Wed. Feb 28th, 2024

Oleh Novianza*

Dayah dikenal sebagai tempat bagi mereka yang ingin menimba ilmu agama. Selama 24 jam, mereka dibina oleh pengajar yang dikenal dengan istilah ustaz atau tengku. Umumnya, tempat santriwan dan santriwati belajar serta tinggal dibuat terpisah, baik untuk pada saat sekolah maupun saat tinggal diasrama.

Sedikit pelajar yang enggan mondok di Dayah disebabkan beberapa hal. Misalnya, tidak bisa bertemu orang tua, tidak boleh bermain ponsel, makanan yang kurang enak karena dimasak dalam jumlah banyak, dan tidak bisa keluar dari area Dayah sesuka hati.

Meski begitu, maraknya Pendidikan Dayah yang menjamur di tengah kota mengubah stigma di atas. Alhasil, tidak sedikit mereka sekolah di Pendidikan Dayah lantaran keinginan hati sendiri, bukan karena paksaan orang tua.

Sekarang ini Pendidikan dayah yang berada di Aceh terbagi menjadi beberapa kategori yaitu Dayah Salafi dan Dayah Modern/Terpadu. Kutipan dari website Darunnajah “Istilah pondok pesantren modern pertama kali di perkenalkan oleh Pondok Modern Gontor. Gontor berkonotasi pada nilai-nilai komodernan yang positif seperti disiplin, rapi, tepat waktu, kerja keras. Sedangkan, Pesanten Salafi merupakan bentuk asli dari lembaga pesantren. Sejak pertama kali didirikan oleh Wali Songo, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf”.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis sebagai salah satu pengajar dayah, setidaknya ada beberapa alasan logis mengapa anak-anak zaman sekarang harus bersekolah di Pendidikan dayah.

  1. 24 jam beraktivitas

Seperti yang sudah lumrah jika sudah belajar di dayah maka santri tersebut akan selalu melakukan aktivitasnya di pekarangan pesantren dan akan menjadi pelanggaran jika keluar dayah tanpa izin. Beraneka ragam kegiatan yang menjadi kewajiban santri shalat berjamaah, belajar pagi, belajar umum, belajar kitab, ektrakurikuler dan lainnya. Hal ini dilakukan oleh pihak dayah agar santri terlatih dan kuat pada saat terjun kemasyarakat nantinya saat sudah selesai pendidikan.

2.Menghindari pergaulan bebas

Sekarang ini sudah sepatutnya orang tua mengkhawatirkan dengan lingkungan buah hatinya, karena seringnya muncul berita negatif yang berdampak pada anak yang masih sekolah. Dari dasar itu orang tua melanjutkan pendidikan buah hatinya di dayah karena akan membatasi dan mengontrol area gerak.

Terkadang disebabkan kedua orang tuanya yang begitu sibuk dengan kerjaan mereka sehingga waktu untuk mengontrol anak akan sedikit, sehingga dayah menjadi salah satu solusi yang menjamin bagi mereka.

3.Membiasakan beribadah

Tujuan hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjahui segala larangan-Nya. Jika sudah di dayah para santri akan dibiasakan dengan memenuhi kewajiban mereka seperti shalat berjamaah, puasa dan belajar hal-hal yang berkaitan dengan ilmu agama dan umum. Awalnya memang mereka akan dipaksa untuk melakukannya, namun hal itu dilakukan agar nantinya santri terbiasa. Untuk membiasakan harus ada sedikit paksaan diawal-awal.

4. Pilihan ekskul yang bervariasi

Hampir seluruh dayah memiiki lahan yang luas dan mempunyai berbagai macam ektrakurikuler sehingga membuat santri bisa mengisi kekosogan waktunya dengan berkegiatan apa yang ia inginkan. Seperti olahraga, kesenian, pengembangan Informasi dan Teknologi (IT) dan juga literasi. Dengan adanya berbagai kegiatan ini diharapkan santri tidak merasa bosan saat mereka di dayah karena bisa menyalurkan hobi mereka didayah tanpa harus keluar area dayah

5. Gudang ilmu

Salah satu sumber ilmu agama yang mendalam yaitu di dayah, karena di dayah terdapat banyak ustad atau Tengku yang mereka sudah duluan belajar mengenai ilmu agama. Kebiasaanya teungku-teungku dayah memondok puluhan tahun bahkan ada juga yang menuntut ilmu ke luar negeri untuk bisa mencetak para santri yang berkualitas dan berilmu tinggi sehingga kemana pun ia berkegiatan atau bekerja nanti mereka sudah terbekali imu agama yang matang.

Dan sebenarnya masih banyak lagi alasan kenapa anak harus masuk pesantren. Insya Allah akan dibahas kembali di artikel penulis berikutnya, karena ini merupakan salah satu tugas dari pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dayah Kota Banda Aceh.

*Penulis adalah Guru Dayah Darul ‘Ulum Banda Aceh, Peserta Pelatihan Penulisan Ilmiah Santri dan Guru Dayah yang dilaksanakan oleh Disdik Dayah Banda Aceh, 15-17 Agustus 2022 di Hotel Kyriad Muraya Aceh

By fmla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *