/Jawoe.

Ia yakin, pakaian Aceh versi ini dapat digunakan kembali saat ini untuk memperkaya variasi pakaian adat Aceh yang ada sekarang. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, pakaian ini dipakai saat seseorang hendak menghadap Sultan Aceh di Istana Darud Dunia. Baik orang Aceh maupun orang asing wajib memakai Pakaian Aceh ini jika hendak menghadap Sultan.

“Jika tak ada milik sendiri, seseorang boleh meminjam pada Balai Baitur Rijal atau Balai Darul Atsar yang berada di depan pintu gerbang istana,” terangnya.

Kitab “Tazkirah Thabaqat” ini tertulis dalam bahasa Melayu yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia sekarang. Salah satu kutipan dalam kitab tersebut tentang Pakaian Aceh adalah “dan demikian lagi Adat Kerajaan Sultan Aceh, yaitu apabila orang-orang yang masuk ke Dalam Darud Dunia: hendak menghadap Paduka Sri Baginda Sultan Aceh: walau siapapun sekalipun, yaitu orang Aceh sendiri, atau orang asing, maka tidak dibolehkan dia menghadap Sultan dengan memakai pakaian sendiri. Melainkan yang dibolehkan dia memakai pakaian sendiri ialah orang ‘Arab dan ‘Alim ulama, tetapi tidak dibolehkan memakai warna kuning dan warna hijau.

Sementara yang lain, waktu menghadap Sultan diwajibkan memakai pakaian Aceh. Di antaranya adalah Kupiah Aceh, Tengkuloek Aceh berkasab, baju Aceh berkasab, berkain selimpang dari kanan ke kiri memakainya berkasab, seluar berkasab, kain pinggang berkasab. Memakai rencong atau keris atau siwah atau badik atau rachuh yang berhulu suasa atau perak atau emas dan barang sebagainya, di depan sebelah kanan.

Meski latar belakang kemunculan kupiah meukeutop masih belum jelas, namun topi adat Aceh ini telah menjadi ikon budaya dan sejarah yang begitu melekat dengan masyarakat Aceh.

Saat ini kupiah meukeutop telah mampu menunjukkan kekhasan Aceh pada dunia. Bentuknya yang unik dan indah, membuat kupiah meukeutop ini sering dijadikan souvenir yang menarik. Kopiah Meukutop ini hampir dapat ditemukan di tiap kabupaten dan kota di Aceh, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang pakaian adatnya berbeda. Kini Peci Khas Aceh ini telah diproduksi dan dimodifikasi sesuai perkembangan zaman. Peci ini kian elegan dipakai untuk shalat dan momen resmi lainnya. Bahkan Qarni Store secara massif memproduksi peci khas Aceh ini dengan berbagai ukuran. Berbagai kalangan ikut terpikat dengan peci khas Aceh atawa Kupiah Meuketop, mulai dari Santri Dayah, Birokrat, Politisi hingga Kepala Daerah.

*Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *